Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Bojonggambir Tasikmalaya Hadapi Krisis Air Bersih, Ratusan Warga Berharap pada Sungai Cikaengan

Jabar · Oleh · · Diperbarui 16 Agustus 2026

Ratusan warga Bojonggambir Tasikmalaya alami krisis air bersih dampak kemarau panjang. Sumur mengering, mereka harus ambil air dari sungai.

Bojonggambir Tasikmalaya Hadapi Krisis Air Bersih, Ratusan Warga Berharap pada Sungai Cikaengan

Kemarau Berkepanjangan Picu Krisis Air Bersih di Tasikmalaya

Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Tasikmalaya selama tiga bulan terakhir telah memicu krisis air bersih yang serius. Kondisi ini besonders dirasakan warga di wilayah pedesaan yang selama ini mengandalkan sumber air tanah.

Ratusan Warga Bojonggambir Terpaksa Gunakan Air Sungai

Di tengah keterbatasan tersebut, ratusan warga di Bojonggambir kini mengandalkan aliran Sungai Cikaengan sebagai sumber air utama. Warga harus menempuh perjalanan kaki sejauh 1 kilometer setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Baca Juga: Ayah Rojak Kenang Perjuangan Menemani Putrinya Lomba Fashion Show sampai Jari Tertusuk Jarum Berdarah

"Air dari sungai sudah menjadi satu-satunya harapan kami. Kami harus membawa air pulang setiap hari, baik untuk memasak maupun minum," ucap Dadang (52), salah seorang warga.

Program Pamsimas Tidak Berfungsi

Kerusakan fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) memperparah situasi. Padahal, sebelumnya warga sempat mengandalkan sumur di SD Karyasari untuk kebutuhan memasak dan minum, namun sumber air tersebut kini telah mengering.

Baca Juga: Petugas Gagalkan ODGJ Mendekati Lucky Hakim Saat Upacara HUT RI di Alun-Alun Indramayu

Dampak Krisis Air pada Pendidikan dan Ekonomi

Krisis ini tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga sektor pendidikan. Siswa dan guru di tingkat TK, SD, hingga SMP di wilayah tersebut kini harus menunggu pasokan air yang ditarik secara manual dari Sungai Cikaengan karena fasilitas sanitasi di sekolah tidak lagi berfungsi optimal.

Selain harus menguras tenaga untuk mengambil air ke sungai, warga juga menghadapi beban ekonomi tambahan. Untuk kebutuhan konsumsi yang lebih hygienis, sebagian warga rela membeli air mineral botolan dengan harga sekitar Rp7.000 per botol.

Upaya dari Kepolisian Sektor Bojonggambir

Merespons situasi darurat ini, jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Bojonggambir mulai menyalurkan bantuan air bersih ke titik-titik terparah. Hingga saat ini, sedikitnya 4.000 liter air bersih telah didistribusikan untuk warga.

Wilayah yang menjadi prioritas distribusi meliputi:

Menurut Kepala Kepolisian Sektor Bojonggambir, Iptu Agus Sukmana, terdapat sekitar 900 Kepala Keluarga (KK) di dua desa tersebut yang mengalami dampak kekeringan paling parah.

Komitmen Bantuan Berkelanjutan

Polri berkomitmen melakukan pengiriman air secara berkala selama krisis air bersih masih berlangsung. Bantuan ini difokuskan untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga, terutama untuk memasak dan minum.

Potensi Krisis Lebih Luas ke Depan

Sungai Cikaengan sendiri saat ini digunakan warga untuk berbagai keperluan, mulai dari mandi, mencuci pakaian, hingga keperluan sanitasi lainnya. Penurunan debit air sungai menjadi kekhawatiran tersendiri jika kemarau terus berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.

Wilayah ini terletak di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut, menjadikan Sungai Cikaengan sebagai sumber air vital bagi ribuan warga di kedua wilayah.