Warga Tasikmalaya Bergantung pada Sumur Masjid Demi Memenuhi Kebutuhan Air Bersih
700 KK di Desa Kertanegla Tasikmalaya bergantung pada sumur masjid akibat kemarau panjang 3 bulan. Warga kritik respons BPBD yang dirasa kurang tanggap.

Krisis air bersih yang melanda Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, telah mendorong ratusan kepala keluarga untuk bergantung pada sumur masjid sebagai satu-satunya sumber air mereka. Situasi ini terjadi akibat musim kemarau panjang yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.
Kondisi Krisis Air di Dua Desa
Sebanyak 700 Kepala Keluarga (KK) di dua dusun yakni Cipari dan Cipakat, Desa Kertanegla, tengah menghadapi keterbatasan air bersih yang parah. Debit air sumur warga mengalami penurunan drastis sehingga mereka harus mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti memasak, minum, mandi, hingga keperluan rumah tangga lainnya.
Baca Juga: Sukabumi Catat Inflasi 2,47% per Juli 2026, Emas Perhiasan Sumbang Andil Terbesar
Camat Bojonggambir, Ucu Mulyana, menjelaskan bahwa kondisi kekeringan telah membuat banyak sumur warga mengering. Pihaknya telah mengirimkan laporan terkait warganya yang terdampak krisis air bersih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Sumur Masjid Menjadi Pilihan Utama
Akibat keterbatasan tersebut, warga tak punya pilihan selain memanfaatkan air sumur Masjid Al Ikhsan dan Al Kausar. Kedua masjid ini kini menjadi satu-satunya sumber air yang masih bisa diandalkan oleh masyarakat sekitar.
Baca Juga: Prabowo Ingin Laba Danantara Mengalir ke APBN, Bagaimana Modalnya
Setiap pagi, siang, hingga sore hari, warga antre untuk mengisi jerigen, galon, dan ember di kedua sumur masjid tersebut. Antrian panjang ini menjadi pemandangan sehari-hari yang menggambarkan betapa serius nya situasi krisis air yang mereka hadapi.
"Krisis air akan makin meluas kalau air sumur milik masjid terus dipakai kemungkinan akan menyusut. Kami tetap berharap agar BPBD dapat mendistribusikan air bersih," tutur Ucu Mulyana.
Dampak Ekonomi yang Mengkhawatirkan
Selain kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, krisis air bersih ini juga berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang lebih luas. Warga setempat khawatir kekeringan yang berkepanjangan akan menyebabkan kegagalan tanam pada lahan pertanian mereka.
Cucu Rasman (65), warga dari Dorf Cipakat, mengungkapkan kekhawatiran bahwa kondisi ini dapat mendorong kenaikan harga bahan pokok di daerah mereka. Jika musim kemarau panjang terus berlangsung tanpa intervensi serius, roda ekonomi warga yang sebagian besar bergantung pada sektor pertanian akan terganggu.
Kritik terhadap Respons Pemerintah
Warga menyoroti respons pemerintah daerah yang dirasa kurang cepat dalam menangani krisis ini. Menurut Cucu Rasman, seharusnya koordinasi antara pemerintah dan BPBD lebih aktif, bukan sekadar menunggu laporan dari lapangan.
"Kami meminta agar Bupati Tasikmalaya dapat mengunjungi warganya langsung dan membawa bantuan air bersih. Kebutuhan air sangat penting bagi kehidupan sehari-hari," harap Cucu Rasman.
Upaya dan Harapan Warga
Masjid Al Ikhsan dan Al Kausar saat ini telah menjadi pusat kehidupan masyarakat dalam menghadapi krisis air. Namun, ketergantungan terhadap dua sumber air ini dikhawatirkan tidak akan bertahan lama jika musim kemarau terus berkepanjangan.
Warga berharap adanya kehadiran langsung dari pemerintah daerah, tidak hanya melalui bantuan yang bersifat temporer tetapi juga penanganan jangka panjang untuk mengatasi krisis air bersih di wilayah mereka.