Citatah 125: Mercusuar Panjat Tebing Indonesia yang Terancam Punah
Citatah 125 Bandung Barat jadi saksi lahirnya panjat tebing modern Indonesia sejak 1976. Kini 70% kawasan karst terdampak penambangan dan terancam hilang.

Jejak Awal Panjat Tebing Modern Indonesia di Citatah 125
Di dinding-dinding kapur kawasan Karst Pabeasan, kini lebih dikenal sebagai Citatah 125, Kabupaten Bandung Barat, tersimpan cerita yang tak boleh dilupakan. Di tempat inilah, hampir lima dekade lalu, sejarah panjat tebing modern Indonesia mulai tertulis.
Mamay Salim menjadi salah satu generasi pertama yang merasakan sensasi memanjat tebing dengan teknik modern di kawasan ini. Baginya, setiap bongkahan batu yang hilang bukan sekadar perubahan bentang alam, melainkan lenyapnya bagian penting dari sejarah lahirnya olahraga panjat tebing di Tanah Air.
Kalau latihan di tebing sebenarnya militer sudah lebih dulu, tetapi versinya berbeda. Panjat tebing modern mulai dilakukan di sini pada 1976 oleh teman-teman Skygers, kemudian berkembang pesat pada era 1980-an hingga dikenal masyarakat luas.
—— Mamay Salim, Pemanjat Tebing Generasi Awal
Baca Juga: Perempuan Berlari 2026 Targetkan 3.000 Peserta di Kota Baru Parahyangan pada 18 Oktober
Skygers dan Awal Mula Olahraga Panjat Tebing Indonesia
Mamay merupakan salah satu pemanjat tebing generasi awal di Bandung yang ikut merasakan perkembangan panjat tebing modern di Citatah sejak 1976. Dari kawasan inilah olahraga panjat tebing kemudian tumbuh dan berkembang hingga melahirkan banyak atlet serta menjadi salah satu tonggak penting sejarah olahraga alam bebas di Indonesia.
Hasan Husaeri, anggota Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), menjelaskan bahwa kawasan yang kini dikenal sebagai Citatah 125 merupakan lokasi pertama praktik panjat tebing modern menggunakan peralatan khusus di Indonesia.
Fungsi Strategis Kawasan Citatah 125
Menurut Hasan, Citatah memiliki sejarah besar bagi dunia panjat tebing Indonesia. Selain menjadi arena olahraga, kawasan ini juga memiliki fungsi lain yang tidak kalah penting:
- Arena Olahraga — Tempat latihan dan pengembangan teknik panjat tebing modern
- Pusat Pendidikan — Lokasi belajar bagi generasi muda yang ingin menggeluti olahraga ini
- Area Rekreasi dan Petualangan — Daya tarik wisata minat tinggi
- Pembinaan Prestasi — Sarana menghasilkan atlet-atlet berbakat
Citatah memiliki sejarah besar bagi dunia panjat tebing Indonesia. Selain menjadi arena olahraga, kawasan ini juga memiliki fungsi pendidikan, rekreasi, petualangan, dan pembinaan prestasi.
—— Hasan Husaeri, FPTI
Perubahan Lanskap dalam Hampir 50 Tahun
Bagi Mamay, wajah Citatah saat ini jauh berbeda dibandingkan ketika pertama kali ia memanjat hampir 50 tahun lalu. Ia masih mengingat Tebing 125 yang dahulu dikelilingi bongkahan-bongkahan batu besar untuk latihan bouldering serta sejumlah dinding tebing yang kini telah hilang.
Perubahannya sangat terasa. Di sebelah kiri Tebing 125 dulu masih ada tebing-tebing yang dipanjat, sekarang sudah habis. Batu-batu besar di bawah Tebing 125 juga sudah hilang. Tahun 1990-an kondisinya mulai berubah, sekarang lebih parah lagi. Yang tersisa hanya bagian depan dekat jalan, sementara bagian belakang sudah banyak yang hilang.
—— Mamay Salim
Yoga Zara, pegiat pelestarian kawasan karst, mengungkapkan bahwa Citatah sejatinya bukan hanya tebing yang dikenal para pemanjat, melainkan bagian dari bentang Kawasan Karst Bandung Barat yang membentang hingga Rajamandala dan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur.
Nilai Sejarah dan Budaya yang Tersimpan
Kawasan karst Citatah menyimpan nilai sejarah dan budaya yang telah diwariskan masyarakat selama ratusan tahun. Nama-nama seperti Pabeasan, Pasir Pawon, Karang Pengantin, hingga Tebing Manik merupakan bagian dari identitas kawasan yang tidak bisa dipisahkan dari cerita rakyat, termasuk legenda Sangkuriang.
Ketika kawasan ini hanya dikenal sebagai Citatah 125, memori kolektif masyarakat tentang sejarah dan budayanya perlahan memudar. Padahal kawasan ini memiliki pesan yang sangat kuat tentang pentingnya menjaga alam.
—— Yoga Zara
Ancaman Penambangan dan Dampak Lingkungan
Yoga mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen kawasan karst Citatah telah terdampak aktivitas penambangan. Padahal bentang alam karst memiliki fungsi penting sebagai penyimpan cadangan air alami yang menopang kehidupan masyarakat.
Kawasan karst merupakan tangki air alami. Jika terus ditambang, sumber-sumber mata air akan hilang dan masyarakat sekitar akan merasakan dampaknya.
—— Yoga Zara
Perjuangan masyarakat bersama berbagai komunitas pecinta alam sejak 2010 sempat menghasilkan moratorium pertambangan dan masuknya kawasan tersebut dalam perlindungan tata ruang. Namun, perubahan regulasi pada 2024 membuat sebagian kawasan tidak lagi berstatus sebagai kawasan konservasi geologi.
Kekhawatiran yang sama juga dirasakan Mamay. Ia menilai perubahan bentang alam karst tidak hanya mengancam sejarah panjat tebing Indonesia, tetapi juga berdampak terhadap kondisi lingkungan, terutama ketersediaan air.
Saya berharap Citatah bisa diselamatkan. Kawasan ini sangat penting untuk hidrologi. Dulu saat musim kemarau masih ada aliran air, sekarang beberapa tempat sudah mengering. Mungkin ini juga dampak dari perubahan kawasan karst.
—— Mamay Salim
Upaya Pelestarian dan Harapan untuk Masa Depan
Meski menghadapi berbagai tantangan, Mamay melihat mulai tumbuh kesadaran masyarakat untuk menjaga Citatah. Beberapa desa telah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang mengelola kawasan wisata tebing, termasuk di Citatah 125. Pengelolaan dilakukan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), mulai dari menjaga kebersihan, mengatur pengunjung, hingga mengelola sampah sebagai upaya menjaga kelestarian kawasan.
Bukan semata-mata menarik biaya masuk, tetapi bagaimana kawasan ini tetap terawat dan bisa terus dinikmati. Harapannya Citatah tetap lestari karena ini bukan hanya milik para pemanjat, tetapi juga warisan untuk generasi berikutnya.
—— Mamay Salim
Komitmen Eiger dalam Pelestarian Citatah
Melalui kegiatan Media Field Journal, Eiger mengajak puluhan jurnalis dari berbagai media menelusuri sejarah, potensi, sekaligus tantangan pelestarian kawasan karst Citatah. Eiger berharap para jurnalis dapat melihat Citatah secara lebih utuh — bukan sekadar tebing untuk dipanjat, tetapi sebuah bentang alam yang menjadi saksi lahirnya panjat tebing modern Indonesia, sekaligus kawasan karst yang menyimpan nilai sejarah, budaya, dan fungsi ekologis yang harus terus dijaga.
Kawasan Citatah 125 kini berdiri di persimpangan antara pelestarian dan kerusakan. Nasibnya bergantung pada kesadaran kolektif seluruh masyarakat untuk menjaga warisan berharga ini sebelum terlambat.