Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

3.960 Warga Jabar di Timur Tengah: Laporkan Dampak Konflik ke Hotline

Jabar · Oleh Rizky Maulana ·

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan hotline khusus untuk 3.960 warganya di Timur Tengah, diminta melaporkan dampak konflik regional yang sedang berlangsung.

3.960 Warga Jabar di Timur Tengah: Laporkan Dampak Konflik ke Hotline

Konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran bagi pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait keselamatan 3.960 warganya yang berada di wilayah tersebut. Sebagai langkah proaktif, Pemprov Jabar telah membuka layanan pengaduan khusus untuk memantau dan menanggapi kondisi warga yang terkena dampak konflik regional.

Latar Belakang Konflik Regional

Konflik yang berkembang di Timur Tengah ini telah menimbulkan risiko signifikan bagi warga Indonesia yang bekerja, belajar, atau melakukan ibadah di berbagai negara di wilayah tersebut. Banyak pekerja migran Indonesia yang berada di daerah rawan konflik menghadapi ketidakpastian akan keselamatan diri, terutama ketika akses informasi terbatas dan komunikasi terganggu.

Data Jumlah Warga Jabar di Timur Tengah

Berdasarkan data dari Dinas Ketenagakerjaan Jawa Barat, sekitar 3.960 pekerja migran Indonesia dari provinsi ini sedang berada di Timur Tengah. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jabar, Adi Komar, menyatakan bahwa pihaknya terus memantau kondisi warga tersebut, meskipun sebagian besar status mereka belum diketahui secara pasti.

"Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Ketenagakerjaan Jawa Barat jumlah pekerja migran Indonesia kurang lebih ada 3.960 orang sebagai pekerja migran. Kami terus monitor ini bisa juga mengakses ke hotline Jabar untuk menyampaikan bagaimana kondisinya," ujar Adi pada Rabu (4/3/2026).

Langkah Pemprov untuk Menanggapi Konflik

Pemprov Jabar telah menyiapkan kanal pengaduan khusus agar warga yang berada di Timur Tengah bisa melaporkan kondisi mereka, terutama jika terkena dampak langsung dari konflik. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga mengimbau semua warga Jabar di wilayah tersebut, termasuk pekerja migran, pelajar, dan kelompok yang melakukan ibadah umrah, untuk segera menghubungi hotline jika mengalami kesulitan.

"Pak KDM concern (fokus) pada keselamatan warga Jawa Barat. Kami siapkan kanal aduan agar warga bisa menyampaikan kondisinya. Kami nanti akan tindaklanjuti dan koordinasikan ke instansi terkait, apabila ada aduan," kata Adi Komar.

"Bagi saudara-saudara asal Jawa Barat yang hari ini berada di Timur Tengah, jika menghadapi kesulitan, silakan segera hubungi hotline Jabar. Kami ingin memastikan keselamatan dan keamanan warga Jawa Barat di tengah konflik bersenjata yang terjadi," tambah Dedi Mulyadi.

Proses Pendataan dan Rencana Evakuasi

Selain membuka layanan pengaduan, Pemprov Jabar juga akan melakukan pendataan lebih rinci mengenai jumlah warga yang berada di Timur Tengah, termasuk informasi tambahan selain data awal dari Dinas Ketenagakerjaan. Adi Komar menegaskan bahwa kebijakan evakuasi massal saat ini masih menunggu arahan dari pemerintah pusat, yang juga akan menangani warga dari seluruh provinsi di Indonesia. "Untuk kebijakan evakuasi kami menunggu informasi teknisnya seperti apa, karena tidak hanya Jawa Barat, pemerintah pusat akan atensi juga untuk daerah-daerah lain, yang warganya ada di Timur Tengah," katanya.

Sebagai tahap awal, pihaknya akan mendata warga Jabar di Timur Tengah dan memastikan kondisi mereka secara rinci, sebelum mempertimbangkan langkah lebih lanjut. "Kami harap warga Jabar di Timur Tengah baik-baik saja dan bisa tetap berkoordinasi dengan kedutaan setempat dan keluarganya," tambah Adi.

Cara Menghubungi Hotline Khusus

Warga Jawa Barat yang berada di Timur Tengah, maupun keluarga mereka di Indonesia, bisa menghubungi hotline khusus untuk melaporkan kondisi:

Langkah ini diambil sebagai upaya awal untuk memastikan keselamatan warga Jabar di Timur Tengah, mengingat ketidakpastian kondisi akibat konflik regional. Pemprov juga berharap agar warga yang berada di wilayah tersebut tetap berkoordinasi dengan kedutaan Indonesia setempat dan keluarga di Indonesia untuk mendapatkan informasi terbaru.