Pengalihan Saham KCIC ke SMV Kemenkeu, Beban Utang Whoosh Rp116 Triliun Tak Lagi di Tangan Menteri Keuangan
Beban utang Whoosh Rp116 triliun dialihkan ke SMV Kemenkeu lewat pengalihan saham PSBI 60%. Dengan restrukturisasi 80 tahun, cicilan turun ke Rp1 triliun per tahun.

Rencana pengalihan saham Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) kepada Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan membuat beban utang proyek Whoosh tidak lagi menjadi tanggung jawab Kementerian Keuangan secara langsung.
Total utang KCIC diperkirakan mencapai US$7,2 miliar atau setara Rp116 triliun. Proyek ini membentang di koridor Jakarta-Bandung yang menjadi jalur padat bagi jutaan warga Jawa Barat. Dengan skema restrukturisasi yang berlaku, masa pembayaran membentang hingga 80 tahun.
Skema cicilan yang diterapkan berkisar Rp1 triliun per tahun. angka ini dinilai masih dapat dikelola karena bebannya tidak terlalu besar per tahun. Pengalihan ini melibatkan saham milik PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang menguasai 60% saham KCIC.
Baca Juga: KONI Dukung Kepengurusan PB ESI 2026-2030, Indonesia Bidik Jadi Pusat Esports Asia
PSBI merupakan konsorsium yang terdiri dari PT KAI, PT Wijaya Karya, PT Jasa Marga, dan PTPN VIII. Keempat perusahaan negara itu selama ini menjadi penanggung jawab utama dalam konsorsium kereta cepat.
Nantinya, pengelolaan KCIC akan berada di bawah kendali SMV Kementerian Keuangan setelah seluruh proses administrasi dan kewajiban dari Danantara selesai dilakukan.
位式 transfer ini diharapkan dapat memperkuat struktur keuangan proyek kereta cepat dalam jangka panjang. Dengan terpisah dari anggaran Kementerian Keuangan常规, proyek ini mendapat ruang gerak lebih luas dalam negosiasi utang dan pengembangan operasional.
Bagi warga Bandung dan sekitarnya, dampak langsung dari pengalihan ini masih belum terasa. Mereka yang sehari-hari mempertimbangkan usar Whoosh sebagai alternatif transporte ke Jakarta masih menunggu kejelasan mengenai masa depan tarifa dan layanan pasca-pengalihan ini.