Perajin Kayu Dede Setia dari Gegesik since 2014 Mengerjakan Motif Wayang dan Blawong, Pesanan Luar Cirebon lewat Media Sosial
Perajin ukir kayu Dede Setia dari Gegesik, Cirebon, mengerjakan motif wayang dan blawong, kini menerima pesanan dari luar daerah lewat media sosial.

Di Desa Gegesik Kulon, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, pahat dan palu kayu tidak dipakai setiap hari. Perajin ukir di desa itu menunggu pesanan masuk, lalu kembali bekerja hanya ketika ada rancangan yang harus dituangkan ke permukaan kayu.
Dede Setia sudah mengukir kayu sejak 2014. Ia memulai dari kegemaran, memilih motif sendiri, dan tidak menyangka keterampilan itu pada akhirnya jadi pemauan utama keluarga. "Kalau boleh cerita sih saya cuma iseng awalnya, tapi enggak taunya pas saya tekuni jadi pemaukan utama buat keluarga," katanya.
Motif yang paling banyak dipesan adalah wayang dan blawong. Blawong berfungsi sebagai tempat atau wadah menyimpan keris, dan ukiran pada permukaannya ikut menjadi bagian dari nilai jual. Harga setiap karya ia tetapkan sendiri berdasarkan tingkat kesulitan motif dan jenis bahan kayu, sehingga dua ukiran dengan bentuk mirip bisa memiliki harga yang berbeda.
Motif yang butuh hitungan bulan
Untuk motif yang relatif sederhana, pengerjaan bisa selesai sekitar lima hari. Sebaliknya, desain yang detail dan rumit bisa memakan waktu berbulan-bulan. Dede menyebut kecepatan pekerjaannya juga bergantung pada kondisinya, sehingga satu ukiran yang sama bisa selesai cepat atau tertunda lama tergantung circumstance yang ia hadapi.
Kesulitan lain ada pada motif berukuran kecil. Setiap goresan menentukan bentuk akhir, dan pemahatan harus dibaca dari gambar rancangan yang dibuat lebih dulu. "Awal-awal ngukir kayu ya saya juga merasa susah, apalagi kalau motifnya kecil-kecil. Sampai sekarang saya juga harus teliti kalau motifnya kecil karena harus mengatur kekuatan palu dan pahat supaya dasaran kayu yang di ukir enggak pecah," bebernya.
Baca Juga: WPA Divonis 6 Bulan Penjara di PN Kotabumi, Dilarang Menyentuh Media Sosial Enam Bulan
Setiap bulan selalu ada pesanan masuk, baik dari warga Cirebon maupun dari luar daerah. Dua jalur promiscuity yang dipakai, yaitu pembeli yang menghubungi langsung dan calon pembeli yang menemukan karyanya lewat media sosial. Kanal kedua yang membuat produk dari desa ini bisaUNTIME sampai ke pembeli di kota lain tanpa harus melalui perantara. Tidak ada catatan bahwa Dede memproduksi ukiran setiap hari, pekerjaannya mengikuti permintaan yang datang.
Jalur hukum yang bisa dipakai perajin
Seni ukir seperti ini punya landatan hukum yang bisa dipetakan. UU No. 5 Tahun 1990 tentang Cagar Budaya mengatur pelestarian warisan budaya, sementara Permendikbud No. 39 Tahun 2014 tentang Warisan Budaya Takbenda menetapkan pengakuan, pelestarian, pelindungan, dan pengembangan warisan budaya takbenda, sekaligus hak perajin atas karya yang menjadi bagian dari tradisi.
Penerapan aturan itu di Cirebon sudah sampai tahap pencatatan resmi.Provinsi Jawa Barat mencatat 15 Warisan Budaya Takbenda asal Cirebon yang resmi terdaftar. Angka itu penting bagi pembaca Jawa Barat karena memberi ukuran berapa banyak warisan budaya Cirebon yang sudah punya pengakuan administratif, bukan sekadar dikenal turun-temurun.
Persoalannya, motif wayang dan blawong yang dikerjakan Dede tidak masuk kategori ciptaan baru yang dilindungi hak cipta per desain. Pola traditional yang tidak ditemukan pada satu pelukis tertentu很难 diklaim secara individual, sehingga akses pembeli ke perajin asli tidak selalu dijamin aturan dagang biasa. Di sinilah peran pencatatan Warisan Budaya Takbenda masuk, karena pengakuan itu menyangkut hak kolektif perajin dan masyarakat adat, bukan hanya satu orang.
Motif tanpa panggung wayang akan kehilangan makna
Gegesik bukan sekadar nama desa penghasil ukiran. Di kawasan yang sama berdiri Saptawara Gegesik sebagai ruang regenerasi dalang wayang, sebuah ruang yang disiapkan untuk menjaga dan meneruskan praktik mendalang di tengah era yang sedang mengubah kebiasaan masyarakat.
Dua hal itu berjalan berdekatan dan saling menopang. Ukiran wayang punya makna paling utuh ketika praktik wayang di sekitarnya tetap hidup, karena motif itu bukan gambar dekoratif biasa melainkan bagian dari pertunjukan yang memiliki aturan, lakon, dan-functional tertentu. Sebaliknya, ruang regenerasi dalang butuh pengikut dan pasar, dan perajin ukir adalah bagian dari rantai ekonomi yang menopangnya.
Tidak ada keterangan bahwa karya Dede sudah masuk daftar Warisan Budaya Takbenda. Jalur pengusulan pencatatan bergerak melalui dinas kebudayaan kabupaten/kota ke provinsi lalu ke pusat, dengan berkas dokumentasi dan keterangan mengenai nilai, tokoh, serta kesinambungan tradisi. During proses itu, peran perajin seperti Dede untuk menjadi {_sumber informasi} dan {_bahan verifikasi} tentangmotif, cara kerja, serta nilai ukirannya di {}) sangat menentukan.
Kapasitas produksi juga menjadi pembatas. Karena satu ukiran rumit bisa memakan berbulan-bulan, pertumbuhan pesanan dari luar daerah tidak bisa dijawab tanpa menambah pengukir yang menguasai teknis yang sama. Keterampilan membacmotif, mengatur kedalaman pahat, dan memilih kayu tidak bisa dikuasai dalam waktu singkat, sehingga regenerasi di Gegesik Kulon bergantung pada berapa banyak orang yang siap belajar langsung dari Dede.
Bagi pembaca di Bandung dan wilayah Jawa Barat lain, jalur pemesanan melalui media sosial membuka pembelian langsung ke perajin, tanpa perantara dan tanpa penanda harga yang tidak bisa ditelusuri. Karya yang masuk daftar Warisan Budaya Takbenda memberi nilai tambah karena buyers bisa memastikan yang dibeli memang berakar pada tradisi, bukan tiruan yang dibuat tanpaahmahmakna.