Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Perang Obor Jepara: Tradisi Tahunan sebagai Wadah Syukur Warga Desa

Jabar · Oleh Raka Permana ·

Tradisi perang obor tahunan di Desa Tegalsambi, Jepara, menjadi wadah warga menyampaikan syukur atas rezeki, keselamatan, dan kesehatan melalui ritual obor daun kelapa kering.

Perang Obor Jepara: Tradisi Tahunan sebagai Wadah Syukur Warga Desa

Pendahuluan

Pada hari Senin bulan Mei 2026, Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, disulap menjadi tempat pelaksanaan tradisi perang obor tahunan yang menjadi puncak dari kegiatan sedekah bumi setempat. Acara ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukkan visual yang memukau, tetapi juga sebagai wadah utama warga untuk menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki, keselamatan, dan kesehatan yang mereka terima sepanjang tahun.

Dokumentasi perang obor di Desa Tegalsambi, Jepara Foto: Dokumentasi perang obor tahunan di Desa Tegalsambi, Jepara, yang diambil oleh Devi Rahman (AFP) dan Nirza (ANTARA FOTO).

Latar Belakang dan Tujuan Tradisi

Tradisi perang obor di Desa Tegalsambi telah diwariskan dari generasi ke generasi, dan dilaksanakan setiap satu tahun sekali sebagai bagian dari rangkaian acara sedekah bumi. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai cara untuk mempererat tali silaturahmi antar warga desa. Menurut catatan lokal, tradisi ini mulai diadakan untuk menandai akhir musim tanam padi, sehingga warga juga menyampaikan syukur atas hasil panen yang melimpah.

Selain itu, tradisi ini juga dijadikan sebagai sarana untuk memohon keselamatan dan kesehatan bagi seluruh warga desa sepanjang tahun mendatang. Banyak warga yang percaya bahwa ritual perang obor dapat menghilangkan kesialan dan membawa keberuntungan bagi komunitas mereka.

Detail Ritual Perang Obor

Inti dari ritual ini adalah penggunaan obor yang terbuat dari daun kelapa kering yang telah dikumpulkan dan disiapkan berbulan-bulan sebelumnya sebelum acara. Daun kelapa kering diikat menjadi bentuk obor, kemudian dibakar hingga memiliki api yang stabil. Para peserta, yang sebagian besar adalah warga desa dari berbagai usia, kemudian berkumpul di lapangan utama desa untuk saling menyerang satu sama lain dengan obor yang sedang menyala.

Meskipun terdengar seperti permainan, ritual ini memiliki aturan yang ketat: peserta dilarang menggunakan obor dengan api yang terlalu besar atau menyerang bagian tubuh yang sensitif. Tujuan utama dari serangan ini adalah untuk "menghilangkan" kesialan dan membawa keberuntungan bagi desa sepanjang tahun mendatang. Setelah ritual selesai, warga berkumpul bersama untuk makan malam bersama dan melanjutkan silaturahmi.

Makna Filosofis di Balik Tradisi

Selain sebagai bentuk syukur, perang obor juga memiliki makna filosofis yang dalam. Dalam budaya Jawa, aktivitas ini melambangkan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, di mana api dari obor melambangkan cahaya yang menyingkirkan kegelapan. Selain itu, kegiatan ini juga mengajarkan nilai gotong royong, karena semua warga bekerja sama untuk menyiapkan obor, membersihkan lapangan, dan melaksanakan acara dengan tertib.

Banyak warga yang mengungkapkan bahwa perang obor bukan hanya tentang pertarungan, tetapi juga tentang kebersamaan dan rasa memiliki terhadap komunitas desa mereka. "Ini adalah cara kami menunjukkan rasa syukur dan mempererat hubungan antar warga," kata salah satu peserta dalam wawancara dengan wartawan lokal.

Potensi Budaya dan Pariwisata

Tradisi perang obor di Desa Tegalsambi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai objek wisata budaya lokal. Keunikan ritual yang menggunakan obor dari daun kelapa kering, ditambah dengan suasana yang penuh semangat dan kebersamaan, dapat menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Pemerintah desa setempat telah mulai mempromosikan acara ini melalui media sosial dan pameran budaya, dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan warga melalui sektor pariwisata.

Selain itu, tradisi ini juga dapat menjadi sarana untuk melestarikan warisan budaya Jawa Tengah, sehingga generasi mendatang dapat terus mengenal dan menghargai tradisi lokal mereka.

Penutup

Tradisi perang obor di Jepara bukan hanya sebuah ritual yang indah, tetapi juga warisan budaya yang harus dilestarikan. Acara ini tidak hanya menjadi wadah untuk menyampaikan syukur, tetapi juga sebagai cara untuk mempertahankan identitas budaya Jawa Tengah dan mempererat hubungan antar warga. Dengan potensi pariwisata yang dimilikinya, tradisi ini diharapkan dapat terus dilaksanakan dan dinikmati oleh generasi mendatang.