Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

HPSN 2026 di Bandung Barat: Edukasi Pengelolaan Sampah di Lokasi Viral

KBB · Oleh · · Diperbarui 4 Agustus 2026

Pemkab Bandung Barat gelar HPSN 2026 di Pasar Rancapanggung, lokasi tumpukan sampah viral, untuk edukasi warga tentang pengelolaan sampah berkelanjutan.

HPSN 2026 di Bandung Barat: Edukasi Pengelolaan Sampah di Lokasi Viral

Latar Belakang Kegiatan HPSN 2026

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat telah menentukan lokasi pelaksanaan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 di kawasan Pasar Rancapanggung, Kecamatan Cililin. Keputusan ini menggantikan rencana awal yang akan dilaksanakan di Desa Rancaberseka, Kecamatan Batujajar, akibat situasi urgensi terkait masalah sampah di area pasar.

Area belakang Pasar Rancapanggung yang berbatasan langsung dengan bantaran Sungai Saguling sempat viral di media sosial karena tumpukan sampah yang menumpuk secara luas. Kondisi ini menjadi alasan utama pemerintah untuk memindahkan lokasi HPSN 2026 ke daerah tersebut, agar kegiatan pembersihan dan edukasi dapat langsung menargetkan lokasi yang memiliki masalah sampah yang jelas.

Tujuan Edukasi dan Pesan Penting

Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat, Irfan Ardianto, menjelaskan bahwa selain melakukan pembersihan sampah, kegiatan HPSN 2026 ini juga dijadikan momentum untuk memberikan edukasi kepada warga sekitar. Salah satu fokus utama edukasi adalah mengajarkan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke badan sungai yang dapat mencemari air dan merusak ekosistem sungai.

"Sekalian kita edukasi warga sekitar, terutama di sekitar pasar. Kita memberi pemahaman, setelah kegiatan pembersihan ini nanti kedepannya seperti apa," ujar Irfan dalam keterangan pers Rabu (6/5/2026).

Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan sampah yang baik dengan menyebut insiden ledakan TPA Leuwigajah pada tahun 2005. Menurutnya, insiden tersebut disebabkan oleh akumulasi gas metan akibat kurangnya pengelolaan sampah yang tepat, yang menyebabkan ledakan yang menimpa dua desa dan dua kampung.

Baca Juga: Landbouw Maatschappij Tjimangsoed Dirikan Perkebunan Cimangsud pada 13 November 1907 di Cipatat

"Kita mengingat sejarah ke belakang tahun 2005, TPA Leuwigajah meledak karena di sana tidak ada pengelolaan sampahnya. Teknologi yang diterapkan juga tidak ada. Akhirnya munculah gas metan didalamnya dan meledak, hingga 2 desa dan 2 kampung tertimbun tumpukan sampah," jelasnya.

Irfan berharap bahwa melalui kegiatan HPSN 2026 ini, kejadian serupa tidak akan terulang lagi. Ia menekankan bahwa kesadaran kolektif masyarakat adalah kunci utama dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mengelola sampah dengan baik.

"Jangan sampai terulang lagi. Makanya kita menitikberatkan ke masyarakat, bahwa sampah yang ada di kita itu tanggung jawab kita sendiri," tandasnya.

Stakeholder yang Terlibat

Untuk memaksimalkan dampak kegiatan, DLH Kabupaten Bandung Barat akan melibatkan berbagai elemen masyarakat dan stakeholder terkait, antara lain:

Analisis Dampak Kegiatan

Pemilihan lokasi Pasar Rancapanggung sebagai tempat HPSN 2026 dianggap strategis karena memiliki visibilitas tinggi dan masalah sampah yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Dengan menggelar kegiatan di lokasi yang terkenal dengan tumpukan sampah, diharapkan pesan edukasi dapat diterima dengan lebih baik oleh warga sekitar dan masyarakat luas.

Selain itu, keterlibatan berbagai stakeholder juga akan memperkuat dampak kegiatan, karena setiap pihak dapat berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan praktik pengelolaan sampah yang baik. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi titik awal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di Kabupaten Bandung Barat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang benar, sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan sehat.