Warga Cugenang Pasang Pagar Bambu di Tebing Longsor 2022, Cegah Pengendara Buang Air di Saluran Air
Warga Cugenang, Cianjur, tiga hari lalu pemasangi pagar bambu di tebing sepanjang 50 meter yang longsor saat gempa 2022. Tujuannya menghentikan kebiasaan pengendara buang air besar di saluran air dan nongkrong di zona berbahaya.

Saluran air di bawah tebing Jalan Raya Puncak, Kecamatan Cugenang, Cianjur, tidak lagi bisa dipakai untuk membuang air besar. Warga sekitar sudah tiga hari terakhir memagari seluruh area tersebut dengan bambu.
Pagar itu membentang sepanjang tebing yang longsor saat gempa magnitudo 5,6 melanda Cianjur pada November 2022. Tebing sepanjang 50 meter itu menelan puluhan korban jiwa.
"Saluran air itu digunakan warga untuk mencuci," kata Camat Cugenang Ali Akbar, Minggu (11/10/2026). "Tapi malah banyak yang buang air besar di sana. Makanya warga geram dan akhirnya memagar lokasi tersebut dengan bambu."
Baca Juga: MH Tertangkap Usai Tembak Pazwa Pahaludin dengan Senapan Angin di Pertemuan Alumni Garut
Bambu yang digunakan warga ambil dari kebun-kebun mereka sendiri. Pagar itu sedikit menjorok ke badan jalan, sehingga kendaraan tidak lagi bisa berhenti di lokasi itu.
Sebelum dipagari, lokasi tersebut ramai didatangi pengendara yang melintas pada malam hari. Selain buang air besar di saluran air, mereka juga kerap beristirahat dan nongkrong di tebing yang pernah runtuh itu.
"Banyak yang nongkrong di sana. Padahal itu zona bahaya, pernah longsor saat gempa dan menelan banyak korban jiwa," kata Ali Akbar. "Makanya sekalian dipagarnya tidak hanya dari saluran air, tetapi hingga sepanjang tebing yang longsor supaya tidak ada lagi yang singgah dan nongkrong di lokasi berbahaya tersebut."
Baca Juga: Pria Palsukan Identitas jadi Anggota BNN dan Polisi di Garut, Bidpropam Pastikan Bukan Bagian Mereka
Puluhan warga di sekitar lokasi menjadi korban gempa Cianjur 2022. Kini mereka merasa hidupnya masih terus terganggu meski gempa sudah berlalu hampir empat tahun lalu.
Hasta [tautan internal ke artikel karhutla Majalengka] Wilayah Jawa Barat memang berulang kali menghadapi ancaman bencana alam. Selain gempa, kebakaran hutan dan lahan juga terjadi secara rutin, seperti 28 Karhutla Terjadi di Majalengka September 2026, 4.707 Warga Terdampak yang berdampak langsung pada ribuan warga.
Langkah warga memagari zona berbahaya ini belum mendapat响应 resmi dari pemerintah setempat. Until ada larangan tertulis, warga mengaku masih perlu jaga sendiri agar tidak ada lagi yang masuk ke area yang bisa runtuh sewaktu-waktu.