Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

3 Tahun Penurunan Skor Demokrasi Jabar, Kebebasan Pers Jadi Sorotan

Jabar · Oleh Rizky Maulana ·

Indeks Demokrasi Indonesia Provinsi Jawa Barat turun menjadi 80,86 poin pada 2025, penurunan selama tiga tahun berturut-turut. Faktor utama termasuk kebebasan pers dan akses informasi publik.

3 Tahun Penurunan Skor Demokrasi Jabar, Kebebasan Pers Jadi Sorotan

Bandung, 14 Mei 2026 – Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Provinsi Jawa Barat pada tahun 2025 tercatat sebesar 80,86 poin, mengalami penurunan sebesar 1,94 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Data ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, dalam keterangan resmi pada Kamis (14/5/2026).

Latar Belakang Tren Penurunan IDI Jawa Barat

Penurunan skor demokrasi di Jawa Barat bukanlah peristiwa baru. Menurut data BPS, tren penurunan telah berlangsung selama tiga tahun berturut-turut. Skor IDI Jabar sempat mencapai titik terendah pada 2021 sebesar 79,72 poin, sebelum meningkat menjadi 83,34 poin pada 2022. Namun sejak saat itu, skor terus menurun: 83,04 poin pada 2023, 82,80 poin pada 2024, dan turun lagi menjadi 80,86 poin pada 2025.

Meskipun mengalami penurunan, Margaretha menegaskan bahwa skor IDI Jabar masih berada dalam kategori baik, karena berada di atas 80 poin. Namun, ia menekankan bahwa fluktuasi skor menunjukkan bahwa demokrasi di Jawa Barat belum stabil dan rentan terhadap dinamika sosial dan politik.

"Jawa Barat memang telah mencapai kategori demokrasi yang baik, namun tantangan ke depan bukan sekadar mempertahankan angka, melainkan meningkatkan kualitas demokrasi agar lebih substantif. Di situlah kunci pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Margaretha.

Faktor yang Mempengaruhi Penurunan Skor IDI

Margaretha menjelaskan bahwa fluktuasi skor IDI dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain dinamika kebebasan sipil, kualitas partisipasi politik, kinerja lembaga demokrasi, penegakan hukum, serta peristiwa sosial dan politik selama periode pengukuran.

"Nilai IDI itu fluktuatif, itu artinya demokrasi kita belum sepenuhnya stabil. Bahkan kebijakan politik di tingkat pusat maupun daerah sangat kuat memengaruhi capaian demokrasi di Jawa Barat," katanya.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Barat, Wahyu Mijaya, mengkonfirmasi penurunan skor IDI Jabar pada 2025. Ia menambahkan bahwa posisi Jabar masih di atas rata-rata nasional yang mencapai 78,19 poin, sehingga tetap masuk kategori baik.

Wahyu mengungkapkan bahwa beberapa indikator spesifik yang menyebabkan penurunan skor, antara lain:

Indikator IDI yang Meningkat atau Tetap Stabil

Meskipun ada penurunan pada beberapa indikator, terdapat beberapa indikator yang menunjukkan kenaikan skor pada 2025 dibandingkan tahun 2024:

Selain itu, dua indikator tetap stabil pada skor 100:

Peran Data IDI dalam Pembangunan Daerah

Margaretha menekankan bahwa skor IDI bukan hanya sekadar angka, tetapi merupakan instrumen penting untuk mendorong tata kelola pemerintahan yang lebih baik melalui pendekatan berbasis data. Ia menambahkan bahwa data ini harus dimanfaatkan oleh seluruh pemangku kepentingan untuk membuat kebijakan yang berbasis bukti.

"IDI adalah fact-based information yang menjadi bagian dari upaya membangun budaya pengambilan kebijakan berbasis bukti. Ini harus dimanfaatkan oleh seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pembangunan demokrasi tidak hanya dilihat dari aspek kelembagaan, tetapi juga harus memperhatikan relasi sosial dalam masyarakat, sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.

"Demokrasi yang ideal ditandai dengan keseimbangan kekuasaan dan meningkatnya inklusivitas," katanya.

Kesimpulan

Penurunan skor demokrasi di Jawa Barat selama tiga tahun berturut-turut menunjukkan bahwa sistem demokrasi di daerah ini masih belum stabil. Meskipun masih dalam kategori baik, pemerintah daerah perlu mengatasi berbagai faktor yang menyebabkan penurunan, terutama kebebasan pers, akses informasi publik, dan perlindungan hak-hak sipil lainnya. Dengan memanfaatkan data IDI sebagai dasar kebijakan, diharapkan pembangunan demokrasi di Jawa Barat dapat meningkat menjadi lebih substantif dan inklusif.