Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Adaptogen Unik Pegunungan Arktik yang Diam-diam Dipakai Pasukan Soviet

Jabar · Oleh · · Diperbarui 19 Agustus 2026

Rhodiola rosea, adaptogen rahasia pas luar angkasa Soviet kini terbukti secara ilmiah. Tanaman Arktik ini bantu atasi stres dan kelelahan tanpa efek samping berat.

Adaptogen Unik Pegunungan Arktik yang Diam-diam Dipakai Pasukan Soviet

Rahasia Kesehatan Pasukan Soviet dari Pegunungan Arktik

Selama dekade Perang Dingin, ada satu rahasia kesehatan yang disimpan rapat oleh militer Uni Soviet. Para kosmonaut, atlet olimpiade, dan tentara garis depan mereka diam-diam mengonsumsi suplemen dari akar tanaman yang tumbuh di pegunungan Arktik—Rhodiola rosea.

Tanaman ini kini menjadi salah satu adaptogen paling diteliti secara ilmiah, setelah puluhan tahun

Baca Juga: Mahasiswa Unpad Serahkan Kajian Kekerasan Demo kekapolda Jawa Barat

Apa Itu Rhodiola Rosea?

Rhodiola rosea adalah tanaman adaptogenik yang telah digunakan dalam pengobatan tradisional Skandinavia dan Rusia selama berabad-abad. Viking Norwegia diketahui menggunakan tanaman ini untuk menjaga stamina dalam pelayaran panjang melintasi lautan yang penuh badai.

"Rhodiola rosea memiliki sejarah panjang penggunaan dalam pengobatan tradisional untuk merangsang sistem saraf, mengobati kelelahan, dan meningkatkan performa fisik."

Dalam pengobatan tradisional Russia, akar tanaman ini digunakan untuk meningkatkan daya tahan, mengurangi kelelahan, dan meningkatkan toleransi terhadap kondisi fisik yang keras—kondisi yang serupa dengan tantangan yang dihadapi para militer Soviet.

Baca Juga: Majalengka bangun demplot bawang putih 1 hektare untuk cari varietas yang cocok dipasar

Mengapa Soviet Tertarik pada Adaptogen?

Mulai tahun 1940-an hingga 1980-an, ilmuwan Soviet di bawah program riset adaptogen Israel Brekhman mempelajari rhodiola dan senyawa botanikal terkait. Tujuannya jelas: menciptakan peningkat performa untuk kosmonaut, personel militer, atlet, dan profesional bertekanan tinggi.

Sebagian besar penelitian ini awalnya diklasifikasikan sebagai rahasia atau hanya dipublikasikan dalam jurnal berbahasa Rusia. Masuknya rhodiola ke dalam ilmu kedokteran integratif Barat berlangsung secara bertahap, namun dampaknya kini mulai terasa.

Istilah adaptogen sendiri—yang menggambarkan zat yang secara non-spesifik meningkatkan ketahanan terhadap stres fisik, kimia, dan biologis tanpa mengganggu keseimbangan fisiologis normal—diformalkan selama era riset Soviet ini.

Mekanisme Kerja: Bukan Stimulan, Tapi Pengatur Keseimbangan

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang rhodiola adalah menyamakannya dengan kafein atau suplemen energi biasa. Anggapan ini sepenuhnya keliru.

Rhodiola rosea bekerja dengan cara yang sangat berbeda:

"Bayangkan rhodiola seperti thermostat—bukan pemanas. Rhodiola tidak langsung mendorong energi ke atas, tapi membantu tubuh menemukan titik keseimbangannya sendiri ketika sedang dalam tekanan."

Rhodiola menarget kelelahan mental dan burnout melalui mekanisme yang berbeda dari banyak suplemen lain di pasaran. Sebagian besar adaptogen, termasuk rhodiola, membutuhkan 4 hingga 12 minggu penggunaan harian yang konsisten untuk menunjukkan manfaat penuh. Mereka bukan stimulan dan tidak menghasilkan efek segera.

Bukti dari Uji Klinis Modern

Menurut data uji klinis acak pada manusia, ashwagandha dan rhodiola memiliki bukti klinis paling kuat di antara semua adaptogen yang ada saat ini.

Penelitian klinis yang dikumpulkan dalam tinjauan 2024 di jurnal Integrative and Complementary Therapies mengulas bukti penggunaan R. rosea untuk:

Hasilnya cukup konsisten untuk kelelahan mental dan stres. Yang menarik, salah satu uji klinis membandingkan rhodiola langsung dengan sertralin, antidepresan konvensional, untuk gangguan depresi mayor. Hasilnya menunjukkan bahwa meski sertralin sedikit lebih efektif, rhodiola memiliki profil efek samping yang jauh lebih baik dan lebih dapat ditoleransi pasien.

Senyawa Aktif di Balik Manfaat Rhodiola

Efek rhodiola terutama berasal dari dua senyawa utama:

  1. Salidroside — konstituen aktif yang paling banyak dipelajari dan secara luas dianggap sebagai pendorong utama efek neuroprotektif, anti-kelelahan, dan modulasi stres
  2. Rosavin — senyawa yang bekerja sinergis dengan salidroside

Kedua senyawa ini bekerja pada sumbu HPA (Hipotalamus-Pituitari-Adrenal), yaitu sistem utama tubuh dalam merespons stres. Dengan memodulasi sistem ini, rhodiola membantu tubuh tidak bereaksi berlebihan terhadap pemicu stres sambil tetap mempertahankan kewaspadaan dan fungsi kognitif yang optimal.

Perhatian Sebelum Mengonsumsi

Meskipun rhodiola memiliki profil keamanan yang relatif baik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

"Kualitas produk sangat menentukan efektivitas. Pastikan memilih suplemen yang terstandarisasi dan memiliki sertifikat analisis yang jelas."

Kesimpulan

Rhodiola rosea telah menempuh perjalanan yang panjang. Sains modern kini memvalidasi apa yang sudah lama diketahui para praktisi pengobatan tradisional dan ilmuwan Soviet: tanaman dari pegunungan Arktik ini memang memiliki manfaat nyata untuk kesehatan mental dan fisik manusia.