Analisis Okupansi Hotel Imlek 2026: Destinasi Wisata Ungguli Kota Besar
Okupansi hotel di destinasi wisata capai 80-90 persen saat Imlek 2026, ungguli kota besar berkat long weekend.

Fenomena Lonjakan Hunian Hotel saat Libur Imlek
Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada 16-17 Februari 2026 membawa angin segar bagi industri perhotelan Tanah Air. Libur panjang yang bertepatan dengan akhir pekan ini mendorong tingkat hunian hotel di berbagai destinasi wisata nasional mencapai angka mengesankan, yakni 80-90 persen.
Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, menegaskan bahwa tren positif ini terjadi secara merata di sejumlah kota tujuan wisata utama. Namun, fenomena menarik yang terjadi adalah perbedaan signifikan antara destinasi wisata dan kota besar dalam hal tingkat okupansi.
Pola Hunian: Destinasi Wisata vs Kota Besar
Menurut pengamatan PHRI, lonjakan okupansi hotel terjadi dominan di kawasan destinasi wisata, bukan di kota-kota besar. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan pola perjalanan masyarakat Indonesia saat memanfaatkan momen libur panjang.
"Bagus, ini bagus jadi seluruh destinasi wisata ya kita bicara bukan kota besar ya, kalau kota besar mah turun. Okupansi ini ya liburan panjang yang lainnya ya long weekend yang lainnya memang selalu lokasi destinasi itu menunjukkan okupansi yang bagus," ujar Hariyadi Sukamdani.
Sejumlah destinasi yang mencatat kinerja impresif selama periode libur mulai Sabtu (14/2) hingga Senin (16/2) antara lain:
- Bandung - Destinasi favorit wisatawan Jawa Barat
- Yogyakarta - Pusat budaya dan wisata sejarah
- Malang - Kota wisata dengan daya tarik alam
- Labuan Bajo - Destinasi premium di Nusa Tenggara Timur
- Bali - Pulau Dewata dengan magnet wisata internasional
Perbandingan dengan Periode Liburan Lain
Meskipun angka 80-90 persen tergolong tinggi, Hariyadi menyebutkan bahwa okupansi saat Imlek masih berada di bawah puncak yang biasanya terjadi pada musim libur Idulfitri. Lebarat tetap menjadi periode dengan tingkat hunian tertinggi sepanjang tahun bagi industri perhotelan Indonesia.
"Mungkin kisarannya antara 80-90 persen [okupansi] lah, yang peak yang tertinggi itu kalau Idul Fitri mas, Idul Fitri itu peak ya. Tapi kalau ini ya masih di bawahnya Idulfitri tapi secara umum merata sih cukup baik," jelas Hariyadi.
Faktor Long Weekend dan Perbandingan Tahun Lalu
Dibandingkan dengan perayaan Imlek tahun sebelumnya, tingkat okupansi tahun 2026 ini diprediksi mengalami peningkatan. Faktor kunci yang membedakan adalah bertepatannya hari libur Imlek dengan long weekend, sehingga memberikan kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk merencanakan perjalanan wisata.
"Ya secara umumnya agak hampir sama tahun lalu itu kalau saya nggak salah dia nggak nyambung ke long weekend kalau saya nggak salah ya, ini kan nyambung long weekend jadi memang mungkin agak sedikit lebih baik tergantung harinya kalau dia sesambung sama long weekend mungkin lebih baik," ungkap Hariyadi.
Durasi Menginap dan Preferensi Wisatawan
Dari sisi durasi menginap, data PHRI menunjukkan bahwa rata-rata tamu hotel memilih untuk menghabiskan waktu sekitar dua hari dua malam di destinasi wisata pilihan mereka. Angka ini memberikan gambaran tentang preferensi wisatawan domestik dalam memanfaatkan libur panjang.
Tingkat hunian juga dipengaruhi oleh faktor popularitas dan lokasi hotel. Properti akomodasi yang telah memiliki reputasi kuat dan strategis secara lokasi cenderung mencatat okupansi lebih tinggi dibandingkan rata-rata.
"Ada hotel yang sangat populer sih jadi emang yaudah lah pasti di tinggi tapi rata-ratanya seluruh destinasi seperti itu. Rata-rata sekitar 2 hari, 2 malam," tutur Hariyadi.
Implikasi bagi Industri Perhotelan
Fenomena okupansi hotel saat Imlek 2026 memberikan sejumlah pelajaran penting bagi pelaku industri perhotelan dan pariwisata Indonesia:
- Pentingnya positioning destinasi - Hotel yang berada di kawasan destinasi wisata memiliki keunggulan kompetitif
- Sensitivitas terhadap long weekend - Periode libur yang berdekatan dengan akhir pekan berpotensi meningkatkan okupansi
- Kebutuhan strategi promosi yang tepat - Memahami pola perjalanan wisatawan domestik
- Optimasi fasilitas untuk short stay - Mengingat tren menginap rata-rata dua hari dua malam
Tren ini juga menunjukkan bahwa pemulihan industri pariwisata nasional terus berlangsung dengan positif, didukung oleh antusiasme masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata domestik pada setiap momen libur yang tersedia.