Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Polisi Jelaskan Fakta Sebenarnya di Balik Video Viral Serangan Macan di Papandayan

KBB · Oleh · · Diperbarui 26 Agustus 2026

Polisi Garut pastikan video viral serangan macan di Gunung Papandayan adalah hoaks. Video sebenarnya rekaman ledakan mortir di Cipatat Bandung Barat, bukan di Garut.

Polisi Jelaskan Fakta Sebenarnya di Balik Video Viral Serangan Macan di Papandayan

Video Viral Serangan Macan di Gunung Papandayan Bikin Heboh,

Polisi Resor (Polres) Garut akhirnya angkat bicara terkait viralnya video yang menunjukkan sejumlah warga diterkam macan di kawasan Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Melalui Kepala Seksi Humanos, Ipda Susilo Adhi, pihak kepolisian memastikan bahwa informasi tersebut adalah tidak benar atau hoaks.

Dalam klarifikasinya, Ipda Susilo Adhi menegaskan bahwa narasi yang beredar di media sosial dan aplikasi percakapan mengenai adanya binatang buas yang menyerang warga di kawasan wisata Gunung Papandayan sama sekali tidak sesuai dengan fakta.

Baca Juga: 74 Persen Guru Honorer di Indonesia Berpenghasilan di Bawah Rp2 Juta, Ribuan Murid di Jawa Barat Terdampak

"Informasi mengenai adanya macan yang menerkam tiga warga di kawasan Gunung Papandayan adalah hoaks," tegas Ipda Susilo Adhi di Garut, Selasa (14/7/2026).

Hasil Penelusuran: Video Berasal dari Peristiwa Ledakan Mortir di Bandung Barat

Setelah melakukan penelusuran mendalam terhadap sebaran video dan pesan berantai yang beredar di platform WhatsApp, polisi menemukan fakta mengejutkan. Video yang diklaim sebagai serangan macan di Garut tersebut sebenarnya adalah rekaman lama terkait insiden ledakan yang terjadi di wilayah Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

Baca Juga: Perempuan Berlari 2026 Targetkan 3.000 Peserta di Kota Baru Parahyangan pada 18 Oktober

Ipda Susilo Adhi menjelaskan bahwa narasi asli di balik video itu berkaitan dengan warga yang menemukan bekas peluru jenis mortir aktif. Tanpa menyadari bahaya yang mengintai, korban justru mencoba membuka proyektil tersebut dengan cara dipukul.

Akibatnya, mortir aktif itu meledak dan menyebabkan korban mengalami luka serius. Insiden ini terjadi jauh dari wilayah hukum Garut, sehingga masyarakat dihebohkan dengan informasi yang salah.

Koordinasi dengan Pihak Taman Wisata Alam Papandayan

Selain melakukan penelusuran digital, pihak kepolisian Garut juga telah berkoordinasi langsung dengan pengelola kawasan wisata Gunung Papandayan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan konfirmasi terkait keamanan dan kenyamanaman pengunjung di area tersebut.

Berdasarkan konfirmasi dari pengelola, polisi memastikan bahwa:

Dengan demikian, masyarakat diimbau untuk tidak perlu merasa khawatir berlebihan terhadap keamanan kawasan Gunung Papandayan sebagai destinasi wisata alam.

Imbauan Polisi untuk Masyarakat: Jangan Sebar Informasi Tanpa Bukti

Polres Garut melalui Ipda Susilo Adhi menyampaikan imbauan penting kepada seluruh masyarakat. Warga diminta untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.

Masyarakat diimbau agar lebih selektif dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama yang diperoleh dari media sosial atau grup percakapan. Sebelum membagikan suatu informasi, sebaiknya dilakukan pengecekan ulang terlebih dahulu.

"Jika suatu informasi belum dapat dibuktikan kebenarannya, maka masyarakat tidak perlu membagikannya lagi ke orang lain," terang Ipda Susilo Adhi.

Penyebaran informasi bohong atau hoaks dinilai dapat menimbulkan dampak negatif yang signifikan, mulai dari:

Pentingnya Literasi Digital untuk Mencegah Penyebaran Hoaks

Kasus hoaks serangan macan di Gunung Papandayan ini menjadi pelajaran penting bagi masyarakat tentang betapa mudahnya informasi palsu menyebar luas hanya dalam hitungan menit. Di era digital seperti sekarang, setiap individu dituntut untuk memiliki kemampuan literasi digital yang baik.

Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua informasi yang viral di media sosial adalah benar. Sebaliknya, diperlukan sikap kritis dan kehati-hatian dalam memverifikasi setiap berita sebelum mempercayainya dan apalagi menyebarkannya kepada orang lain.

Dengan meningkatkan kesadaran dan literasi digital, masyarakat dapat berperan aktif dalam memberantas penyebaran hoaks dan menciptakan ruang informasi yang sehat serta terpercaya.