Filosofi Warna Bali Terkuak di Bandung: Peta Jalan Menuju Warisan Leluhur
Di Bandung, bedah buku Warna Bali mengungkap filosofi warna Bali sebagai simbol kosmologi dan bahasa spiritual yang melampaui estetika.

Warna Bali Bukan Sekadar Estetika, Melainkan Simbol Kosmologi dan Spiritual
Di balik pemilihan warna merah, biru, kuning, hingga hitam dalam tradisi Bali, tersimpan nilai-nilai spiritual, kosmologi, ritual, serta sejarah panjang yang membentuk identitas masyarakatnya. Pemahaman ini menjadi topik utama dalam bedah buku Warna Bali yang diselenggarakan di Silokarupaka Indoor Theater, Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, beberapa waktu lalu.
Acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Parahyangan Satya bersama Yayasan Satya Djaya Raya ini merupakan bagian dari rangkaian diskusi keliling yang sebelumnya telah diadakan di Jakarta, kemudian Bandung, dan akan berlanjut ke Yogyakarta serta Bali.
Buku Warna Bali: Kolaborasi Lima Seniman dan Akademisi
Warna Bali hadir dari kolaborasi lima seniman dan akademisi asal Bali,,分别是:
- I Wayan Seriyoga Parta
- I Made Susanta Dwitanaya
- Dewa Gede Purwita
- Dewa Ayu Eka Savitri Sastrawan
- I Gede Gita Purnama Arsa Putra
Bedah buku ini menghadirkan kurator sekaligus dosen Pascasarjana ITB Rizki A. Zaelani, Kurator Selasar Seni Sunaryaryo Heru Hikayat, dan kurator muda Qanissa Aghara, dengan Ahda Imran sebagai moderator.
Warna sebagai Sistem Pengetahuan dan Bahasa Spiritual
Menurut Ketua Yayasan Satya Djaya Raya, I.G. Mahendra Kusumaputra, warna dalam tradisi Bali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakatnya.
"Buku Warna Bali ini adalah peta jalan pulang menuju pemahaman bahwa warna dalam tradisi Bali bukanlah sekadar estetika. Warna adalah simbol kosmologi, bahasa spiritual, dan cara manusia berdialog dengan alam serta leluhur."
Dalam konteks budaya Bali, warna hadir dalam berbagai medium, mulai dari sajen (persembahan), topeng, lukisan wayang Kamasan, hingga kain tenun tradisional. Setiap warna memiliki makna yang berbeda sesuai konteks penggunaannya, menjadikannya sebagai sistem pengetahuan yang berkaitan erat dengan teologi, kosmologi, dan kehidupan spiritual masyarakat.
Proses Pembuatan Pewarna Tradisional yang Sarat Makna
Buku ini juga mengungkap bahwa warna-warna tradisional Bali berasal dari material alami yang diolah melalui proses panjang dan penuh ketelitian:
- Merah: Berasal dari cinnober atau gincu
- Biru: Diperoleh dari fermentasi daun indigo
- Kuning: Ekstrak dari kunyit
- Hitam: Dibuat dari jelaga minyak kelapa atau arang buah camplung
Proses pembuatannya tidak sesederhana menggunakan cat sintetis modern. Seluruh tahap membutuhkan kesabaran dan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun, menjadikannya bukan sekadar teknik, melainkan warisan budaya yang bernilai tinggi.
Jejak Akulturasi dalam Identitas Warna Bali
Selain membahas filosofi warna, Warna Bali juga mengupas bagaimana akulturasi budaya membentuk identitas Bali. Salah satu contohnya adalah penggunaan pigmen merah bernama gincu atau kencu, yang memiliki hubungan historis dengan zhu sha atau cinnober dari Tiongkok.
Fakta ini menunjukkan bahwa Bali berkembang sebagai budaya yang terbuka terhadap berbagai pengaruh dari luar. Berbagai unsur tersebut kemudian diolah dan disesuaikan hingga menjadi bagian integral dari identitas budaya Bali yang dikenal saat ini.
Upaya Pelestarian Warisan Budaya Nusantara
Kehadiran cat sintetis memang memudahkan proses berkarya, namun perlahan menggeser penggunaan material tradisional yang menyimpan filosofi mendalam. Melalui diskusi di Bandung, penyelenggara berharap masyarakat, pegiat seni, maupun akademisi dapat memahami warisan budaya Nusantara dari perspektif yang lebih luas.
Rangkaian bedah buku ini akan berlanjut ke Yogyakarta dan Bali sebagai upaya memperluas diskusi mengenai pelestarian budaya melalui pendekatan akademis dan artistik.