Agus Flores Minta Kopi dan Rokok untuk Berbagi Cerita Sejarah Mataram Kuno
Tokoh akrab jajaran Polri, Agus Flores, membagikan penjelasan mendalam tentang sejarah Kerajaan Mataram Kuno saat mengunjungi Candi Borobudur, dengan syarat menyiapkan kopi dan rokok.

Pendahuluan: Kunjungan Agus Flores ke Candi Borobudur
Sabtu (7/3), Agus Flores menghadiri kunjungan ke Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, dan sempat berinteraksi dengan wartawan untuk membagikan penjelasan mendalam tentang sejarah Kerajaan Mataram Kuno. Namun, ia memberikan syarat unik sebelum mulai berbagi cerita.
Syarat Unik Agus Flores untuk Berbagi Sejarah
"Siapkan kopi dan rokok, baru saya ceritakan," ujarnya dengan gaya guyon khas, sebelum akhirnya membuka pembicaraan tanpa menunggu pesanan tersebut terpenuhi. Sosok yang dikenal dekat dengan jajaran pimpinan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) ini juga memiliki latar belakang keturunan Prabu Brawijaya, dengan pengalaman luas di berbagai aktivitas sosial dan kemasyarakatan.
Profil Agus Flores: Sosok Dekat Jajaran Polri
Agus Flores dikenal sebagai figur yang dekat dengan sejumlah pimpinan tinggi Polri, termasuk Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan mantan Menteri Dalam Negeri Agus Andrianto. Ia juga pendiri PW Fast Respon Nusantara, organisasi yang bertujuan untuk membantu meningkatkan citra positif Polri di masyarakat. Meskipun memiliki jalur yang tidak mudah, organisasi ini tetap beroperasi meskipun mendapat tantangan dari beberapa kelompok yang tidak menyukai pergerakannya.
Selain aktivitas di lingkungan kepolisian, Agus Flores juga dikenal sebagai pencinta alam dan budaya. Beberapa tahun lalu, ia menjadi figur yang membuat para pelaku penambangan ilegal di Magelang merasa terganggu, karena kehadirannya yang terus-menerus mengawasi kegiatan ilegal di daerah tersebut.
Momen Spiritual yang Menarik di Candi Borobudur
Saat mengunjungi Candi Borobudur, Agus Flores mengalami beberapa momen yang dianggap luar biasa oleh pengunjung dan pengurus candi. Salah satunya adalah ketika ia memegang Arca Kunto Bimo, di mana janggutnya secara bertahap berubah warna menjadi putih. Ia menanggapi pertanyaan tentang doa yang dibacanya dengan guyon: "Ada deh, Saya bawa guyon aja Leluhur disini, kan mereka kangen sama aku," sambil tersenyum.
Ia juga bisa berjalan mengelilingi Candi Borobudur tanpa merasa lelah, meskipun aktivitas ini biasanya membuat sebagian pengunjung capek. Banyak masyarakat sekitar candi yang merasa tenang dan nyaman saat berada di dekatnya, karena gaya bicara yang santai dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan semua lapisan masyarakat, termasuk mantan preman.
Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Menurut Agus Flores
Agus Flores kemudian membagikan penjelasan detail tentang sejarah Kerajaan Mataram Kuno, yang berdiri pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Ia menjelaskan bahwa kerajaan ini didirikan oleh Raja Sanjaya pada tahun 732 Masehi, sesuai dengan Prasasti Canggal—salah satu prasasti tertua di Jawa yang mencatat pendirian kerajaan berdasarkan ajaran Hindu. Raja Sanjaya digambarkan sebagai sosok setengah dewa dengan asal-usul yang tidak jelas, kemungkinan berasal dari Kerajaan Kutai, Taruma Negara, atau Sriwijaya.
Salah satu poin menarik yang dibagikannya adalah perselisihan antara Raja Sanjaya dan saudara kandungnya, Raja Balaputra Dewa. Ia membandingkan perselisihan mereka dengan kartun Tom and Jerry, sehingga ayah mereka memisahkan keduanya: Balaputra Dewa ditempatkan di wilayah Barat untuk mendirikan Kerajaan Sriwijaya, sedangkan Raja Sanjaya di wilayah Timur yang kemudian menjadi dasar Kerajaan Mataram Kuno.
Perselisihan juga terjadi antara dua wangsa utama di kerajaan, yaitu Wangsa Sanjaya (penganut Hindu) dan Wangsa Syailendra (penganut Buddha). Ketegangan ini berakhir dengan pernikahan politik antara Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya dan Pramodhawardhani dari Wangsa Syailendra sekitar tahun 832 Masehi. Pernikahan ini berhasil menyatukan kedua wangsa, mengakhiri ketegangan agama, dan menstabilkan Kerajaan Mataram Kuno, meskipun masih memicu konflik dengan Kerajaan Sriwijaya.
Agus Flores juga menyebutkan daftar raja yang memimpin Kerajaan Mataram Kuno selama masa kejayaannya, antara lain:
- Raja Sanjaya (717-760)
- Rakai Panangkaran (760-775)
- Rakai Panunggalan (775-800)
- Rakai Warak (812-833)
- Rakai Garung (832)
- Pramodhawardhani (833-856)
- Rakai Pikatan (838-855)
- Rakai Kayuwangi (855-885)
- Dan sejumlah raja lainnya hingga masa pemerintahan terakhir, Raja Dharmawangsa (985-1007)
Kerajaan Mataram Kuno mengalami puncak kejayaannya pada abad ke-9 Masehi, sebelum akhirnya runtuh ketika diserang oleh Kerajaan Sriwijaya. Raja terakhir Mataram Kuno, Raja Dharmawangsa, kemudian mengungsi ke Kerajaan Kahuripan untuk bergabung dengan anak mantunya, Raja Airlangga.
Pesan Akhir dan Kelucuan Pembicaraan
Sebelum mengakhiri pembicaraan, Agus Flores memberikan seloh lucu tentang episode selanjutnya dari cerita sejarah Mataram Kuno, yaitu kisah cinta putri Raja Dharmawangsa dan Raja Airlangga. Ia kembali mengingatkan agar para pendengar menyiapkan kopi dan rokok agar bisa mendapatkan cerita yang lebih seru di kesempatan berikutnya.