Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

50 Kasus Suspek Campak di RSD Gunung Jati Cirebon Hingga April 2026

Jabar · Oleh Nayla Putri ·

RSD Gunung Jati Cirebon mencatat 50 kasus suspek campak Januari-April 2026, sebagian masuk via IGD dalam kondisi berat. Dua balita meninggal akibat komplikasi, keduanya tidak diimunisasi lengkap.

50 Kasus Suspek Campak di RSD Gunung Jati Cirebon Hingga April 2026

Latar Belakang dan Data Kasus

Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati Cirebon, Jawa Barat, telah mencatat sekitar 50 kasus suspek campak selama periode Januari hingga April 2026. Direktur Utama RSD Gunung Jati, Katibi, menjelaskan bahwa rumah sakit ini menjadi rujukan utama penanganan campak dari berbagai fasilitas kesehatan di Cirebon dan wilayah sekitarnya.

Jalur Masuk Pasien

Sebagian besar pasien campak yang dirawat di RSD Gunung Jati masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) dalam kondisi berat. Katibi menyatakan bahwa jumlah pasien yang datang via layanan rawat jalan relatif lebih kecil dibandingkan yang masuk melalui IGD. Ia membagikan data rinci per bulan:

Total kasus suspek campak yang dirujuk ke rumah sakit hingga April 2026 mencapai sekitar 50 orang.

Angka Sebenarnya di Masyarakat

Katibi menegaskan bahwa angka 50 kasus hanya mencerminkan pasien yang telah dirujuk ke rumah sakit, sehingga jumlah sebenarnya di masyarakat kemungkinan jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, pihak rumah sakit telah memperkuat layanan penanganan campak, baik dari sisi sumber daya manusia (SDM) maupun sarana prasarana, termasuk penyediaan ruang isolasi untuk mencegah penularan di lingkungan rumah sakit.

Komplikasi dan Kematian

Seorang dokter spesialis anak RSD Gunung Jati, dr Suci Saptyuni Permadi, mengatakan bahwa sebagian besar pasien yang dirawat sudah dalam kondisi berat dan disertai komplikasi serius. Ia menyebutkan beberapa komplikasi yang sering ditemukan pada pasien campak:

Menurutnya, komplikasi ini dapat memperburuk kondisi pasien secara signifikan. Suci menambahkan bahwa empat pasien harus dipindahkan ke ruang intensif karena kondisi yang gawat. Selain itu, dua balita dilaporkan meninggal dunia akibat campak setelah mengalami komplikasi berat, dengan kondisi pemberat yang signifikan.

Pencegahan Melalui Imunisasi

Suci menegaskan bahwa imunisasi menjadi langkah utama pencegahan untuk menekan risiko kasus berat dan melindungi anak dari komplikasi serius akibat infeksi virus campak. Ia menambahkan bahwa kedua balita yang meninggal tidak diimunisasi secara lengkap.

"Anak wajib diimunisasi sesuai jadwal, mulai usia sembilan bulan hingga kurang dari 15 tahun," ujarnya.

Analisis dan Implikasi

Kasus suspek campak di RSD Gunung Jati Cirebon ini menyoroti pentingnya meningkatkan akses imunisasi di wilayah Cirebon dan sekitarnya, terutama di kalangan anak-anak yang belum menerima vaksin campak. Selain itu, tingginya jumlah pasien yang masuk melalui IGD dalam kondisi berat menunjukkan bahwa banyak keluarga atau fasilitas kesehatan lain terlambat merujuk pasien, yang memperparah risiko komplikasi dan kematian. Peningkatan layanan dan ruang isolasi di RSD Gunung Jati diharapkan dapat menangani lonjakan kasus ini dan mencegah penularan lebih lanjut di lingkungan rumah sakit.