CKG 2025 Ungkap Tren Kesehatan Mental Pelajar DIY: 5% Tunjukkan Gejala Kecemasan Ringan
Program CKG 2025 di DIY menemukan sekitar 5% pelajar menunjukkan kecemasan ringan. Dinkes menekankan pentingnya deteksi dini dan intervensi untuk mencegah gangguan mental lebih berat.

Program CKG 2025 Soroti Kondisi Kesehatan Mental Pelajar
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang bergulir pada 2025 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membawa temuan signifikan terkait kondisi kesehatan mental pelajar. Sekitar 5 persen pelajar yang mengikuti program ini menunjukkan kecenderungan mengalami gangguan kecemasan ringan.
Mayoritas Peserta CKG dalam Kondisi Sehat
Kepala Dinkes DIY, Gregorius Anung Trihadi, menjelaskan bahwa secara umum hasil CKG anak sekolah tahun 2025 menunjukkan mayoritas peserta berada dalam kondisi normal. Namun, temuan ini tetap memerlukan perhatian khusus dalam upaya deteksi dini masalah kesehatan mental pada peserta didik.
Baca Juga: Peringatan Maulid Nabi di Bekasi Jadi Momen Para Pemimpin elected Ajak Warga Bangun Fondasi Moral
"Sebagian besar hasilnya itu normal, tetapi ada kecenderungan untuk mengalami gangguan mental ringan, termasuk potensi depresi ringan," terang Anung saat ditemui di Kompleks Kantor Gubernur DIY, Jumat (3/7).
Fokus pada Jenjang SMP dan SMA
Menurut Anung, kecenderungan gangguan mental ringan tersebut lebih banyak ditemukan pada pelajar jenjang SMP dan SMA yang telah mengikuti CKG. Gejala kecemasan mulai terlihat pada fase usia tersebut.
"Rata-rata di anak SMP dan SMA sudah memulai terlihat kecemasan. Mungkin sekitar 5 persen dari hasil CKG itu sudah mulai menunjukkan kecemasan ringan atau potensi depresi ringan," tambah Anung.
Cakupan CKG Baru Capai 11 Persen
Anung menegaskan bahwa angka 5 persen tersebut bukan menggambarkan kondisi seluruh pelajar di DIY, melainkan hanya berasal dari peserta yang telah mengikuti CKG. Hingga saat ini, cakupan pelaksanaan CKG di DIY baru mencapai sekitar 11 persen dari total sasaran.
Pentingnya Intervensi Dini
Deteksi dini terhadap gangguan mental ringan sangat penting dilakukan agar pelajar dapat segera memperoleh pendampingan yang tepat. Dukungan dari sekolah, lingkungan, serta akses terhadap layanan yang sesuai dapat membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.
"Kalau diintervensi lebih dini dengan pendampingan yang baik dan kegiatan positif di sekolah, itu pasti bisa membantu. Termasuk di dalamnya jika ada masalah, ke mana harus mengakses dan sebagainya," papar Anung.
Langkah Preventif untuk Kesehatan Mental Pelajar
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mendukung kesehatan mental pelajar:
- Memperkuat program kesehatan mental di lingkungan sekolah
- Meningkatkan akses terhadap konselor dan psikolog sekolah
- Membudayakan komunikasi terbuka tentang perasaan dan kesehatan mental
- Mendorong kegiatan positif yang mendukung kesejahteraan emosional
Temuan ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental pelajar memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemangku kepentingan di bidang kesehatan.