BPS: Inflasi Cirebon Maret 2026 Dipicu Listrik dan Pangan Utama
BPS Kota Cirebon mencatat inflasi tahunan Maret 2026 sebesar 3,54 persen, dipicu oleh tarif listrik dan komoditas pangan utama. Pemerintah daerah mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon, Jawa Barat, mengungkap laju inflasi tahunan wilayah ini mencapai 3,54 persen pada Maret 2026. Kenaikan tarif listrik dan sejumlah komoditas pangan utama menjadi pemicu utama inflasi di wilayah kota pesisir Jawa Barat tersebut.
Pengertian Inflasi dan Data Dasar
Untuk memahami konteks, inflasi year on year (yoy) adalah perbandingan harga barang dan jasa bulan ini dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Menurut BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kota Cirebon mencapai 109,38 pada Maret 2026, naik dibandingkan Maret 2025 yang tercatat di angka 105,64.
Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan (month to month/mtm) sebesar 0,68 persen, serta inflasi kumulatif sejak awal tahun (year to date/ytd) mencapai 1,03 persen. Kepala BPS Kota Cirebon Samiran menjelaskan bahwa inflasi tahunan ini terjadi karena adanya kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran rumah tangga yang menjadi tolok ukur kebutuhan sehari-hari.
Komponen Utama yang Mendorong Inflasi
Salah satu faktor terbesar dalam mendorong inflasi tahunan di Kota Cirebon adalah kenaikan tarif listrik, yang memberikan sumbangan sebesar 1,17 persen terhadap inflasi umum. Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan kontribusi signifikan dengan inflasi sebesar 4,37 persen dan andil 1,43 persen terhadap inflasi total.
Beberapa komoditas pangan yang menyumbang inflasi tahunan antara lain:
- Daging ayam ras (0,34 persen)
- Beras (0,29 persen)
- Jeruk (0,13 persen)
- Telur ayam ras (0,12 persen)
- Kangkung (0,09 persen)
- Daging sapi (0,06 persen)
Di sisi lain, BPS juga mencatat sejumlah komoditas yang mengalami deflasi (penurunan harga tahunan) antara lain:
- Bawang merah (-0,11 persen)
- Cabai merah (-0,07 persen)
- Bawang putih (-0,06 persen)
- Wortel (-0,03 persen)
- Buku pelajaran SMA (-0,01 persen)
"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi (yoy) pada Maret 2026 yakni tarif listrik, daging ayam ras, beras, jeruk, akademi/perguruan tinggi, telur ayam ras dan lainnya" kata Samiran dalam keterangan resmi di Cirebon, Rabu.
Upaya Pemerintah Daerah Menjaga Stabilitas Harga
Wali Kota Cirebon Effendi Edo menuturkan bahwa pemerintah daerah telah mengambil langkah proaktif untuk mencegah peningkatan inflasi lebih lanjut, terutama menjelang Lebaran 2026. Salah satu program yang digencarkan adalah Gerakan Pangan Murah (GPM), yang bertujuan untuk menjaga stok bahan pokok agar tidak terjadi kelangkaan yang dapat memicu inflasi.
Selain itu, pemerintah daerah juga telah menyelenggarakan program Operasi Pasar Bersubsidi (OPADI) pada 13 Maret 2026. Program ini memberikan 1.208 paket bahan pokok yang mendapatkan subsidi sebesar Rp56.700 per paket. Effendi Edo menegaskan bahwa tujuan utama program ini bukan hanya untuk menekan angka inflasi, tetapi juga untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
"Selain menekan angka inflasi, yang terpenting program tersebut membantu masyarakat," ujar dia.
Menurut Samiran, data inflasi yang diterbitkan BPS Kota Cirebon dapat menjadi acuan komprehensif bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan, terutama untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Dengan data ini, pemerintah dapat mengambil langkah yang tepat untuk mengatasi faktor-faktor yang menyebabkan inflasi dan melindungi kesejahteraan warga.