Cellica Nurrachadiana Sosialisasikan Program BKKBN di Karawang untuk Cegah Stunting dan Latih Ayah dalam Pengasuhan
Sosialisasi BKKBN di Karawang perkenalkan tiga program untuk keluarga: Genting cegah stunting, Si Daya untuk lansia, dan GATI libatkan ayah dalam pengasuhan

Kesibukan orang tua dalam pekerjaan sehari-hari sering membuat kebutuhan anak diabaikan. Kondisi ini yang coba ditangani melalui sosialisasi program Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau BKKBN di Desa Pancakarya, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, pada 6 Agustus 2026.
Anggota Komisi IX DPR RI Cellica Nurrachadiana atau yang akrab dipanggil Teh Celly menyebutkan bahwa perhatian terhadap tumbuh kembang anak perlu menjadi agenda bersama, termasuk di wilayah perkotaan.
"Anak membutuhkan perhatian, kasih sayang, pola makan yang baik, serta lingkungan yang bersih. Karena itu, mencegah stunting merupakan tanggung jawab bersama," katanya.
Baca Juga: Polisi Tangkap 12 Residivis Curanmor Sukabumi dari 6 Kelompok, 60 Motor Jadi Barang Bukti
Sosialisasi ini mengenalkan tiga program utama. Program pertama bernama Genting atau Gerakan Orang Tua Cegah Stunting. Program ini mendorong keterlibatan orang tua dalam pencegahan stunting melalui perhatian terhadap kesehatan, gizi, pola asuh, sanitasi, serta tumbuh kembang anak.
Stunting bukan hanya persoalan fisik anak, melainkan juga berkaitan dengan berbagai aspek perkembangan yang perlu dicegah sejak dini.
Program kedua adalah Si Daya atau Lansia Berdaya. Pendekatan ini mendorong masyarakat lanjut usia agar tetap sehat, aktif, produktif, mandiri, dan memiliki ruang untuk berkontribusi di tengah keluarga maupun lingkungan sosial.
Baca Juga: ASN Sekdis Dishub Sukabumi ditetapkan tersangka pencabulan dua siswi PKL
Program ketiga adalah GATI atau Gerakan Ayah Teladan Indonesia. Cellica menjelaskan bahwa pembangunan generasi masa depan membutuhkan kehadiran kedua orang tua. Ayah dan ibu memiliki peran yang saling melengkapi dalam memberikan kasih sayang, pendidikan, perlindungan, dan keteladanan.
Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat BKKBN, Wahyuniati, menegaskan bahwa pembangunan keluarga pada dasarnya berkaitan erat dengan perubahan perilaku. Pendekatan kepada masyarakat perlu dilakukan secara rasional sekaligus menyentuh aspek emosional dan kemanusiaan.
"Karena yang diurus adalah perilaku, maka pendekatan yang dilakukan tidak hanya rasional, tetapi membutuhkan pendekatan dari hati," katanya.
Delapan fungsi keluarga menjadi fokus penguatan dalam sosialisasi ini, meliputi fungsi agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan. Percepatan pelayanan dan edukasi terkait kedelapan fungsi itu membutuhkan keterlibatan tenaga lini lapangan seperti Penyuluh Keluarga Berencana dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana.
Di Jawa Barat, angka stunting masih menjadi perhatian. Provinsi ini termasuk salah satu daerah dengan prevalensi stunting tinggi di Indonesia. Kondisi ini menjadikan sosialisasi seperti di Karawang sebagai bagian dari upaya menurunkan angka tersebut.
Perubahan sosial dan perkembangan teknologi membawa banyak manfaat, namun penggunanya perlu disertai literasi dan pendampingan. Keluarga membutuhkan dukungan untuk menghadapi berbagai dinamika kehidupan, termasuk perubahan pola komunikasi dan tantangan dalam pengasuhan anak.
Sosialisasi ini merupakan hasil kolaborasi antara Kemendukbangga/BKKBN, Komisi IX DPR RI, dan pemerintah daerah. Tujuannya agar pembangunan keluarga semakin dekat dengan kebutuhan nyata di lapangan.