Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Cimahi Gagas Kemandirian Ekonomi Lewat Program Bertani Mandiri untuk Tekan Kemiskinan

Jabar · Oleh · · Diperbarui 25 Agustus 2026

Kota Cimahi siapkan Program Kampung Sosial berorientasi kemandirian ekonomi warga lewat konsep bertani mandiri dan wisata komunitas.

Cimahi Gagas Kemandirian Ekonomi Lewat Program Bertani Mandiri untuk Tekan Kemiskinan

Pendekatan Baru Atasi Kemiskinan di Kota Cimahi

Kota Cimahi, Jawa Barat, tengah menyiapkan strategi baru dalam menuntaskan masalah kemiskinan. Dinas Sosial setempat menggagas Program Kampung Sosial yang berfokus pada kemandirian ekonomi warga melalui konsep bertani mandiri dan ketahanan pangan.

Program ini diharapkan mampu menjadi solusi nyata bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada bantuan sosial. Dengan mengintegrasikan sektor pertanian, ekonomi kreatif, dan wisata komunitas, penanganan kemiskinan di Kota Cimahi diharapkan tidak lagi bersifat jangka pendek.

Baca Juga: Kejari Purwakarta Tahan Tiga Tersangka Penyalagunaan Kredit Bank BUMN Senilai Rp 3,4 Miliar

Kolaborasi Lima Elemen Masyarakat

Kepala Dinas Sosial Kota Cimahi Totong Solehudin menjelaskan, program ini menggunakan pendekatan pentahelix yang melibatkan lima unsur utama:

"Program Kampung Sosial merupakan inovasi pembangunan sosial yang mengintegrasikan aspek kesejahteraan sosial, ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pengembangan destinasi wisata berbasis potensi lokal," jelas Totong Solehudin.

Pendekatan pentahelix ini dipadukan dengan konsep social engineering atau rekayasa sosial, yang bertujuan mengubah perilaku masyarakat secara berkelanjutan. Alih-alih sekadar memberikan bantuan, program ini dirancang untuk membangun kemandirian sejak akar rumput.

Baca Juga: Damkar Kuningan Evakuasi Ular Kobra 1 Meter dari Rumah Guru Ngaji

Dua Kelurahan Jadi Percontohan Awal

Sebagai tahap awal, Dinas Sosial menetapkan dua lokasi percontohan, yaitu:

Kedua wilayah ini dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan strategis, mulai dari potensi ketahanan pangan yang masih kuat, ketersediaan lahan, kesiapan masyarakat, hingga peluang pengembangan wisata komunitas yang menjanjikan.

Kota Cimahi memiliki populasi cukup besar dengan 598.604 penduduk yang tersebar dalam 198.791 keluarga. Data menunjukkan sebagian warga masih berada pada kelompok desil 1, yang menandakan mereka termasuk dalam kategori rumah tangga sangat miskin. Kondisi ini menjadi urgensi tersendiri bagi program pemberdayaan.

Sistem Pendanaan Berbasis Gotong Royong

Yang membedakan program ini dari inisiatif lainnya adalah model pendanaannya. Dinas Sosial memutuskan tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebagai sumber dana utama.

Sebagai gantinya, pelaksanaan program sepenuhnya bergantung pada semangat gotong royong yang melibatkan:

Model pendanaan ini dianggap mampu menciptakan rasa memiliki yang lebih kuat di kalangan warga, sekaligus memastikan keberlanjutan program dalam jangka panjang.

Komitmen Pemko untuk Skala Kota

Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudistira menegaskan, penanganan kemiskinan tidak bisa hanya bergantung pada bantuan sosial semata. Dibutuhkan pendekatan yang memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan.

"Kampung Sosial memiliki potensi untuk direplikasi di seluruh Kota Cimahi," tutur Adhitia Yudistira.

Pernyataan ini menunjukkan keseriusan Pemerintah Kota Cimahi dalam mengonsolidasikan sumber daya untuk memperluas jangkauan program.

Tahapan Menyusul Roadmap 2026–2027

Sebagai tindak lanjut, Dinas Sosial Kota Cimahi akan melakukan beberapa langkah strategis:

Aksi nyata dijadwalkan dimulai dengan kick off Program pada Agustus hingga November 2026. Selama masa transisi ini, seluruh persiapan akan difinalisasi agar implementasi dapat berjalan optimal.

Peluang dan Tantangan ke Depan

Program Kampung Sosial menjadi bukti bahwa penanganan kemiskinan memerlukan inovasi dan kolaborasi. Dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat dan memadukan berbagai sektor, Kota Cimahi menunjukkan langkah konkret menuju kemandirian ekonomi warganya.

Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada komitmen bersama, konsistensi pelaksanaan, serta dukungan seluruh masyarakat. Jika berjalan sesuai rencana, inisiatif ini bisa menjadi model baru bagi daerah lain dalam menangani masalah kemiskinan secara holistik dan berkelanjutan.