Ayah dan Anak Tewas dalam Kecelakaan Maut di Pantura Indramayu, Sang Ibu: Saya Tidak Ikut karena Masih Sakit
Tragis, Warkidi (34) dan anak bungsunya Albara (3) tewas dalam kecelakaan maut di Pantura Indramayu saat antar tamu pernikahan. Sang ibu Nursela yang tidak ikut karena sakit, hanya bisa berduka di rumah duka bersama anak sulungnya yang selamat.

Tragis, Ayah dan Anak Terpaksa Mengikuti Rombongan Tamu Pernikahan
Perjalanan yang seharusnya menjadi momen kebersamaan sederhana berubah menjadi mimpi buruk bagi keluarga Nursela (32) di Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu. Minggu (12/7/2026), suami dan anaknya harus kehilangan nyawa dalam kecelakaan maut di Jalur Pantura.
Sang suami, Warkidi (34), menjadi sopir dalam kecelakaan tersebut. Ia sengaja berangkat untuk mengantarkan rombongan tamu pernikahan yang sebelumnya telah disewa oleh seorang warga bernama Sanerah (46).
Baca Juga: Kejari Purwakarta Tahan Tiga Tersangka Penyalagunaan Kredit Bank BUMN Senilai Rp 3,4 Miliar
"Mereka membuka jasa sewa mobil. Suami saya diminta mengantar tamu-tamu itu," cerita Nursela dengan suara lirih dan terbata-bata saat ditemui di rumah duka, Senin (13/7/2026).
"Saya tidak ikut, saya masih sakit habis diinfus, masih lemas," tutur Nursela.
Diachen, anak sulung mereka yang berusia 11 tahun, bertahan di bak belakang mobil pikap yang telah dimodifikasi bertingkat. Sementara Albara, si bungsu yang baru berusia 3 tahun, duduk manis di kursi depan dekat ayahnya.
Baca Juga: Damkar Kuningan Evakuasi Ular Kobra 1 Meter dari Rumah Guru Ngaji
Anak Minta Ikut, Endingnya Tragis
Nursela mengakui bahwa ada keraguan sebelum Albara akhirnya diizinkan masuk ke dalam mobil. Sang saudara yang lain bahkan telah melarang Albara untuk ikut karena khawatir mengganggu konsentrasi Warkidi saat berkendara.
"Tapi Albara terus menangis, akhirnya diizinkan," kenang Nursela dengan suara bergetar saat mengenang momen kebersataan terakhir antara ayah dan anaknya itu.
Tak ada yang menyangka, keputusan sederhana itu menjadi kebersamaan terakhir antara Warkidi dan Albara sebelum kecelakaan merenggut nyawa keduanya. Sanerah, penyewa mobil yang meminta bantuan Warkidi, juga menjadi salah satu korban yang meninggal dalam kecelakaan tersebut.
Anak Sulung Selamat, Sang Ibu Pingsan
Di tengah duka yang mendalam, ada secercah harapan. Anak sulung mereka, Taufik Hidayat (11), berhasil selamat dari kecelakaan maut itu. Warga yang setempat segera membawa Taufik ke klinik terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
Setelah diperiksa, dokter memperbolehkan Taufik pulang karena luka yang dideritanya hanya berupa luka lecet di kedua kakinya.
Nursela sendiri sempat pingsan setelah mendengar kabar duka tersebut. Saat sadarnya, Taufik sudah berada di sampingnya. Namun, tak lama kemudian ia harus menerima kenyataan pahit bahwa suami dan anak bungsunya telah tiada.
"Tangis pecah saat tahu dua orang yang paling dicintai telah berpulang," tutur Nursela dengan kesedihan mendalam.
Modifikasi Kendaraan dan Bahaya Penumpang Berlebihan
Kecelakaan ini menjadi sorotan publik atas bahaya modifikasi kendaraan untuk kebutuhan pernikahan. Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan:
- Mobil pikap yang dimodifikasi bertingkat sangat berbahaya karena tidak dirancang untuk mengangkut banyak penumpang
- Penumpang anak-anak harus mendapatkan pengawasan ekstra dan tidak diperbolehkan duduk di kursi depan saat berkendara jarak jauh
- Perlunya kesadaran masyarakat untuk tidak membebani kendaraan dengan muatan melebihi kapasitas
Imbauan untuk Masyarakat
Pihak berwenang setempat melalui meminta masyarakat agar selalu memastikan kelayakan kendaraan sebelum digunakan untuk mengangkut penumpang. Keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap perjalanan, terutama saat mengangkut tamu atau keluarga dalam jumlah banyak.
Bagi warga yang ingin menyewa kendaraan untuk keperluan pernikahan atau acara lainnya, pastikan sopir yang digunakan berpengalaman dan kendaraan dalam kondisi prima. Ketersediaan asuransi perjalanan juga sangat direkomendasikan sebagai bentuk antisipasi risiko.
Semoga keluarga Nursela dan seluruh korban kecelakaan ini mendapatkan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi duka yang begitu mendalam.