Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

30 Difabel Bandung Peroleh Pelatihan Operator Jahit Sepatu, PNM Dorong Kemandirian Ekonomi

Jabar · Oleh · · Diperbarui 9 Agustus 2026

PNM dan Mandiri Taspen gelar Program Vokasi Disabilitas di Bandung, latih 30 difabel jadi Operator Jahit Sepatu untuk buka kesempatan kerja inklusif.

30 Difabel Bandung Peroleh Pelatihan Operator Jahit Sepatu, PNM Dorong Kemandirian Ekonomi

Tantangan Akses Kerja bagi Penyandang Disabilitas di Indonesia

Akses terhadap pekerjaan dan kemandirian ekonomi masih menjadi tantangan serius yang dihadapi penyandang disabilitas di Indonesia. Keterbatasan kesempatan pelatihan serta minimnya akses ke dunia kerja menjadi faktor utama rendahnya partisipasi kelompok ini dalam pasar tenaga kerja nasional.

Situasi ini mendorong berbagai pihak untuk mengembangkan program pemberdayaan yang lebih inklusif. Salah satu langkah konkret hadir melalui Program Vokasi Disabilitas yang digagas oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM) bekerja sama dengan Mandiri Taspen.

Baca Juga: Pavel Durov Dituntut Hukuman Seumur Hidup, Telegram Disangka Sarana Koordinasi Terorisme oleh FSB Rusia

Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas peserta sekaligus memperluas akses mereka terhadap peluang kerja yang lebih layak dan berkelanjutan.


Pelatihan Vokasi Berbasis Kebutuhan Industri

Sebanyak 30 peserta dari komunitas difabel di Bandung mengikuti pelatihan keterampilan menjahit dengan skema Operator Jahit Sepatu. Pelatihan ini difasilitasi oleh Ruang Amal Indonesia dan berlangsung selama lima hari.

Baca Juga: Police Story: Lockdown Angkat Kisah Inspektur Selamatkan Sandera di Klub Malam

Selama program, peserta mendapatkan pembekalan teknis yang disesuaikan dengan kebutuhan industri manufaktur sepatu. Materi yang diberikan mencakup:

Pembekalan ini diharapkan menjadi bekal nyata bagi peserta untuk memasuki dunia kerja, khususnya sektor manufaktur yang selama ini membutuhkan tenaga terampil.


Jalur Langsung ke Dunia Kerja

Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta berkesempatan mengikuti proses penempatan kerja pada perusahaan industri sepatu yang beroperasi di wilayah Bandung dan sekitarnya. Pendekatan ini diharapkan dapat memperbesar peluang peserta untuk memperoleh pekerjaan yang layak.

"Selama ini kami sering merasa kesempatan kerja itu terbatas. Melalui pelatihan ini, kami mendapatkan ilmu baru sekaligus kepercayaan diri bahwa kami juga mampu bekerja dan berkarya," tutur salah satu peserta Program Vokasi Disabilitas.


Membangun Kepercayaan Diri dan Kemandirian

Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga membangun rasa percaya diri peserta agar lebih siap menghadapi tantangan di dunia kerja. Aspek ini dianggap krusial mengingat banyak penyandang disabilitas yang menghadapi hambatan psikologis selain keterbatasan akses.

Direktur Utama PNM, Kindaris, menegaskan pentingnya pemberian akses yang tepat bagi setiap individu.

"Setiap orang memiliki potensi untuk berkembang apabila diberikan kesempatan dan akses yang tepat. Melalui program ini, kami berharap peserta tidak hanya memperoleh keterampilan, tetapi juga memiliki peluang yang lebih besar untuk mandiri, berkarya, dan meningkatkan kualitas hidupnya."


Kolaborasi untuk Pemberdayaan Inklusif

Selama ini PNM dikenal melalui berbagai program pendampingan bagi perempuan prasejahtera dan pelaku usaha ultra mikro. Kehadiran program vokasi ini memperluas cakupan pemberdayaan dengan menghadirkan pelatihan yang lebih inklusif bagi kelompok rentan.

Kolaborasi antara PNM dan Mandiri Taspen dilakukan dengan semangat menghadirkan program pemberdayaan yang tidak meninggalkan siapa pun. Dukungan terhadap penyandang disabilitas dinilai penting agar mereka dapat mengembangkan potensi yang dimiliki secara optimal.


Dampak Jangka Panjang bagi Peserta dan Keluarga

Program vokasi ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang, tidak hanya bagi peserta tetapi juga keluarga mereka. Dengan keterampilan yang dimiliki, peluang untuk memperoleh penghasilan dan meningkatkan kesejahteraan menjadi lebih terbuka.

Ke depan, inisiatif serupa diharapkan dapat terus diperluas agar semakin banyak penyandang disabilitas memperoleh akses pelatihan, pekerjaan, dan kesempatan untuk hidup lebih mandiri serta produktif di tengah masyarakat.

Upaya memperkecil kesenjangan akses kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas memerlukan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku industri, hingga komunitas sipil. Program seperti Vokasi Disabilitas menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi yang tepat dapat membuka peluang ekonomi yang lebih merata.