Enam Srikandi Peneliti Perempuan UPER Kawal Transisi Energi Nasional
Enam peneliti perempuan Universitas Pertamina berkontribusi dalam transisi energi nasional dari hulu ke hilir, mewujudkan warisan Kartini dalam aksi nyata mencapai target Net Zero Emission Indonesia 2060.

Enam Pakar Perempuan yang Kawal Transisi Energi Nasional
Meskipun peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April sudah berlalu, semangat emansipasi dan perjuangan perempuan untuk mengakses pendidikan dan berkontribusi pada pembangunan nasional terus berkembang. Saat ini, perempuan tidak hanya membuka pintu pendidikan seperti yang diperjuangkan Kartini, tetapi juga menjadi kekuatan utama dalam menghadapi tantangan global krisis iklim dan kemandirian energi.
Data terbaru International Renewable Energy Agency (IRENA) tahun 2025 menunjukkan bahwa representasi pekerja perempuan di sektor energi terbarukan dunia mencapai 32 persen, dengan 19 persen di antaranya menduduki posisi pimpinan strategis. Angka ini menjadi bukti bahwa kepemimpinan perempuan adalah kunci dalam mencapai target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada tahun 2060.
Di lingkungan Universitas Pertamina (UPER), misi besar ini diwujudkan melalui kolaborasi lintas disiplin yang dimotori oleh enam peneliti perempuan. Dari tahap hulu hingga hilir, mereka memberikan kontribusi krusial dalam pengembangan teknologi hijau, pengelolaan lingkungan, dan kebijakan energi yang berkelanjutan.
1. Dr. Dumex Sutra Pasaribu: Fondasi Geologi untuk Transisi Energi Aman
Sebagai ahli dari Fakultas Teknologi Eksplorasi dan Produksi, Jurusan Teknik Geologi, Dr. Dumex fokus pada pemodelan mekanisme bawah permukaan melalui Analogue Sandbox Modelling (ASM) dan Palinspastic Restoration. Melalui simulasi evolusi struktur bumi yang presisi, ia memetakan integritas reservoir bawah tanah yang dibutuhkan untuk teknologi penyimpanan karbon (CCS/CCUS) dan pengembangan energi panas bumi.
"Transisi energi mengharuskan kita untuk memiliki pemahaman yang jauh lebih dalam tentang stabilitas perut bumi. Riset pemodelan struktur yang kami lakukan bukan sekadar mempelajari masa lalu tektonik, melainkan untuk menjamin keamanan teknologi masa depan, seperti penyimpanan emisi karbon di bawah tanah. Kita harus memastikan bahwa bumi tempat kita berpijak menjadi mitra yang stabil dalam perjalanan menuju emisi nol," ungkap Dr. Dumex.
2. Dr. Nonni Soraya Sambudi: Inovasi Material Hijau di Tingkat Molekuler
Dr. Nonni, yang masuk dalam daftar Top 2 Percent Scientists Worldwide 2025 versi Stanford University, fokus pada pengembangan teknologi material di tingkat molekuler. Melalui riset nanomaterial dan fotokatalis, ia berperan penting dalam mempercepat pembersihan emisi serta produksi energi bersih di sektor hilir (downstream).
"Masalah lingkungan terbesar seringkali muncul di tahap akhir produksi. Oleh karena itu, riset teknik kimia kini fokus pada sistem ekonomi sirkular, di mana limbah diputar kembali menjadi sumber daya. Tantangan kami adalah menciptakan bahan baku dan energi baru yang bermanfaat tinggi, namun tetap menjaga agar polusi industri tetap berada di titik terendah," imbuh Dr. Nonni.
3. Dr. Nila T. Berghuis: Regenerasi Baterai Li-ion Bekas untuk Ekonomi Sirkular
Sebagai ahli dari Fakultas Sains dan Ilmu Komputer, Jurusan Kimia, Dr. Nila menjadi jembatan antara inovasi material dan pelestarian lingkungan. Ia fokus pada regenerasi baterai Li-ion bekas, langkah krusial untuk memastikan adopsi teknologi hijau tidak meninggalkan beban ekologis bagi generasi mendatang.
"Energi hijau tidak boleh menyisakan jejak limbah. Fokus kami adalah mengubah baterai habis pakai menjadi ‘tambang’ bahan baku baru bagi industri kendaraan listrik nasional. Inilah esensi ekonomi sirkular: memastikan setiap komponen teknologi tetap bernilai dan selaras dengan upaya pemulihan bumi," tandas Dr. Nila.
4. Assoc. Prof. Dr. Eng. Ir. Mega Mutiara Sari: Tata Kelola Lingkungan dan Waste-to-Energy
Dari Fakultas Perencanaan dan Infrastruktur (FPI), Jurusan Teknik Lingkungan & Sustainability, Assoc. Prof. Mega fokus pada tata kelola lingkungan industri dan pengolahan limbah menjadi energi terbarukan (Waste-to-Energy) yang berkelanjutan. Melalui pendekatan rekayasa lingkungan berbasis keberlanjutan, ia memastikan pembangunan infrastruktur hijau tidak hanya menghindari terciptanya jejak polusi baru, tetapi juga mendukung ekonomi sirkular dan memberikan manfaat sosial bagi masyarakat sekitar.
"Transisi energi bukan sekadar mengganti sumber tenaga, melainkan tentang bagaimana kita memutus siklus polusi secara total dengan pendekatan berkelanjutan. Melalui teknologi yang tepat, kami mengubah beban limbah menjadi aset energi bersih yang bernilai, sekaligus menciptakan dampak positif bagi masyarakat. Inilah langkah nyata untuk memastikan setiap kemajuan teknologi berjalan selaras dengan pemulihan ekosistem hidup, kesejahteraan sosial, dan keberlanjutan generasi mendatang," tegas Mega.
5. Dr. Ir. Farah Mulyasari: Edukasi dan Humaniora dalam Transisi Energi
Sebagai ahli dari Fakultas Komunikasi dan Diplomasi, Jurusan Komunikasi, Dr. Farah memastikan transisi energi memiliki "wajah kemanusiaan" dengan memimpin strategi edukasi dan pendekatan humaniora agar setiap inovasi teknologi dapat diterima luas oleh masyarakat. Ia menegaskan bahwa dukungan sosial adalah kunci agar perubahan besar ini menjadi gerakan budaya yang nyata di tengah publik.
"Tanpa literasi dan penerimaan publik, teknologi secanggih apapun tidak akan berdampak besar tanpa literasi publik yang kuat. Tugas kami adalah menjembatani sains ke dalam narasi yang dipahami masyarakat, sehingga transisi energi bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan tanggung jawab kolektif untuk menjaga bumi tetap layak huni," tegas Dr. Farah.
6. Dr. Eka Puspitawati: Dampak Ekonomi Transisi Energi yang Berkeadilan
Dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Ekonomi, Dr. Eka memastikan transisi energi tetap berpihak pada stabilitas ekonomi nasional. Ia fokus pada dampak ekonomi dan perdagangan dari kebijakan energi, mulai dari hilirisasi biodiesel hingga dinamika pasar nikel sebagai bahan baku baterai masa depan.
"Transisi menuju energi bersih harus memiliki fondasi ekonomi yang kuat dan berkeadilan. Kami memantau bagaimana industri energi baru dan terbarukan, seperti bioenergy, dapat tumbuh tanpa memicu inflasi yang merugikan rakyat kecil dan menghindari kompetisi dengan sektor lain seperti pangan. Tujuan kami adalah memastikan kedaulatan energi nasional dicapai melalui kebijakan yang menjamin kesejahteraan ekonomi seluruh lapisan masyarakat," pungkas Eka.
Penghargaan dari Pimpinan Universitas Pertamina
Menanggapi kontribusi para peneliti perempuan ini, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, menegaskan bahwa kehadiran mereka merepresentasikan nilai inti inklusivitas dan kolaborasi lintas disiplin di institusi tersebut.
"Universitas Pertamina selalu menjunjung tinggi tata nilai inklusivitas dan kolaborasi lintas disiplin. Keenam tokoh perempuan UPER, membuktikan bahwa pendekatan disiplin ilmu mereka dapat menyatukan proses hulu, digitalisasi, hingga kebijakan ekonomi di hilir, adalah wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Merekalah Kartini masa kini yang tidak hanya mengajar di kelas, tetapi merancang langsung cetak biru kemandirian energi bangsa," ujar Prof. Djoko.
Saat ini, Universitas Pertamina membuka pendaftaran untuk calon mahasiswa yang ingin berkontribusi dalam transisi energi nasional. Pendaftaran dapat diakses melalui tautan resmi pmb.universitaspertamina.ac.id.