Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Krisis Sampah Makanan Bandung: Generasi Muda Jadi Kunci Perubahan

Bandung · Oleh · · Diperbarui 25 Agustus 2026

Kampanye Tong Kalap Tong Nyesa hadir di Bandung untuk melibatkan generasi muda mengurangi sampah makanan yang mencapai 44-45% dari total sampah harian.

Krisis Sampah Makanan Bandung: Generasi Muda Jadi Kunci Perubahan

Urgensi Pengurangan Sampah Makanan di Bandung

Krisis sampah makanan di Kota Bandung memasuki titik yang mengkhawatirkan. Setiap hari, kota ini menghasilkan sekitar 1.600 ton sampah, dengan 44 hingga 45 persen di antaranya merupakan sampah makanan. Ironisnya, sebagian besar dari sampah tersebut sebenarnya masih bisa dikonsumsi.

Data dari Dinas Lingkungan Hidup Bandung mengungkap fakta yang lebih mengejutkan. 80 persen sampah rumah tangga muncul pada tahap konsumsi, dan 44 persen di antaranya berupa makanan yang sebenarnya masih layak dimakan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemborosan terjadi secara masif di tingkat rumah tangga dan sektor kuliner.

Baca Juga: Petugas Pasang Spanduk di Jalur Pendakian Kawah Putih, Pengunjung Dilarang Buang Puntung

"Perubahan iklim merupakan isu keadilan. Orang muda akan menjadi kelompok yang paling terdampak, tetapi sekaligus memiliki peran besar untuk memimpin solusinya."

Arti Indallah, Program Development Manager Climate Justice Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam mengatasi krisis ini. Kampanye pengurangan sampah makanan bukan sekadar tindakan lingkungan, melainkan bagian dari aksi nyata menghadapi perubahan iklim.


Baca Juga: Anak 9 Tahun di Bandung Barat Terluka Digigit Pitbull yang Lepas dari Pengikat Saat Dijemur

WRI Indonesia Gagas Kampanye "Tong Kalap, Tong Nyesa!"

WRI Indonesia bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung merespons situasi ini dengan meluncurkan kampanye "Tong Kalap, Tong Nyesa!" di Nara Park, Sabtu (11/7/2026). Gerakan ini merupakan bagian dari program Urban Futures yang didukung Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial.

Berbeda dari kampanye lingkungan pada umumnya, inisiatif ini secara khusus menargetkan generasi muda Bandung. Alasan utamanya jelas: lebih dari 20 persen penduduk Kota Bandung merupakan kelompok usia muda yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk kebiasaan baru.

"Kami berharap dapat mendorong perubahan perilaku orang muda di Kota Bandung dalam mengonsumsi makanan mereka sehingga nanti bisa memengaruhi kelompok masyarakat yang lebih luas," papar Tomi Haryadi, Direktur Program Pangan, Lahan, dan Air WRI Indonesia.


Sektor Kuliner Jadi Sorotan Utama

Tomi menjelaskan bahwa hotel, restoran, dan kafe (horeka) bersama rumah tangga menjadi penyumbang terbesar limbah makanan di perkotaan. Di Bandung, data Dinas Lingkungan Hidup menunjukkan 63 persen sampah makanan berasal dari sektor horeka, sisanya dari rumah tangga.

Melihat kondisi tersebut, Adi Junjunan Mustafa, Kepala Disbudpar Kota Bandung, menegaskan bahwa sektor pariwisata tidak dapat dipisahkan dari keberadaan ribuan kafe dan restoran yang menjadi daya tarik wisata. Namun, tingginya timbulan sampah makanan kini menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan sektor tersebut.

"Di Kota Bandung, sektor pariwisata dengan kafe dan restoran sebagai pusat aktivitasnya menjadi daya tarik utama yang menghidupkan kota. Namun tingginya timbulan sampah makanan saat ini menjadi ancaman nyata bagi sektor tersebut," kata dia.

Karenanya, Disbudpar berkomitmen mendorong para pelaku usaha kafe dan restoran agar turut berkontribusi mewujudkan ekosistem konsumsi yang lebih bertanggung jawab menuju pariwisata berkelanjutan.


TPA Sarimukti: Alarm Bahaya yang Semakin Nyata

Persoalan sampah makanan dinilai semakin mendesak karena kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA) di Bandung semakin terbatas. TPA Sarimukti kini beroperasi melampaui kapasitas ideal dengan sekitar 78 persen sampah yang masuk berasal dari Kota Bandung.

Kota Bandung juga pernah mengalami tragedi TPA Leuwigajah akibat ledakan gas metana yang menelan ratusan korban jiwa. Insiden tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan sampah tidak bisa ditunda.

Dengan kapasitas TPA yang semakin menipis, pengurangan sampah makanan sejak dari sumber menjadi langkah paling krusial. Dan generasi muda, dengan semangat dan kreativitasnya, dipilih sebagai ujung tombak perubahan.


10 Restoran dan Kafe Menjadi Percontohan Awal

Sebagai tahap awal, kampanye ini melibatkan 10 restoran dan kafe di Bandung:

Pemilik Nara Park, Erick Jusuf, menyambut baik kolaborasi tersebut. Baginya, pelaku usaha kuliner memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi pelanggan.

"Sebagai pelaku usaha kuliner, kami sadar bahwa menjadi tanggung jawab kami untuk mengedukasi pelanggan agar lebih bijak dalam mengonsumsi makanan mereka," katanya.


Generasi Muda Bandung: Kesadaran Membaik, Semangat Kolektif Perlu Ditingkatkan

Peluncuran kampanye juga diisi dengan diskusi bertajuk "Bagaimana Pelibatan Orang Muda serta Kafe/Restoran Bisa Mengatasi Sampah Makanan di Bandung?"

Co-Founder sekaligus Chief of Impact and Marketing Plastavfall Solution, Adora Beatha, menilai kesadaran generasi muda Bandung terhadap pengelolaan sampah mulai meningkat. Namun, semangat kolektivitas antar komunitas masih perlu ditingkatkan.

"Orang muda Bandung sudah lebih sadar untuk memilah sampah makanan, tetapi semangat kolektivitas antar komunitas orang muda masih perlu ditingkatkan," ucap Adora.

Ia menekankan bahwa perubahan perilaku menjadi kunci utama mengurangi sampah organik sejak dari sumbernya.


Kompetisi dan Pelatihan untuk Membangun Gerakan

Sebagai tindak lanjut, WRI Indonesia bakal menggelar kompetisi "Barudak Beraksi" yang mengajak komunitas anak muda merancang solusi pengurangan sampah makanan di lingkungan mereka. Selain itu, akan diselenggarakan pelatihan "Barudak Ngajarkeun" untuk mencetak fasilitator muda yang mampu mengedukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah makanan di tingkat rumah tangga.

Kampanye "Tong Kalap, Tong Nyesa!" dijadwalkan berlangsung hingga akhir November 2026.


Menuju Model Pengurangan Sampah Makanan Nationwide

WRI Indonesia berharap pendekatan yang diterapkan di Bandung dapat diperluas ke kota-kota lain di Indonesia.

"Harapannya, pendekatan dalam kampanye ini dapat direplikasi di kota-kota lain dan berkembang menjadi gerakan yang lebih besar," harap Arti Indallah.

Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha kuliner, komunitas, dan generasi muda menjadi kunci keberhasilan gerakan ini. Dengan semangat kebersamaan, Kota Bandung diharapkan mampu membangun budaya konsumsi yang lebih bertanggung jawab sekaligus menjadi model pengurangan sampah makanan bagi kota-kota lain di Tanah Air.

Kampanye "Tong Kalap, Tong Nyesa!" menjadi bukti nyata bahwa aksi nyata melawan krisis sampah makanan bisa dimulai dari perubahan kecil di tingkat individu—khususnya di kalangan generasi muda.