Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Bandung Makin Dingin: BMKG Ungkap Penyebab dan Prakiraan Cuaca Terkini

KBB · Oleh Salsa Maharani · · Diperbarui 2 Maret 2026

Bandung diguyur cuaca dingin sejak awal Januari 2026. BMKG menjelaskan fenomena ini terkait musim hujan dan proses alami di atmosfer. Namun, tantangan menghadapi bencana dan perubahan iklim memerlukan adaptasi proaktif untuk mencegah kerugian lebih besar.

Bandung Makin Dingin: BMKG Ungkap Penyebab dan Prakiraan Cuaca Terkini

Bandung Diselimuti Dingin: Analisis BMKG dan Tantangan Adaptasi Iklim

Bandung dan wilayah sekitarnya menghadapi cuaca dingin yang intens, fenomena yang telah terasa sejak awal Januari 2026. Tercatat, suhu udara mencapai 20,4°C pada tanggal 4 dan 8 Januari 2026. Kejadian ini memicu pertanyaan mengenai penyebab di balik penurunan suhu drastis ini dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Mengapa Bandung Lebih Dingin? Penjelasan Ilmiah di Balik Musim Hujan

Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa dinginnya suhu di Jawa Barat, termasuk Bandung, selama ini adalah hal yang lumrah terjadi pada musim hujan. Ada beberapa faktor ilmiah yang berperan dalam fenomena ini:

“Suhu dingin saat musim hujan adalah hal yang normal,” Teguh menegaskan, berdasarkan data yang terekam. Meskipun demikian, intensitas cuaca dingin kali ini cukup menarik perhatian publik.

Prakiraan Cuaca Jabar: Potensi Hujan Beragam Intensitas

Prakiraan cuaca terkini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Jawa Barat masih akan diguyur hujan dengan intensitas bervariasi:

Parameter Cuaca:

Bencana Bukan Sekadar Alam: Membangun Resiliensi yang Holistik

Di sisi lain, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, menyoroti bahwa bencana, termasuk perubahan iklim dan dampaknya, tidak dapat lagi dipandang sebagai entitas terisolasi. Bencana adalah bagian dari “risiko sistemik” yang memiliki dampak luas terhadap berbagai sektor, dari ekonomi, sosial, hingga kemiskinan.

“Risiko sistemik berarti satu kejadian bencana dapat memicu dampak lanjutan atau collateral impact di berbagai sektor. Contohnya adalah peristiwa tsunami Aceh 2004 yang membutuhkan waktu pemulihan hingga empat tahun dengan anggaran lebih dari Rp 113 triliun untuk mengembalikan fungsi wilayah terdampak. Pertanyaannya, apakah kejadian-kejadian bencana yang terus berulang ini menjadi wake up call bagi kita, atau justru kembali kita abaikan,” papar Raditya dalam sebuah forum ilmiah.

Raditya mengemukakan bahwa anggaran penanganan bencana di Indonesia terus meningkat, mencapai rata-rata Rp22 triliun per tahun menurut catatan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Angka ini mencerminkan pendekatan yang masih reaktif dalam menghadapi bencana, di mana dana besar dikeluarkan setelah kejadian, bukan untuk pencegahan.

“Tantangan muncul ketika investasi mitigasi kerap dipertanyakan dari sisi keuntungan ekonomi. Contohnya membangun tanggul, revenue-nya di mana? Ini yang sering jadi pertanyaan. Padahal manfaatnya adalah menyelamatkan nyawa dan mencegah kerugian yang jauh lebih besar,” tegasnya, menekankan pentingnya pergeseran paradigma dari respons pascabencana menuju mitigasi dan adaptasi yang proaktif.