Jelang Peparda 2026: NPCI Bandung Barat Bidik 15 Cabor dengan Kendala Minimnya Anggaran
74 atlet NPCI Bandung Barat siap tampil di Peparda VII Jawa Barat 2026, namun terkendala ketidakjelasan anggaran hibah dan minimnya fasilitas latihan.

National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Bandung Barat tengah menghadapi tantangan berat menjelang Peparda VII Jawa Barat 2026. Dari 81 atlet yang menjalani proses klasifikasi resmi, sebanyak 74 atlet dinyatakan lolos dengan status final dan siap bertanding.
Persiapan Atlet Disabilitas Bandung Barat
Wakil Sekretaris Umum NPCI Kabupaten Bandung Barat, Acep Kurnia, menjelaskan bahwa persiapan menghadapi ajang bergengsi ini terus dilakukan. Pihaknya saat ini tengah melakukan penyesuaian terhadap aturan baru dari NPC Indonesia yang berdampak langsung pada penempatan atlet.
"Sebagian atlet dipindahkan nomor pertandingan, kelas, bahkan cabang olahraga. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam menyusun strategi jelang ajang yang tinggal empat bulan lagi," katanya.
Peningkatan Signifikan Jumlah Cabang Olahraga
Keikutsertaan NPCI Bandung Barat dalam Peparda kali ini mengalami peningkatan cukup signifikan. Jika pada Peparda sebelumnya hanya mengirimkan 9 cabang olahraga, kali ini NPCI Bandung Barat direncanakan tampilkan 15 cabang dari total 17 yang dipertandingkan.
Baca Juga: Perempuan Berlari 2026 Targetkan 3.000 Peserta di Kota Baru Parahyangan pada 18 Oktober
Namun, peningkatan ini terkendala sejumlah faktor utama:
- Ketidakjelasan anggaran hibah menyebabkan jadwal latihan sering tersendat
- Belum memiliki sarana dan prasarana latihan sendiri sehingga anggaran membengkak untuk sewa tempat dan peralatan
- Kekurangan peralatan khusus di sejumlah cabang andalan
Branch Olahraga Andalan dan Tantangan Fasilitas
Acep Kurnia mengungkapkan bahwa minimnya fasilitas terasa di sejumlah cabang andalan. Branch balap sepeda, misalnya, belum memiliki sepeda balap tunggal maupun sepeda tandem untuk atlet tunanetra.
"Kekurangan fasilitas ini sangat terasa di sejumlah cabang andalan, seperti cabang balap sepeda belum memiliki sepeda balap tunggal maupun sepeda tandem untuk atlet tunanetra," katanya.
Branch bowling yang menjadi andalan peraih medalipun saat ini sempat terkendala. Akibat keterbatasan dana sewa gelanggang, latihan untuk cabang ini sempat dihentikan.
"Meskipun dukungan konsumsi dan transportasi dari Bupati sangat membantu, peralatan khusus dan pendamping spesialis masih jauh dari standar kebutuhan. Bahkan, atlet dari pelosok wilayah pun menghadapi kesulitan biaya perjalanan ke lokasi latihan," sambungnya.
Target Medali dan Pesaing Utama
Perubahan aturan klasifikasi juga memengaruhi peluang medals. Branch panahan dan tenis meja showdown tunanetra kini memiliki peluang lebih berat karena penyesuaian kelas baru.
Target medals kini bergeser dan lebih mengandalkan kekuatan cabang:
- Boling
- Anggar
- Atletik
- Judo
- Renang
Sementara lawan terberat diprediksi datang dari Kota Bandung, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bandung yang memiliki persiapan lebih matang.
Harapan Atlet dan Bibit Unggul
Acep berharap pemerintah daerah dan DPRD segera memperhatikan kesenjangan alokasi anggaran yang masih jauh tertinggal dibandingkan KONI. Selain itu, sarana penunjang atlet bisa menjadi perhatian pemerintah daerah.
"Kami menyiapkan atlet tidak hanya untuk Peparda, tapi juga Pekan Para Pelajar, Peparpenas, hingga Seleknas. Kami takut bibit unggul ini akhirnya berpindah ke daerah lain karena tidak ada kepastian dukungan," tutup Acep.
Dengan tenggat waktu Peparda yang semakin dekat, harapan para atlet disabilitas Bandung Barat kini bergantung pada kepastian dukungan pemerintah setempat.