Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Bambu Digeser Plastik, Pembuat Boboko dan Bilik di Bandung Barat Tak Lagi Dilirik Anak Muda

KBB · Oleh ·

Pengrajin bambu di Bandung Barat mulai beralih profesi karena permintaan peralatan bambu turun drastis. Anak muda tidak lagi belajar mengolah bambu, padahal pengetahuan tradisional itu mulai hilang bersamaan dengan digesernya bambu oleh plastik.

Bambu Digeser Plastik, Pembuat Boboko dan Bilik di Bandung Barat Tak Lagi Dilirik Anak Muda

Di Kampung Ciwaruga, Kecamatan Parongpong, satu per satu pengrajin bambu mulai tutup kiosnya. Mereka yang dulu membuat boboko, nyiru, dan bilik dari batang awi kini lebih banyak mengurusi tanaman hias. "Dulu hampir semua rumah di sini punya最少 satu alat bambu," kata Ujang (67), pengrajin yang sudah 40 tahun bekerja dengan bambu. "Sekarang anak-anak lebih suka beli yang plastik. Lebih murah, katanya."

Kemunduran itu bukan hanya soal benda yang hilang. Ketika bambu ditinggalkan, pengetahuan tentang cara mengolahnya ikut menghilang bersama generasi yang tahuial这项技艺。 Keterampilan memilih jenis bambu yang tepat, menentukan waktu pengambilan, hingga teknik menganyam menjadi peralatan rumah tangga tidak lagi dipraktikkan.

Di Bandung Barat, bambu pernah menjadi bagian dari infrastruktur pedesaan yang sederhana tapi penting. Jangkar dibuat dari bambu untuk konstruksi ringan. Pengairan sawah menggunakan pipa bambu sebelum plastik murah masuk. Kandang ternak dan warung pinggir jalan banyak yang menggunakan dinding bilik dari anyaman bambu.

Baca Juga: Pengendara Mobil Tertabrak Pejalan Kaki di Jalan Lodaya Bandung, Korban 55 Tahun Meninggal di TKP

Nilai kebersamaan dalam masyarakat Sunda yang disebut silih asih, silih asah, dan silih asuh juga terlihat dalam cara bambu tumbuh. Satu batang mungkin rapuh. Tetapi ketika tumbuh membentuk rumpun, ia menjadi kuat dan sulit dicabut. Pengrajin senior di Bandung Barat biasanya bekerja dalam kelompok kecil, satu传授技艺 kepada yang lain dalam proses mengerjakan pesanan.

Pesanan terakhir untuk peralatan bambu di beberapa desa di Bandung Barat datang dari proyek pembangunan rumah adat dan keperluan upacara adat. Namun volume pesanan itu terus menurun. "Kalau untuk kebutuhan rumah tangga, sudah hampir tidak ada," kata Dedi (52), pedagang material bekas di Kecamatan Ngamprah. "Yang beli sekarang cuma untuk dekorasi atau acara."

Modernisasi memang mengubah pola pikir tentang benda-benda sehari-hari. Plastik, logam, dan bahan sintesis masuk menggantikan fungsi bambu karena dianggap lebih tahan lama dan lebih praktis. Tapi perpindahan itu membawa konsekuensi yang jarang dibahas: apa yang terjadi pada ingatan kebudayaan ketika benda-benda tradisionil hilang dari peredaran.

Pengetahuan tentang bambu tidak hanya berupa keterampilan teknis. Di dalamnya tersimpan ingatan tentang bagaimana generasi sebelumnya memandang hubungan manusia dengan lingkungan. Bambu yang ditanam hari ini tidak harus langsung dinikmati hari ini. Ia tumbuh terlebih dahulu dan baru memberikan manfaat Generasi mendatang. Cara pandang lintas generasi itu kini ikut hilang ketika tidak ada lagi yang mengolahnya.