Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

DPR dukung Kementerian PPPA dan KPAI turun ke Cianjur

Jabar · Oleh Nayla Putri · · Diperbarui 2 Maret 2026

Kasus pencabulan 10 anak oleh pelaku SMP di Cianjur mendorong DPR RI meminta Kementerian PPPA dan KPAI turun tangan. Tujuan adalah penanganan khusus korban, evaluasi sistem perlindungan anak, dan mencegah kasus serius ini terulang.

DPR dukung Kementerian PPPA dan KPAI turun ke Cianjur

Kasus Pencabulan 10 Anak di Cianjur: DPR Dorong Intervensi Pusat dan Evaluasi Sistem Perlindungan Anak

Latar Belakang Kasus yang Menyayat Hati di Cianjur

Kasus pencabulan dan sodomi terhadap 10 anak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang dilakukan oleh seorang pelaku yang masih duduk di bangku SMP, telah menjadi sorotan publik dan menimbulkan kekhawatiran besar tentang sistem perlindungan anak di daerah ini. Anggota DPR RI dari Dapil III Jawa Barat, Abdul Azis, pada hari Jumat menyatakan bahwa kasus ini tidak biasa dan membutuhkan penanganan yang serius serta berprinsip pada peradilan anak.

"Ini kasus tidak biasa karena pelaku dan korban masih di bawah umur, sehingga kasus pencabulan dan sodomi di Cianjur membutuhkan penanganan luar biasa dan harus ditangani secara serius," ujar Abdul Azis.

Mengapa Intervensi Pemerintah Pusat Dibutuhkan?

Abdul Azis menekankan bahwa kasus ini tidak dapat ditangani hanya oleh pemerintah daerah. Kondisi Kabupaten Cianjur saat ini bahkan dinyatakan dalam darurat perlindungan anak, mengingat munculnya kasus pelaku anak yang melakukan tindakan kejahatan serius terhadap sesama anak. Oleh karena itu, dia mendorong Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk turun tangan langsung ke Cianjur.

Tujuan intervensi pusat ini bukan hanya untuk menangani kasus saat ini, tetapi juga untuk mencegah terjadinya kasus serupa di masa depan. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dianggap penting untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak di Cianjur.

Tindakan Konkrit untuk Mencegah Kasus Serupa

Untuk mengatasi masalah ini, Abdul Azis menyarankan beberapa tindakan konkrit yang harus diimplementasikan:

Peran Wakil Rakyat dalam Pengawasan Kasus Ini

Sebagai wakil rakyat, Abdul Azis menyatakan bahwa dia akan mengawal kasus ini secara langsung untuk memastikan bahwa semua tindakan yang diambil efektif dan bertanggung jawab. Dia juga menekankan bahwa tanggung jawab perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah.

"Jangan sampai terjadi kembali kasus yang sama, ini menjadi tanggung jawab bersama, sehingga saya sebagai wakil rakyat akan mengawal kasusnya untuk memastikan ada evaluasi total mengenai sistem pengawasan anak di Cianjur," katanya.

Dampak Jangka Panjang Trauma pada Korban

Tindakan kejahatan yang dialami oleh 10 anak di Cianjur dapat meninggalkan trauma yang mendalam jika tidak ditangani dengan benar. Oleh karena itu, pendampingan mental dan psikologis yang berkelanjutan sangat penting bagi para korban. Pemerintah daerah dan pusat harus bekerja sama dengan profesional kesehatan mental untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan.

Selain itu, keluarga korban juga perlu mendapatkan dukungan dan pendidikan tentang cara membantu anak-anak mereka mengatasi trauma. Tanpa dukungan yang tepat, korban mungkin mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain, belajar di sekolah, dan menjalani kehidupan normal.

Kesimpulan: Perlindungan Anak Adalah Tanggung Jawab Bersama

Kasus pencabulan 10 anak di Cianjur adalah pengingat bahwa sistem perlindungan anak di Indonesia masih memiliki banyak celah yang perlu diperbaiki. Intervensi dari pemerintah pusat melalui Kementerian PPPA dan KPAI adalah langkah penting untuk menangani kasus ini dan mencegah terjadinya kasus serupa di masa depan.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait, kita dapat menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak-anak di Indonesia, termasuk di Kabupaten Cianjur.