Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Penguatan Kesiap-siagaan Penyakit Zoonotik di Bandung Barat
Dinas Kesehatan Bandung Barat gelar lokakarya edukasi penyakit zoonotik libatkan lintas sektor. Empat penyakit utama yang perlu diwaspadai adalah rabies, flu burung, leptospirosis, dan antraks.

Langkah Preventif Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia Digalakkan Melalui Lokakarya
Penguatan kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi potensi wabah penyakit zoonotik terus dilakukan berbagai pihak di Kabupaten Bandung Barat. Dinas Kesehatan setempat gelar Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonotik pada 9–10 Juli 2026 di Kantor Bupati Bandung Barat sebagai bentuk nyata koordinasi antarinstitusi.
"Jangan sampai penyakitnya muncul dan menyebar tapi kita belum siap. Justru di masa tenang ini ketika belum ada wabah kita sudah bersiap dan berkoordinasi,"
Ujar H. Dudy Prabowo, S.Sos., M.M., Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bandung Barat.
Enam Penyakit Zoonotik yang Perlu diwaspadai Masyarakat
Penyakit zoonotik merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Menurut drh. Acep Rohimat, M.Tr.A.P., Kepala Bidang Kesehatan Hewan Kabupaten Bandung Barat, berbagai jenis hewan menjadi penularan yang perlu diwaspadai.
Berikut empat penyakit zoonotik utama yang menjadi perhatian:
Baca Juga: Perempuan Berlari 2026 Targetkan 3.000 Peserta di Kota Baru Parahyangan pada 18 Oktober
- Rabies — ditularkan melalui gigitan anjing, kucing, monyet, maupun kelelawar. Pencegahan dilakukan dengan memberikan vaksin rabies secara rutin setiap tahun.
- Flu Burung (H5N1) — masyarakat diimbau menghindari kontak langsung dengan unggas yang sakit atau mati mendadak. Pastikan daging dan telur unggas dimasak hingga matang.
- Leptospirosis — meningkat saat musim hujan melalui genangan air yang tercemar urine tikus. Penggunaan sepatu bot saat beraktivitas di area banjir sangat dianjurkan.
- Antraks — dapat menular melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.
Pengalaman dari Pandemi Jadi Pelajaran Berharga
dr. Enung Masruroh, M.M., Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, menekankan bahwa pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 menjadi pengingat penting bagi pemerintah dan masyarakat.
"Belajar dari pandemi COVID-19 pada tahun 2020 dan wabah flu burung yang terjadi pada tahun 2007 di Kota Cimahi yang berdekatan dengan Kabupaten Bandung Barat, membangun kesiapan pemerintah dan masyarakat sangat penting agar wabah dapat dicegah dan ditangani dengan cepat,"
katanya.
Peran Strategis Berbagai Pihak dalam Pencegahan Wabah
Lokakarya ini diselenggarakan bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas), Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (Pokja RCCE), Dinas Peternakan, Dinas Komunikasi dan Informatika, PMI, komunitas kesehatan, organisasi Islam, hingga insan media.
Para peserta mendapatkan pelatihan komunikasi interpersonal agar promotor kesehatan mampu mendorong masyarakat menerapkan langkah pencegahan yang tepat. Selain itu, pemangku kepentingan diberi bekal strategi menghadapi hoaks terkait wabah penyakit, sementara jurnalis lokal mendapat materi penyampaian informasi kesehatan yang mudah dipahami.
dr. Basra Ahmad Amru, Program Manager Portal Kesehatan Masyarakat, menyebut Bandung Barat menjadi salah satu dari enam daerah yang menjalankan program penguatan kesiapsiagaan penyakit zoonotik.
"Penguatan jejaring antarlembaga menjadi faktor penting agar upaya pencegahan maupun penanganan wabah dapat berjalan secara efektif,"
tegasnya.
Peran Tokoh Masyarakat dalam Menyebarkan Informasi Kesehatan
Rizky Ika Syafitri, Ketua Pokja RCCE, menekankan bahwa masyarakat berhak mendapatkan informasi yang menyelamatkan jiwa.
"Informasi yang benar, menarik, dan mudah dipahami menjadi kunci agar masyarakat mau menerapkan berbagai perilaku pencegahan. Selain petugas kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan media memiliki peran besar dalam menyampaikan informasi tersebut hingga ke pelosok,"
jelasnya.
Ancaman Nyata dan Langkah Pencegahan yang Harus Diterapkan
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, sekitar 70 persen penyakit menular baru yang berpotensi menjadi wabah berasal dari hewan. Dengan fakta tersebut, masyarakat diimbau untuk:
- Membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun secara rutin
- Menghindari kontak dengan hewan yang sakit atau mati mendadak
- Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gigitan atau cakaran hewan
- Melaporkan gejala yang muncul setelah kontak dengan hewan yang diduga terinfeksi
Seluruh penyakit zoonotik tersebut memiliki risiko komplikasi serius apabila tidak ditangani secara cepat, sehingga peningkatan kewaspadaan masyarakat menjadi kunci utama pencegahan wabah di tingkat lokal.
Program penguatan kesiapsiagaan ini membuktikan bahwa kesiapan menghadapi penyakit zoonotik bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan membutuhkan sinergi seluruh lapisan masyarakat dan lembaga terkait demi melindungi kesehatan masyarakat secara menyeluruh.