Bongkar Brankas Rahasia Sentul, Polisi Sita 74 Kg Emas dan Rp 543 Miliar
Polisi geledah 12 lokasi terkait korupsi batubara dan Jiwasraya, sita 74 kg emas batangan dan uang Rp 543 miliar dari rumah mewah Sentul.

Penggeledahan besar-besaran kembali dilakukan kepolisian Republik Indonesia. Dalam operasi yang menyita perhatian publik, polisi berhasil mengamankan harta bernilai fantastis dari 12 lokasi berbeda.
Rincian Aset yang Diamankan
Jika diakumulasi, total nilai barang bukti yang disita mencapai angka mengejutkan, yakni lebih dari Rp 543,2 miliar. Rincian penyitaan meliputi:
Baca Juga: BMKG Prediksi Cuaca Bandung Senin 24 Agustus Cerah Berawan Sepanjang Hari
- 74 kilogram emas batangan
- Uang tunai dalam 16 jenis mata uang asing
- Beragam dokumen dan perangkat elektronik
Barang bukti tersebut terkait dengan tiga kasus korupsi besar yang melibatkan penyelenggara negara.
Penemuan dari Rumah Mewah Sentul
Penggeledahan paling menyita perhatian publik terjadi di sebuah rumah mewah kawasan Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Rumah ini diketahui milik seorang petinggi kejaksaan agung.
Baca Juga: IIGCE 2026 Gagas Swasembada Energi lewat Panas Bumi, 88 Persen Cadangan Belum Tergarap
Dalam operasi yang berlangsung hingga Kamis dini hari tersebut, polisi berhasil membongkar pintu brankas rahasia. Di dalamnya terdapat ruangan mirip kamar yang menjadi tempat penyimpanan aset-aset fantastis.
"Setelah dibuka, koper-koper tersebut berisi 74 kilogram emas batangan, 4.767.300 dolar AS, 14.083.800 dolar Singapura, serta uang tunai rupiah sebesar Rp 100 juta," jelas Kepala Kortastipidkor Polri, Inspektur Jenderal Pol Totok Suharyanto.
Jika dikonversi berdasarkan nilai kurs saat ini, total barang bukti dari rumah mewah di Sentul tersebut diperkirakan menembus angka fantastis, yakni mendekati Rp 476 miliar.
Penggeledahan di Jakarta Selatan
Sebelumnya, pada hari Rabu, tim kuasa hukum lebih dulu menggeledah dua lokasi di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Kedua lokasi tersebut adalah Cafe de'CLAN Signature dan Koin Money Changer.
Penyitaan di kafe ini mencapai hampir Rp 60 miliar yang disimpan dalam brankas tersembunyi. Rinciannya meliputi:
- 3.130.000 Dolar Singapura (SGD)
- 889.965 Dolar Amerika Serikat (USD)
- Rp 259.159.000 uang tunai pecahan rupiah
Polisi juga mengamankan dokumen penting dan perangkat elektronik dari lokasi kafe.
Selanjutnya, di Koin Money Changer, petugas menemukan 71 item barang bukti serta uang tunai dari 16 jenis mata uang asing berbeda dengan taksiran nilai sekitar Rp 7,2 miliar.
Seluruh barang bukti dari berbagai lokasi telah diamankan di Gedung Merah Putih Putih untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut.
Tiga Kasus yang Diusut
Penggeledahan maraton ini merupakan bagian dari pengembangan tiga kasus dugaan korupsi besar, yaitu:
- Pengadaan batu bara di PT PLN (Persero)
- Dugaan korupsi di PT Asabri (Persero) dan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2020–2025
- Pencucian uang dalam penyelesaian utang PT CBS kepada PT KNI
Momen Kontroversial
Momen paling kontroversial terjadi saat puluhan prajurit TNI terlihat berada di lokasi penggeledahan rumah mewah Sentul. Kedatangan mereka memicu reaksi tajam dari berbagai pihak.
SETARA Institute melalui Ketua Dewan Nasional, Hendardi, mengecam keras dugaan tersebut.
"Apa yang sedang dipertontonkan kepada publik bukan hanya intervensi hukum, melainkan penggunaan institusi pertahanan negara sebagai tameng bagi kepentingan koruptor. Ini adalah pengkhianatan terhadap negara," tegas Hendardi.
Hendardi mengingatkan bahwa secara regulasi, tidak ada satu pun aturan yang melegitimasi prajurit TNI untuk menghalangi tindakan penyidikan oleh aparat penegak hukum sipil.
Imbauan dan Proses Hukum
Kapuspenkum Kejagung Anang Suprianto menyatakan bahwa institusi menghormati proses hukum yang tengah berjalan di kepolisian.
"Kami meyakini setiap proses hukum dilakukan dengan alat bukti yang sah sesuai ketentuan berlaku. Kami imbau masyarakat menunggu informasi resmi dari penegak hukum yang menangani," katanya.
Hingga berita ini diturunkan, Kortastipidkor Polri masih terus melakukan pendalaman dan belum membeberkan inisial para tersangka maupun pemilik rumah mewah yang menjadi tempat penyimpanan aset-aset fantastis tersebut.
Penyitaan aset-aset ini menjadi bukti nyata bagaimana korupsi di sektor-sektor high-level telah merugikan keuangan negara secara masif. Masyarakat diharapkan mendukung proses hukum dan tetap kritis terhadap upaya-upaya yang dapat melemahkan independentiasis peradilan.
Proses hukum masih terus berlanjut, dan publik diajak untuk mengawal hingga tuntas.