Pemkab Bandung Barat Siapkan Strategi Budidaya Adaptif El Nino 2026
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menyiapkan strategi budi daya adaptif hadapi El Nino 2026, termasuk penggantian tanaman palawija dan penguatan infrastruktur pompanisasi untuk melindungi produksi pangan daerah.

Kondisi Lahan Pertanian Kabupaten Bandung Barat
Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat telah menyiapkan serangkaian strategi budi daya adaptif untuk menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino 2026. Langkah ini diambil mengingat sebagian besar lahan pertanian di daerah ini sangat bergantung pada curah hujan, yang berisiko menurun akibat perubahan cuaca akibat El Nino.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bandung Barat Lukmanul Hakim menjelaskan bahwa dari total 18.093 hektare lahan baku sawah, hanya sekitar 20 persen yang dilengkapi sistem irigasi formal. Sisanya, yakni 80 persen, merupakan lahan tadah hujan yang rentan mengalami kekeringan saat kemarau panjang.
Tantangan di Tengah Swasembada Pangan
Meskipun sejak 2014 Kabupaten Bandung Barat telah mencapai swasembada pangan dan menjadi salah satu penyumbang produksi beras nasional, kondisi lahan yang dominan tadah hujan menjadi tantangan serius. Pada tahun 2025, produksi padi daerah mencapai 274.221 ton atau setara 147.424 ton beras, yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan pangan regional.
Langkah Adaptasi Budi Daya yang Diambil
Untuk mengurangi risiko kerugian akibat El Nino, pemerintah daerah telah menetapkan beberapa langkah adaptasi, antara lain:
- Penggantian Tanaman Pilihan: Petani di wilayah rawan kekeringan dianjurkan mengganti padi dengan palawija yang lebih hemat air, seperti jagung varietas Bisi 18 dan cabai Dewata 43. Selain itu, penggunaan varietas padi tahan kering seperti Inpago 8 juga didorong untuk lahan yang tetap ingin menanam padi.
- Teknik Hemat Air: Petani diarahkan menerapkan mulsa plastik atau organik untuk menjaga kelembaban tanah dan mengurangi penguapan air. Selain itu, mereka juga diminta menyesuaikan jadwal tanam agar fase kritis tanaman tidak terjadi saat puncak kemarau.
- Pendampingan dan Sosialisasi: Pemerintah daerah melakukan pendampingan intensif oleh Penyuluh Pertanian Lapangan dan Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman. Kegiatan ini meliputi pemetaan wilayah rawan kekeringan dan sosialisasi prediksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk membantu petani merencanakan kegiatan tanam.
Penguatan Infrastruktur Pertanian
Selain langkah adaptasi budi daya, pemerintah daerah juga terus menggenjot program pompanisasi untuk meningkatkan ketersediaan air irigasi. Hingga tahun 2025, telah disebar 393 unit pompa air di berbagai wilayah Kabupaten Bandung Barat. Target penambahan unit pompa pada tahun 2026 mencapai 125 unit, yang didanai dari APBD dan APBN.
Selain itu, pada tahun 2025 telah dibangun 65 unit irigasi perpompaan dan dua unit jaringan air tanah. Untuk tahun 2026, pemerintah juga merencanakan penambahan 19 unit infrastruktur irigasi serupa.
Perlindungan Usaha Tani Petani
Untuk melindungi petani dari risiko gagal panen akibat El Nino, pemerintah daerah mendorong para petani untuk mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi. Program ini memberikan perlindungan finansial jika panen gagal akibat bencana alam, termasuk kekeringan.
"Dengan penyesuaian budi daya dan mitigasi yang tepat, kami optimistis produksi pangan daerah tetap terjaga meskipun dihadapkan pada ancaman El Nino 2026," ujar Lukmanul Hakim, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bandung Barat.