Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

BPBD Cimahi: 270 RW di Zona Merah Kekeringan 2026 Akibat El Nino

Jabar · Oleh Nayla Putri ·

BPBD Kota Cimahi mengungkap 270 RW dari total 312 RW masuk zona merah kekeringan akibat El Nino, beserta langkah antisipasi dan risiko kebakaran lahan.

BPBD Cimahi: 270 RW di Zona Merah Kekeringan 2026 Akibat El Nino

Konteks Musim Kemarau 2026 di Cimahi

Musim kemarau 2026 di Jawa Barat diprediksi akan datang lebih cepat dengan curah hujan di bawah normal, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran lahan di sejumlah wilayah, termasuk Kota Cimahi akibat dampak El Nino.

Pemetaan Zona Rawan Kekeringan

Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi Fitriandy Kurniawan mengatakan pihaknya telah melakukan pemetaan wilayah rawan kekurangan air bersih berdasarkan pengalaman musim kemarau sebelumnya. Dari total 312 RW di 15 kelurahan di kota tersebut, sekitar 270 RW pernah melaporkan kesulitan mendapatkan air bersih, masuk ke dalam kategori zona merah kekeringan.

"Sudah kami petakan wilayah rawan. Dari total 312 RW di 15 kelurahan, sekitar 270 RW pernah melaporkan kekeringan atau kesulitan air bersih. Jadi tingkat kerawanan memang tinggi," ujar Fitriandy dalam keterangan pers di Cimahi, Kamis. Angka ini setara dengan lebih dari 86 persen dari total RW di Kota Cimahi, menandakan bahwa hampir seluruh wilayah kota berpotensi terdampak kekeringan musim ini.

Langkah Antisipasi Krisis Air Bersih

Untuk mengantisipasi potensi krisis air bersih, BPBD Kota Cimahi telah menyiapkan langkah penanganan cepat dengan menggandeng sejumlah instansi terkait. Fitriandy menjelaskan bahwa setiap kali ada laporan kekurangan air bersih, timnya akan berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman serta Perumda Tirta Raharja untuk menyuplai air bersih ke wilayah yang terdampak. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa warga di wilayah rawan tetap mendapatkan akses air bersih selama musim kemarau.

Risiko Kebakaran Lahan dan Permukiman

Selain kekeringan, BPBD juga mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kebakaran di kawasan permukiman padat penduduk. Menurut Fitriandy, wilayah dengan tingkat kerawanan kebakaran lahan berada di kawasan selatan seperti Cireundeu serta wilayah utara di Cipageran dan sekitarnya. Ia menambahkan bahwa berdasarkan pengalaman sebelumnya, kejadian kebakaran lahan di kota ini didominasi oleh kebakaran alang-alang, yang mudah menyebar akibat angin kencang musim kemarau. Untuk menangani risiko kebakaran permukiman, BPBD terus berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Cimahi guna mempercepat penanganan jika terjadi insiden kebakaran. Tim pemadam kebakaran telah melakukan patroli rutin di kawasan rawan untuk mencegah dan menanggapi kebakaran secepat mungkin.

Pemantauan Berkelanjutan

Selain persiapan penanganan darurat, BPBD juga terus memantau perkembangan cuaca melalui koordinasi rutin dengan BMKG. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi terkini tentang perubahan cuaca yang dapat memengaruhi risiko bencana di Kota Cimahi, seperti peningkatan kecepatan angin atau suhu udara yang ekstrem.

Kesimpulan

Kondisi kerawanan bencana di Kota Cimahi ini menjadi peringatan bagi seluruh warga untuk tetap waspada dan mematuhi arahan dari instansi terkait selama musim kemarau 2026. Dengan persiapan yang matang dan koordinasi antar instansi, diharapkan dampak negatif dari bencana kekeringan dan kebakaran dapat diminimalkan sebesar mungkin, melindungi warga dan aset mereka dari kerugian yang tidak perlu.