Psikolog Jelaskan Alasan Anak ABK di Sukabumi Ketagihan Hirup Aroma Bensin
Psikolog KPAI jelaskan alasan anak ABK di Sukabumi ketagihan hirup bensin. Perilaku ini masuk kategori adiksi sensori akibat fiksasi, regresi, atau keterbatasan IQ. Diperlukan penanganan bertahap.

Sukabumi, Jawa Barat kembali menjadi sorotan publik nasional setelah seorang anak berkebutuhan khusus (ABK) di wilayah Ciaul terekam dalam video viral di media sosial. Dalam video tersebut, anak yatim piatu itu tampak sering mendekati dan menghirup aroma dari sela-sela jok motor secara berulang. Tindakan yang tampak aneh itu pun akhirnya terjawab dari sisi medis dan psikologis.
Fakta di Balik Perilaku Tak Biasa Anak ABK
Berdasarkan penjelasan yang dihimpun, anak tersebut mengalami kecanduan menghirup aroma Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin yang menguap dari tanki motor. Perilaku ini bukan sekadar kebiasaan biasa, melainkan sudah masuk dalam kategori adiksi sensori yang memerlukan penanganan khusus.
Baca Juga: Remaja 15 dan 16 Tahun di Indramayu Jadi Tersangka Usai Todongkan Celurit ke Perempuan yang与自己 Motor
Psikolog dan Anggota Pokja Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dikdik Hardy, membenarkan kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa secara psikologis, kebiasaan mencari sensasi indrawi tertentu sebenarnya wajar terjadi pada fase pra-sekolah.
"Anak-anak pada usia tertentu memang sering mencari ketenangan melalui cara-cara tidak biasa. Misalnya, anak yang tidak bisa tidur tanpa memeluk boneka tertentu. Dalam kasus ini, objek yang dipilih adalah aroma bensin yang dihirup melalui sela-sela jok motor," terang Dikdik.
Mengapa Aroma Bensin Bisa Menenangkan?
Lebih lanjut, Dikdik menjelaskan bahwa perilaku apa pun yang dilakukan secara berulang dengan tujuan mendapatkan efek menenangkan dapat dikategorikan sebagai kecanduan. Secara biologis, tindakan tersebut memang memunculkan hormon dopamin yang memberikan sensasi menenangkan sementara.
Baca Juga: Dinas Sosial Depok Sebut 2.367 Anak Terlantar Terima Perlindungan Lewat Kerja Sama Panti
Normalnya, kebiasaan unik seperti mencari ketenangan melalui indera penciuman atau peraba akan hilang dengan sendirinya saat anak mulai masuk usia sekolah. Mereka biasanya mampu mengalihkan kebutuhan sensori tersebut ke hal-hal yang lebih normatif.
Namun, ada kalanya perilaku ini tidak desaparecenya justru bertahan hingga usia lebih besar. Menurut Dikdik, terdapat beberapa kemungkinan faktor klinis yang menjadi pemicunya:
- Fiksasi, yaitu terhentinya tahap perkembangan anak pada fase tertentu
- Regresi, yaitu kemunduran tahap perkembangan yang sudah dicapai sebelumnya
- Kondisi ABK yang memiliki keterbatasan IQ sehingga sulit beralih ke objek lain
Dampak Kecanduan Aroma Bensin pada Kesehatan
Kasus yang terjadi di Sukabumi ini menjadi penting bagi masyarakat. Menghirup aroma bensin secara rutin dalam jangka panjang dapat berdampak serius pada kesehatan. Paparan uap bensin dapat mengganggu sistem saraf, pernapasan, bahkan organ-organ vital lainnya.
Anak-anak, terutama mereka yang memiliki kondisi khusus, sangat rentan terhadap dampak negatif tersebut. Tanpa intervensi yang tepat, kondisi ini akan semakin memperburuk kualitas hidup mereka.
Strategi Penanganan yang Direkomendasikan
Untuk menyembuhkan ketergantungan terhadap aroma bensin, metode pengalihan harus dilakukan secara langsung dan bertahap. Petugas atau pendamping yang terlibat harus mencari objek pengganti yang memiliki karakteristik serupa, yaitu menyengat namun aman bagi kesehatan.
Proses ini memerlukan kesabaran tinggi dan pemantauan berkelanjutan. Pendekatan harus dilakukan dengan penuh kasih sayang tanpa memberikan tekanan berlebihan, agar anak merasa aman selama masa transisi.
Harapn Pemerintah dan Masyarakat
Pengunggah video yang pertama kali mempublikasikan kasus ini, seorang warga bernama Putri, mengaku sangat prihatin dengan kondisi anak tersebut. Ia berharap agar pemerintah dan dinas terkait dapat segera mengambil tindakan nyata.
"Jujur sedih melihat kejadian ini. Saya cuma berharap semoga ini menjadi wadah dan perhatian untuk pemerintah atau dinas terkait agar cepat ada tindakan untuk adiknya," harap Putri.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus memerlukan perhatian ekstra dari berbagai pihak. Diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan tenaga profesional untuk memberikan penanganan yang tepat dan berkelanjutan.