Guru Besar Unpad jelaskan mengapa aktivitas gunung api Indonesia tidak saling terkait
Guru Besar Unpad Nana Sulaksana menjelaskan setiap gunung api memiliki sistem magmatik berbeda sehingga tidak saling terkait meski aktif bersamaan

Warga Jawa Barat yang tinggal di dekat kawasan vulkanik mungkin pernah merasa cemas saat beberapa gunung berapi aktif secara bersamaan. Kekhawatiran itu wajar, tapi para ahli menegaskan bahwa tidak ada hubungan langsung antar aktivitas gunung api.
Indonesia memiliki sekitar 127 gunung berapi aktif, tertinggi kedua di dunia setelah Jepang, yang terletak di zona subduksi tiga lempeng tektonik dan Cincin Api Pasifik. Kerawanan tinggi terhadap bencana geologi menjadi konsekuensi letak geografis ini.
Ketika beberapa gunung mengalami peningkatan aktivitas secara berbarengan, masyarakat sering mengaitkan satu gunung dengan gunung lainnya. Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran Prof. Nana Sulaksana membantah asumsi tersebut.
"Jadi secara langsung tidak ada hubungan antara satu gunung dengan gunung lainnya," katanya.
Menurut Prof. Nana, setiap gunung api memiliki sistem magmatik yang berbeda. Perbedaan itu dipengaruhi oleh kedalaman dapur magma, jalur perjalanan magma, serta kondisi geologi dan batuan yang dilalui magma sebelum mencapai permukaan. Peningkatan aktivitas pada satu gunung tidak bisa dijadikan indikator langsung terhadap gunung lainnya.
"Setiap gunung api itu memiliki sistem sendiri-sendiri, tergantung kedalaman dapur magma, perjalanan magma, dan batuan yang dilalui," katanya.
Gunung Anak Krakatau dipantau secara intensif menggunakan seismograf yang dipasang di minimal tiga titik tubuh gunung. Alat ini mendeteksi aktivitas kegempaan akibat pergerakan magma dari dalam perut bumi. Pemantauan diperkuat dengan perangkat geodetik berbasis GPS untuk mengukur perubahan mikro pada tubuh gunung, pengamatan visual melalui CCTV yang terhubung internet, serta analisis multi-gas untuk mendeteksi perubahan aktivitas vulkanik.
Data letusan masa lalu dan peta geologi juga menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan status gunung api. Prof. Nana imbau masyarakat mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari otoritas terkait, bukan mengaitkan aktivitas antar-gunung api tanpa dasar ilmiah.