Sumedang Gencarkan Edukasi Mitigasi DBD Jelang Kemarau El Nino
Dinas Kesehatan Sumedang gencarkan edukasi mitigasi DBD jelang musim kemarau akibat El Nino, dengan data kasus DBD 2025 mencapai 1.446 kasus dan 5 kematian.

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, tidak tinggal diam menghadapi potensi peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) menjelang musim kemarau. Dinas Kesehatan (Dinkes) kabupaten ini kini menggencarkan kampanye edukasi mitigasi DBD, terutama dengan mempertimbangkan prediksi El Nino yang akan memicu kemarau panjang tahun ini.
Latar Belakang Risiko DBD di Musim Kemarau
Masa transisi antara musim hujan dan kemarau merupakan periode yang rentan terhadap penyebaran DBD. Kondisi kering mendorong masyarakat untuk menyimpan air dalam wadah dalam waktu lama, menciptakan lingkungan ideal bagi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti—vektor penyebab penyakit DBD.
Baca Juga: Polisi Majalengka Tangkap Produsen Tembakau Sintetis Rumahan, Sita 56,69 Gram Barang Bukti
Imbauan dari Kabid P2P Dinkes Sumedang
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumedang Surdi Surdiana menegaskan bahwa kewaspadaan masyarakat sangat penting untuk mencegah peningkatan kasus DBD. Ia mengutip prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang datangnya El Nino yang akan menyebabkan kemarau panjang di wilayah Indonesia, termasuk Sumedang.
"Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kita akan menghadapi El Nino yang memicu kemarau panjang. Karena itu, Pemkab saat ini bersiap mengantisipasi peningkatan beberapa penyakit, terutama DBD saat masa transisi," ujar Surdi.
Menurutnya, kebiasaan masyarakat menyimpan air dalam wadah untuk kebutuhan sehari-hari selama musim kemarau dapat meningkatkan risiko perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, yang menjadi penyebab utama penyebaran DBD.
Baca Juga: Polisi Bongkar Jejak Chat di HP, Kades Ciemias Terseret Kasus Sabu
Langkah Antisipasi yang Dilakukan
Untuk menekan risiko peningkatan kasus DBD selama musim kemarau, Dinkes Sumedang telah mengkoordinasikan dengan semua puskesmas di seluruh wilayah kabupaten untuk menjalankan langkah-langkah antisipasi. Selain itu, masyarakat diminta untuk konsisten menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), antara lain:
- Rutin membersihkan lingkungan sekitar rumah dari sampah dan benda yang dapat menampung air
- Menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi, jerigen, dan pot bunga, secara teratur
- Menjaga kebersihan diri pribadi dengan mandi teratur dan menggunakan kelambu
- Segera mencari pengobatan jika muncul gejala DBD, seperti demam tinggi, nyeri otot, atau ruam kulit
Surdi juga menekankan bahwa PHBS bukan hanya keharusan selama pandemi COVID-19, tetapi harus menjadi kebiasaan sehari-hari untuk mencegah penyebaran berbagai penyakit menular, termasuk DBD.
Data Kasus DBD Sumedang Tahun 2025
Seperti yang dilaporkan oleh Dinkes Sumedang, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 1.446 kasus DBD di wilayah kabupaten, dengan lima kasus kematian. Detail distribusi kasus dan kematian adalah sebagai berikut:
- Kasus kematian: 2 kasus di Puskesmas Cisempur, 2 kasus di Puskesmas Ujungjaya, dan 1 kasus di Puskesmas Darmaraja
- Wilayah dengan jumlah kasus tertinggi: Puskesmas Jatinangor (131 kasus), Puskesmas Ujungjaya (121 kasus), Puskesmas Tanjungsari (112 kasus), Puskesmas Cisempur (101 kasus), dan Puskesmas Cimalaka (89 kasus)
Analisis lebih lanjut oleh Dinkes Sumedang menunjukkan bahwa lonjakan kasus DBD tertinggi tahun 2025 terjadi pada bulan Januari, dengan total mencapai 209 kasus.
Dengan digencarkannya kampanye edukasi mitigasi DBD ini, Dinkes Sumedang berharap masyarakat dapat lebih aktif berperan dalam mencegah penyebaran penyakit ini. Upaya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat menekan angka kasus dan kematian akibat DBD selama musim kemarau tahun ini.