Landbouw Maatschappij Tjimangsoed Dirikan Perkebunan Cimangsud pada 13 November 1907 di Cipatat
Perkebunan Cimangsud di Desa Kertamukti, Cipatat, Bandung Barat, didirikan 13 November 1907. Infrastruktur yang dibangun perusahaan kolonial kini menjadi bagian dari kehidupan warga dan kawasan wisata.

Di kaki perbukitan Desa Kertamukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, hamparan hijau yang kini dikenal sebagai kawasan Situ Cimangsud menyimpan jejak panjang perkebunan kolonial yang jarang terdengar.
Perkebunan Cimangsud resmi berdiri melalui Landbouw Maatschappij Tjimangsoed pada 13 November 1907. Pendiriannya tidak terlepas dari Agrarische Wet 1870 yang membuka peluang bagi perusahaan swasta Eropa menyewa tanah jangka panjang di Hindia Belanda. Kebijakan itu memicu investasi besar-besaran di kawasan Priangan yang memiliki tanah vulkanis dan iklim sesuai untuk tanaman perkebunan.
Berdirinya perkebunan ini mengubah lanskap wilayah pedalaman Bandung Barat secara perlahan. Jalan baru terbentang untuk mengangkut hasil panen ke jalur distribusi. Jembatan-jembatan kecil dibangun mengikuti kebutuhan produksi. Permukiman pekerja perkebunan mulai muncul di sekitar lahan yang sebelumnya merupakan hutan dan ladang masyarakat lokal.
Baca Juga: Asep Ismail Ingatkan ASN Bandung Barat untuk Tingkatkan Disiplin dan Tanggung Jawab
Bupati Bandung Kunjungi Perkebunan pada 1938
Sebuah arsip surat kabar Sipatahoenan edisi 10 Mei 1938 mencatat peristiwa langka. Bupati Bandung Raden Adipati Aria Wiranatakusumah melakukan kunjungan ke Perkebunan Cimangsud. Kunjungan itu dilakukan seusai meninjau pembangunan jembatan yang menghubungkan Bandung dan Cianjur.
"Kalau jalan ini jadi, petani tidak perlu memutar lewat Padalarang," tulis Sipatahoenan mengenai aspirasi masyarakat saat itu.
Baca Juga: Tol Bocimi Bakal Tembus Padalarang, Dana Rp7,7 Triliun Disetujui untuk Perpanjangannya
Dalam kunjungan itu, bupati bertemu administratur perkebunan dan membahas pembangunan jalan sepanjang sekitar 1,5 kilometer yang sepenuhnya dibiayai perusahaan. Jalan itu menghubungkan kawasan perkebunan dengan akses utama menuju kota sehingga masyarakat di sekitar bisa memanfaatkan jalur tersebut untuk kegiatan sehari-hari.
Jejak Infrastruktur yang Menyatu dengan Kehidupan Warga
Pembangunan infrastruktur oleh perusahaan perkebunan memang tidak sepenuhnya berniat mulia. Tujuannya tetap mendukung distribusi hasil panen dan kelancaran operasional perusahaan. Namun begitu infrastruktur itu ada, warga di sekitarnya ikut memanfaatkan.
Sejarawan Sartono Kartodirdjo menjelaskan bahwa perkebunan kolonial membentuk hubungan sosial baru antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat lokal. Di Bandung Barat, hubungan itu terlihat dari bagaimana bupati pada 1938 secara langsung bertandang ke perkebunan untuk membahas pembangunan jalan. Ini menunjukkan bahwa perusahaan perkebunan pada masa itu punya posisi tawar cukup kuat terhadap pemerintah daerah.
Kondisi geografis Priangan memang mendukung berkembangnya perkebunan. Curah hujan tinggi dan bentang alam pegunungan menciptakan lingkungan ideal untuk komoditas seperti kopi, teh, dan kina. Cimangsud mungkin tidak seluas perkebunan teh di Bandung Selatan atau kina di Pangalengan, tetapi keberadaannya membuktikan bahwa jaringan perkebunan kolonial menjangkau hingga wilayah pedalaman yang kini dikenal sebagai Bandung Barat.
Bekas Perkebunan yang Berubah jadi Destinasi Wisata
Kini hamparan Perkebunan Cimangsud tidak lagi dikelola sebagai lahan Produksi. Areal bekas perkebunan bertransformasi menjadi kawasan wisata di sekitar Situ Cimangsud. Pengunjung yang datang menikmati pemandangan danau dan udara sejuk pegunungan sebagian besar tidak mengetahui bahwa tanah yang mereka injak pernah menjadi bagian dari jaringan ekonomi kolonial yang membentang hingga ke pasar internasional.
Bekas jalan usaha tani yang dulu dibangun untuk mengangkut hasil panen kini menjadi jalur kaki yang menghubungkan permukiman warga dengan kawasan wisata. Infrastruktur yang dirancang untuk kepentingan perusahaan pada akhirnya menyatu dengan kehidupan masyarakat setempat dan bertahan jauh melampaui era kolonial.
Pengelolaan tanah di kawasan ini juga pernah menjadi sorotan. Artikel sebelumnya mengenai perkembangan urbanisasi di Bandung Barat menunjukkan bahwa konversi lahan pertanian dan perkebunan menjadi area permukiman terus berlangsung hingga kini.
Bagi warga Kertamukti dan sekitarnya, keberadaan Situ Cimangsud bukan sekadar objek wisata. Kawasan ini merupakan penanda identitas lokal yang terbentuk dari proses panjang, dimulai dari era kolonial hingga menjadi ruang terbuka yang bisa dinikmati siapapun saat ini.