Gunung Sukatinggi: Penanda Kaldera Purba Bandung Utara Berusia 500 Ribu Tahun
Gunung Sukatinggi di Lembang merupakan penanda sisa Kaldera Jayagiri yang berusia 500 ribu tahun, jauh sebelum Tangkuban Parahu terbentuk.

Keajaiban Geologi di Balik Popularitas Tangkuban Parahu
Di kawasan pegunungan Bandung Utara, tersembunyi sebuah bentang alam yang menyimpan cerita panjang tentang evolusi bumi jauh sebelum nama Tangkuban Parahu dikenal luas. Gunung Sukatinggi, yang terletak di kawasan Jayagiri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, menjadi salah satu saksi bisu perjalanan geologi kawasan ini selama ratusan ribu tahun.
Meskipun jarang dibicarakan dalam percakapan wisata sehari-hari, gunung ini memiliki peran penting dalam memahami sejarah pembentukan lanskap Bandung Utara. Gunung Sukatinggi bukan sekadar bukit biasa yang menghiasi panorama pegunungan, melainkan bagian tak terpisahkan dari jejak Kaldera Gunung Jayagiri, gunung api purba yang telah ada jauh sebelum Tangkuban Parahu muncul.
Baca Juga: Bambu Digeser Plastik, Pembuat Boboko dan Bilik di Bandung Barat Tak Lagi Dilirik Anak Muda
Gunung Sukatinggi sebagai Peninggalan Dinding Kaldera
Dari perspektif geologi, Gunung Sukatinggi merupakan salah satu tinggian yang berada di bibir Kaldera Gunung Jayagiri. Bersama punggungan lain seperti Pasir Nyampai dan Pasir Nagrak, gunung ini membentuk sisa dinding kaldera yang masih dapat dikenali hingga saat ini.
Peneliti geologi dan sejarah Cekungan Bandung, T. Bachtiar, dalam tulisannya menjelaskan bahwa keberadaan tinggian-tinggian ini menjadi petunjuk vital untuk memahami bentuk gunung purba yang pernah mendominasi kawasan Bandung Utara.
Baca Juga: Pengendara Mobil Tertabrak Pejalan Kaki di Jalan Lodaya Bandung, Korban 55 Tahun Meninggal di TKP
"Kaldera sendiri merupakan cekungan besar yang terbentuk akibat runtuhnya puncak gunung api setelah mengalami letusan dahsyat," jelas Bachtiar.
Artinya, ketika kita mendaki atau sekadar mengamati Gunung Sukatinggi, kita sebenarnya sedang menatap sisa-sisa reruntuhan gunung purba yang luar biasa besar.
Letusan Eksplosif 500 Ribu Tahun Lalu
Sejarah Gunung Sukatinggi tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang Gunung Jayagiri. Berdasarkan penelitian geomorfologi yang dilakukan M. Dam, P. Suparan, J. Nossin, dan R. Voskuil dalam jurnal A Chronology for Geomorphological Developments in the Greater Bandung Area (1996), kawasan Bandung Utara mengalami serangkaian aktivitas vulkanik besar sejak Kala Kuarter.
Gunung Jayagiri diperkirakan mengalami letusan eksplosif sekitar 560.000 hingga 500.000 tahun lalu. Peristiwa dahsyat ini mengeluarkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar hingga menyebabkan ruang magma di bawah gunung kosong. Akibatnya, puncak gunung kehilangan penyangga dan runtuh membentuk kaldera dengan diameter sekitar enam kilometer.
Peristiwa inilah yang kemudian menyisakan bagian-bagian dinding kaldera, termasuk Gunung Sukatinggi yang masih bertahan hingga sekarang—menjadikannya salah satu struktur geologis tertua di kawasan ini.
Before Tangkuban Parahu: Kronologi Gunung Api Bandung Utara
Banyak orang beranggapan bahwa sejarah vulkanik Bandung Utara dimulai dari Gunung Tangkuban Parahu. Anggapan ini sebenarnya kurang tepat.
Menurut kajian vulkanologi yang dilakukan M. N. Kartadinata mengenai evolusi Kompleks Gunung Sunda–Tangkuban Parahu, berikut adalah kronologi aktivitas vulkanik kawasan ini:
- Awalnya, ada Gunung Jayagiri yang kemudian runtuh membentuk kaldera
- Setelahnya, aktivitas magma kembali membentuk Gunung Sunda di dalam kaldera purba
- Gunung Sunda mengalami beberapa kali letusan besar yang menghasilkan aliran piroklastik masif
- Sekitar 90.000 tahun lalu, Gunung Tangkuban Parahu mulai tumbuh di bagian utara kompleks vulkanik tersebut
Artinya, Gunung Sukatinggi telah ada jauh sebelum Tangkuban Parahu terbentuk—menjadikannya sebagai penanda geologis yang jauh lebih tua dari ikon pariwisata Bandung yang paling terkenal.
Mengapa Bentuk Kaldera Sulit Dikenali Sekarang?
Jika saat ini bentuk Kaldera Gunung Jayagiri sulit dikenali, penyebabnya bukan karena hilang begitu saja. Menurut penelitian Rudy Dalimin (1988) mengenai endapan aliran piroklastik di sekitar Tangkuban Parahu, aktivitas Gunung Sunda menghasilkan endapan ignimbrit dalam volume yang sangat besar.
Material vulkanik berupa abu, batu apung, hingga aliran piroklastik tersebut secara perlahan mengisi cekungan Kaldera Gunung Jayagiri. Dalimin memperkirakan:
- Volume ignimbrit mencapai sekitar 66 kilometer kubik
- Material menyelimuti area seluas kurang lebih 200 kilometer persegi
Proses ini berlangsung selama puluhan ribu tahun sehingga bentuk kaldera yang dahulu begitu jelas kini hampir seluruhnya tertutup oleh endapan vulkanik yang lebih muda. Meski demikian, Gunung Sukatinggi tetap menjadi salah satu penanda alami yang memperlihatkan batas kaldera purba tersebut.
Nilai Ilmiah dan Signifikansi Gunung Sukatinggi
Menurut Dam dan rekan-rekannya, bentang alam Bandung merupakan hasil interaksi yang sangat kompleks antara aktivitas gunung api, pergerakan sesar, sedimentasi, serta proses erosi selama ratusan ribu tahun.
Dalam konteks tersebut, Gunung Sukatinggi memiliki nilai ilmiah yang tinggi karena:
- Membantu para geolog merekonstruksi bentuk Kaldera Gunung Jayagiri
- Memahami evolusi Kompleks Gunung Sunda hingga lahirnya Gunung Tangkuban Parahu
- Menjadi bukti nyata bahwa bentang alam saat ini merupakan hasil proses geologi yang sangat panjang dan berkelanjutan
Keberadaan gunung ini juga mengajarkan kita bahwa apa yang terlihat saat ini—seperti puncak-puncak gagah dan lembah yang indah—adalah hasil dari proses yang berlangsung selama ratusan ribu tahun, sebuah rekam jejak panjang evolusi bumi yang layak dihargai dan dilestarikan.