Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Batari Hyang Janapati, Sang Ratu Galunggung yang Meletakkan Fondasi Peradaban Sunda

KBB · Oleh · · Diperbarui 16 Agustus 2026

Batari Hyang Janapati, Ratu Galunggung abad ke-12, bukti nyata perempuan Sunda telah lama mengisi peran strategis sebagai pemimpin, pendidik, dan diplomat.

Batari Hyang Janapati, Sang Ratu Galunggung yang Meletakkan Fondasi Peradaban Sunda

Mengenal Batari Hyang Janapati: Pemimpin Perempuan Sunda yang Mengukir Sejarah

Di tengah masyarakat yang sering kali memandang sebelah mata terhadap peran perempuan dalam memimpin, sejarah masyarakat Sunda hadir memberikan contoh nyata bahwa kemampuan dan kebijaksanaan tidak mengenal gender. Batari Hyang Janapati, Ratu Kerajaan Galunggung pada abad ke-12, merupakan sosok yang membuktikan bahwa perempuan Sunda telah lama mengemban peran strategis dalam pemerintahan, keagamaan, pendidikan, hingga diplomasi.

Keberadaannya menjadi bukti historis bahwa jauh sebelum konsep kesetaraan gender menjadi wacana global, masyarakat Sunda telah memberikan ruang yang luas bagi perempuan untuk berkembang dan berkontribusi nyata bagi bangsa.

Baca Juga: Sereh Tak Sekadar Bumbu Dapur, Warga Bandung Barat Bisa Manfaatkan Jadi Teh Sehat dengan Lima Khasiat Ini

Asal-Usul dan Kisah Kepemimpinan Sang Ratu

Batari Hyang Janapati memiliki nama asli Dewi Citrawati. Ia mengambil alih kepemimpinan Kerajaan Galunggung setelah suaminya, Resiguru Sukadarmawisesa, memutuskan untuk menempuh jalan hidup sebagai seorang resi. Keputusan sang suami ini tidak serta-merta membuat kerajaan kehilangan arah. Dengan kebijaksanaan yang dimiliki, Batari Hyang Janapati justru kerajaan menuju stabilitas dan kemajuan.

Sejak saat itu, ia memegang kendali penuh atas berbagai aspek pemerintahan. Mulai dari tata kelola kerajaan, pembinaan kehidupan keagamaan, pengembangan pendidikan, hingga pengamanan wilayah, semua berjalan di bawah kepemimpinannya.

Baca Juga: Seabad Pakaian Perempuan di Indonesia: Dari Batik sampai Jilbab, Siapa yang Tentukan?

Kedudukan Tinggi dalam Dunia Keagamaan

Menurut kajian filologi berjudul Batari Hyang Janapati dalam Perspektf Gender yang dikaji oleh Prof. Dr. Elis Suryani, gelar "Batari" yang disandangnya bukan sekadar atribut kebangsawanan. Melainkan, gelar tersebut merupakan penanda kedudukan tinggi dalam bidang keagamaan.

Batari Hyang Janapati dikenal sebagai Sang Sadu Jati, yaitu sosok guru yang memberikan tuntunan spiritual bagi masyarakat maupun kalangan bangsawan. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa perempuan pada masa tersebut dipercaya sepenuhnya sebagai sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

"Gelar Batari menunjukkan kedudukan perempuan Sunda dalam hierarki keagamaan, bukan sekadar gelar kehormatan," tulis Prof. Elis dalam kajiannya.

Membangun Tradisi Intelektual di Kabuyutan Galunggung

Selain peran religiusnya, Batari Hyang Janapati juga mengembangkan Kabuyutan Galunggung sebagai pusat pendidikan bagi para cantrik. Di tempat ini, mereka mempelajari pelbagai disiplin ilmu, mulai dari keagamaan hingga nilai-nilai kepemimpinan.

Dedikasinya dalam membangun tradisi intelektual menunjukkan bahwa ruang gerak perempuan masa itu tidak terbatas pada ranah domestik. Mereka berperan aktif dalam membangun peradaban, menciptakan generasi-generasi penerus yang terdidik dan berakhlak mulia.

Kepemimpinan Tegas dan Diplomasi Cerdas

Tidak hanya mahir dalam urusan pendidikan dan pemerintahan, Batari Hyang Janapati merupakan sosok panglima yang tangguh. Ia memimpin pembangunan benteng pertahanan Rumatak dan menyusun strategi militer untuk melindungi wilayahnya dari berbagai ancaman.

Namun, kepemimpinannya tidak serta-merta mengandalkan kekuatan fisik dan senjata. Justru, ia dikenal mahir dalam diplomasi. Salah satu bukti kehebatan diplomasinya adalah keberhasilannya mencapai kesepakatan pembagian wilayah antara Sunda dan Galuh dengan Prabu Langlangbumi melalui jalan musyawarah.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa Batari Hyang Janapati mengutamakan musyawarah dalam menyelesaikan konflik, sebuah nilai yang hingga kini masih dijunjung tinggi dalam budaya Sunda.

Warisan Nilai untuk Generasi Masa Kini

Kisah Batari Hyang Janapati memberikan gambaran komprehensif bahwa dalam tradisi Sunda, perempuan memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi sebagai pemimpin, pendidik, pemuka agama, maupun diplomat. Hal ini mencerminkan konsep keadilan yang memberikan kesempatan setara bagi setiap individu untuk mengabdi kepada masyarakat.

Warisan nilai dari Batari Hyang Janapati menjadi pengingat bagi masyarakat modern bahwa upaya membangun lingkungan yang saling menghargai dan tidak merendahkan perempuan sejatinya merupakan upaya untuk meneruskan nilai luhur para leluhur.

Dengan meneladani kebijaksanaan Sang Ratu, kita diingatkan bahwa menghormati peran perempuan adalah fondasi peradaban yang telah tertanam kuat dalam akar sejarah dan budaya Sunda sejak berabad-abad lalu.

Semoga kisahnya terus menginspirasi generasi mendatang untuk terus menghargai dan memberikan ruang yang layak bagi setiap individu, tanpa memandang gender.