Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

4 Perusahaan Antrean IPO di BEI 2026: Segini Dana yang Sudah Terkumpul

Jabar · Oleh · · Diperbarui 26 Agustus 2026

BEI catat 4 perusahaan antrean IPO 2026 dengan total dana IPO Rp 2,16 triliun. Kondisi pasar kurang seringkai pengaruhi minat emiten melantai.

4 Perusahaan Antrean IPO di BEI 2026: Segini Dana yang Sudah Terkumpul

Pipeline IPO BEI 2026: Empat Perusahaan Siap Melantai di Tengah Kondisi Pasar Less Conducive

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat empat perusahaan tengah berada dalam pipeline atau antrean untuk melakukan Initial Public Offering (IPO) pada tahun 2026. Keempat perusahaan tersebut berasal dari berbagai sektor dengan skala aset yang beragam, mulai dari kategori kecil hingga besar.

Pipeline IPO tersebut terdiri dari dua perusahaan berskala kecil dengan aset di bawah Rp 50 miliar dan dua perusahaan berskala besar dengan aset di atas Rp 250 miliar. Dari segi sektoral, tercatat satu perusahaan dari sektor basic materials, satu dari sektor consumer non-cyclicals, dan dua dari sektor healthcare.

Baca Juga: Jayadi dari PAMDI Karawang Ajak Warga Dukung Penegakan Hukum Humanis pada Harlah KEJARI ke-81

"Hingga saat ini, terdapat 4 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," tulis keterangan resmi BEI per 17 Juli 2026.

Dana IPO Senilai Rp 2,16 Triliun Telah Dihimpun dari Tujuh Emiten

Meskipun kondisi pasar yang kurang optimal, sebanyak tujuh perusahaan telah berhasil melakukan IPO hingga pertengahan Juli 2026. Total dana yang berhasil dihimpun dari tujuh emiten tersebut mencapai Rp 2,16 triliun.

Baca Juga: Asep Saepul Ditangkap Usai 17 Hari Sembunyi di Rumah Guru Spiritual Sukabumi

Perolehan ini menunjukkan bahwa aktivitas IPO di Tanah Air masih tetap berjalan, meski diwarnai oleh ketidakpastian global yang mempengaruhi sentimen pasar. Para emiten yang sudah melantai memanfaatkan momentum pasar yang masih memungkinkan untuk menarik minat investor.

Pasar Obligasi: 114 Emisi Telah Terbit dengan Dana Rp 103,86 Triliun

Di lini obligasi, perforrma pasar surat utang korporasi Indonesia juga cukup positif. Sepanjang 2026, telah diterbitkan 114 emisi obligasi dari 62 penerbit dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 103,86 triliun.

Untuk pipeline obligasi, BEI mencatat masih ada 11 emisi dari 9 penerbit yang tengah dalam proses. Sebaran sektor dari 11 emisi tersebut meliputi:

Dominasi sektor energy dalam pipeline obligasi menunjukkan bahwa emiten di sektor energi masih aktif mencari pendanaan melalui pasar obligasi.

Right Issue: 15 Perusahaan Sudah Terbit, 1 Masih dalam Pipeline

Di lini penerbitan right issue atau penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu, BEI mencatat sudah ada 15 perusahaan yang melakukan penerbitan hingga 17 Juli 2026. Total dana yang berhasil dihimpun dari 15 penerbitan tersebut mencapai Rp 10,69 triliun.

Satu perusahaan tambahan dari sektor properties & real estate masih berada dalam pipeline untuk melakukan right issue tahun ini.

Target 1.100 Perusahaan Tercatat pada 2030

Mengenai target jangka panjang, BEI tetap mempertahankan optimisme untuk mencapai 1.100 perusahaan tercatat pada 2030. Target ambisius ini mempertimbangkan potensi pertumbuhan pasar modal Indonesia dalam menarik perusahaan-perusahaan baru untuk melantai di bursa.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan bahwa penyesuaian target tahunan akan terus dilakukan seiring perkembangan situasi pasar hingga 2030. Hal ini menunjukkan fleksibilitas BEI dalam merespons dinamika ekonomi global.

"Kami tetap optimis lebih dari 1.100 perusahaan akan tercatat pada 2030. Tetapi dari tahun ke tahun, target akan disesuaikan dengan kondisi pasar," jelas Jeffrey Hendrik dalam diskusi bersama media di Kantor BEI, Jakarta.

Kondisi Pasar 2026 dan Dampaknya terhadap Minat IPO

Jeffrey Hendrik mengakui bahwa kondisi pasar pada 2026 memang kurang kondusif. Banyak ketidakpastian yang timbul dari kondisi global saat ini, yang secara langsung mengurangi minat perusahaan-perusahaan untuk mencatatkan saham mereka di bursa.

Dalam menghadapi situasi ini, BEI telah memberlakukan aturan baru yang mewajibkan calon emiten memiliki track record profitability serta skor sehat sebelum melakukan IPO. Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan kualitas perusahaan yang melantai di bursa tetap terjaga.

Dengan demikian, meskipun volume IPO tahun ini mungkin tidak sepadat tahun sebelumnya, langkah kebijakan tersebut diharapkan dapat menjaga kualitas dan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.