56.278 Warga Tasikmalaya Terjangkit ISPA Akibat Kemarau Panjang dan Polusi Udara
56.278 warga Tasikmalaya terjangkit ISPA sejak Januari-Oktober 2026. Kemarau panjang, polusi udara, dan karhutla jadi pemicu utama lonjakan pasien.

Saksi Mahpudin, seorang penjual gorengan di Pasar Cikurubuk, Tasikmalaya, tidak bisa berjualan seperti biasa sejak dua minggu lalu. Asap dari kebakaran lahan di dekat desanya membuat napasnya berat dan dadanya sesak. Ia akhirnya memilih tutup kios dan berobat ke puskesmas terdekat.
"Saya kira cuma flu biasa, ternyata susah banget napasnya," kata Saksi, menceritakan pengalamannya ketika tenaga kesehatan mendiagnosisnya mengidap ISPA.
Kasus Saksa bukan cerita berdiri sendiri. Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya mencatat 56.278 warga terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut sejak Januari hingga Oktober 2026. Angka ini melonjak drastis dibandingkan periode sebelumnya.
Musim kemarau panjang menjadi pemicu utama lonjakan pasien. Jalan di banyak kecamatan menjadi berdebu, udara panas, dan kualitas udara terus memburuk sepanjang hari. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya kebakaran hutan dan lahan yang mengeluarkan asap tebal ke permukiman warga.
"Jalan berdebu, gersang, polusi udara buruk, dan kondisi panas menyebabkan kasus ISPA meningkat," jelas Otong Kusmana, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya.
Gejala yang dikeluhkan pasien bervariasi. Selain batuk dan hidung tersumbat, banyak juga yang mengalami sulit bernapas, demam, bersin-bersin, hidung meler, suara serak, hingga kekambuhan asma. Kelompok usia yang terjangkit pun meluas, mulai dari balita, anak-anak, hingga remaja.
Baca Juga: Puskesmas Sukadami Canangkan Layanan Pemeriksaan Mata November 2026 untuk Warga Cikarang Selatan
Lonjakan kasus mulai terasa sangat tajam sejak minggu ke-35 tahun ini. Peningkatan layanan kesehatan di setiap puskesmas dan rumah sakit terjadi setiap hari tanpa henti. Dinas Kesehatan setempat terus memantau perkembangan ini mengingat kondisi cuaca yang belum menunjukkan tanda-tanda membaik.
Masyarakat diimbau untuk selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Warga yang mengalami gangguan pernapasan diminta segera datang ke fasilitas kesehatan atau puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
Lonjakan kasus ISPA di Tasikmalaya ini bukan pertama kalinya. Pada Juni 2026 lalu, kasus serupa juga melonjak hingga 14.951 warga terdampak akibat kemarau dan karhutla. Lonjakan kasus ISPA di Tasikmalaya terus terjadi sejak Juni.
Selain Tasikmalaya, cuaca ekstrem juga melanda kawasan wisata di Cianjur, seperti wilayah Puncak. Polisi Cianjur telah mengeluarkan imbauan bagi wisatawan yang akan melancong ke Puncak saat cuaca ekstrem.