Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Bubur Harisah: Warisan Kuliner Ramadhan di Kampung Arab Panjunan Cirebon

Jabar · Oleh Nayla Putri · · Diperbarui 2 Maret 2026

Tradisi pembuatan dan pembagian bubur harisah warisan keluarga Bayasut di Kampung Arab Panjunan Cirebon selama Ramadhan, menjadi simbol solidaritas warga selama bulan suci

Bubur Harisah: Warisan Kuliner Ramadhan di Kampung Arab Panjunan Cirebon

Rumah tua di Jalan Pekarungan, Kelurahan Panjunan, Kota Cirebon, mungkin terlewatkan oleh banyak orang yang melintas. Cat dindingnya memudar seiring waktu, jendela kayu usang, dan pilar teras menyimpan jejak tahunan. Tapi saat memasuki bulan Ramadhan, rumah ini berubah menjadi pusat aktivitas hangat: setiap hari, seratus porsi bubur harisah disiapkan untuk dibagikan gratis sesaat sebelum azan magrib berkumandang.

Suasana Dapur yang Hangat Saat Hari Ramadhan

Pada Sabtu (21/2) siang pukul 14.23 WIB, suasana di ruangan rumah tersebut terasa sibuk namun tenang. Meja panjang berlapis taplak batik menempati sebagian ruangan, dengan beberapa kotak styrofoam disusun rapi di sepanjangnya. Uap tipis membumbung dari baskom biru besar yang berisi adonan bubur, dengan batang serai dan daun rempah menyembul di permukaan. Fatimah Bayasut (67) berdiri di samping meja, tangan bergerak cekatan dengan sendok plastik hijau, mengaduk adonan bubur dengan ritme teratur. Di salah satu dinding, potret pendiri yayasan keluarga tergantung rapi, seolah mengawasi kegiatan yang telah menjadi tradisi lintas generasi.

"Bubur harisah ini sudah ada sejak nenek moyang saya, yang diadakan setiap bulan Ramadhan," kata Fatimah dengan suara lembut, sambil terus menuangkan bubur ke dalam kotak styrofoam.

Proses Pembuatan Bubur Harisah yang Diwariskan Turun-Temurun

Fatimah bersama kakak laki-lakinya, Abdullah bin Muhammad bin Sahil, merupakan generasi ketiga yang menjaga warisan kuliner ini. Proses pembuatan bubur harisah dimulai pukul 10.00 WIB dan memakan waktu sekitar tiga jam. Langkah pertama, beras dan santan dimasukkan ke dalam panci besar, lalu direbus hingga kedua bahan menyatu. Api dijaga stabil agar adonan tidak pecah atau terlalu lengket di dasar panci. Setelah itu, daging kambing ditambahkan untuk menambah cita rasa gurih yang dalam. Kunci cita rasa khas bubur harisah terletak pada penggunaan rempah-rempah khas Timur Tengah, seperti kayu manis, cengkeh, kapulaga, jintan putih, lada, jahe, dan ketumbar. Semua rempah ditumbuk secara manual, kemudian dimasukkan satu per satu ke dalam panci tanpa takaran tertulis—semua racikan berdasarkan pengalaman yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Setelah matang, bubur didiamkan selama kurang lebih setengah jam agar suhu turun dan teksturnya semakin mantap, sebelum dimasukkan ke dalam kotak styrofoam untuk didistribusikan. Setiap hari, keluarga ini memproduksi sekitar 100 porsi bubur harisah, dimulai dari awal puasa hingga mendekati akhir bulan Ramadhan. Kuliner ini dibagikan secara gratis ke Masjid Asy-Syafi’i Bayasut dan warga sekitar Kampung Arab Panjunan, tepat sebelum waktu berbuka puasa. Seluruh biaya produksi berasal dari dana yayasan keluarga, sehingga tradisi ini berjalan tanpa mengandalkan sumbangan dari luar.

Sejarah Panjang Tradisi yang Berawal dari 1924

Istilah harisah sendiri konon memiliki arti "diam", mengacu pada kebiasaan warga yang berhenti sejenak dari aktivitas, berkumpul di masjid, dan menyantap bubur sebagai takjil. Di kawasan Panjunan, bubur ini juga dikenal sebagai bubur Bayasut, merujuk pada keluarga yang menjaga resep dan tradisinya. Tradisi pembuatan bubur harisah di rumah ini sudah berlangsung lebih dari seabad. Pada tahun 1924, Syekh Mohammad Islam Bayasut—saudagar keturunan Yaman yang tinggal di Panjunan—merintis kegiatan ini. Ia dikenal sebagai pedagang besar yang juga membangun Masjid Asy-Syafi’i, dan ingin memastikan para musafir yang singgah di masjidnya tidak lapar saat bulan suci Ramadhan. Dari momen tersebut, kelezatan bubur harisah mengakar dan menjadi salah satu tradisi unik yang dapat dijumpai di Kampung Arab Panjunan setiap tahun.

Kampung Arab Panjunan: Titik Temu Budaya Timur Tengah dan Jawa

Kampung Arab Panjunan sendiri adalah kawasan budaya unik di Kota Cirebon, yang telah menjadi titik temu antara pedagang Arab dari Yaman dan masyarakat pesisir Jawa sejak abad ke-15. Posisi Cirebon sebagai pelabuhan penting di pantai utara Jawa menarik para pedagang yang datang melalui jalur laut, membawa serta pengaruh budaya Timur Tengah. Interaksi sosial dan keagamaan antar komunitas berkembang pesat, dengan pengaruh Sunan Gunung Jati dan Kesultanan Cirebon yang membentuk jaringan keilmuan dan kekerabatan yang kokoh. Di kawasan ini, silsilah marga seperti Alaydrus hingga Alatas masih dijaga dengan baik, dan aktivitas ekonomi berjalan beriringan dengan kegiatan sosial dan keagamaan. Bubur harisah menjadi simbol bagaimana pengaruh Timur Tengah dapat berpadu harmonis dengan lidah lokal, sekat-sekat budaya yang tadinya ada semakin melebur seiring waktu. Selain itu, Kampung Arab Panjunan juga dikenal dengan rumah-rumah tua berarsitektur campuran, dengan halaman luas, langit-langit tinggi, dan ventilasi lebar yang dibangun oleh para pedagang Arab. Salah satu penanda sejarah penting di kawasan ini adalah Masjid Merah Panjunan, yang berdiri sejak abad ke-15. Masjid ini dikenal dengan dinding bata merah dan ornamen keramik Tiongkok yang menempel di sejumlah bagian, menjadi simbol akulturasi budaya Arab, Jawa, dan Tionghoa.

Potensi Wisata Budaya yang Sedang Dikembangkan

Pemerintah Kota Cirebon mulai memetakan ulang kekuatan wisatanya dengan menoleh ke akar sejarah dan kebudayaan lokal. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon telah merancang lima destinasi wisata budaya, yang bertumpu pada potensi lokal. Kepala Disbudpar Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, menyebut dua dari lima destinasi tersebut adalah Kampung Wisata Kacirebonan dan Kampung Arab Panjunan, yang telah dirancang sejak 2023. Konsepnya mengangkat kearifan lokal sebagai daya tarik utama. Di Kampung Wisata Kacirebonan, pengunjung dapat menyusuri jejak keraton, menyimak tradisi kesultanan, dan melihat bagaimana nilai-nilai budaya diwariskan dalam keseharian warga. Sementara di Kampung Arab Panjunan, wisatawan diajak mengenali potret akulturasi budaya Arab, Jawa, dan Tionghoa yang telah berabad-abad membentuk wajah kawasan tersebut. Agus menambahkan bahwa kedua kampung wisata tersebut masih memerlukan penataan lanjutan, seperti perbaikan akses, papan informasi, dan pengemasan atraksi budaya, agar kunjungan wisatawan lebih nyaman dan terarah. "Sudah bisa dikunjungi, tetapi tetap ada pembenahan supaya pengalaman wisatawan semakin maksimal," katanya. Kehadiran destinasi wisata budaya ini dapat memperluas spektrum pilihan wisata di Kota Cirebon, yang selama ini lebih identik dengan wisata kuliner. Tradisi pembuatan dan pembagian bubur harisah kini telah menjadi identitas budaya yang dikenalkan kepada wisatawan yang datang ke Kampung Arab Panjunan.

Dari rumah tua di Jalan Pekarungan, tradisi bubur harisah terus dijaga seperti amanah yang tak boleh terputus. Lebih dari sekadar hidangan takjil, bubur ini menjadi simbol solidaritas, akulturasi budaya, dan warisan sejarah yang telah menghiasi bulan Ramadhan di Kota Cirebon selama lebih dari seabad.