5 Wilayah Penghasil 42 Ton: Buah Naga Jadi Komoditas Hortikultura Unggulan Kuningan
Buah naga menjadi komoditas hortikultura menjanjikan di Kuningan, dengan produksi 42 ton dari 5 wilayah. Desa Sangkanhurip jadi destinasi agrowisata.

Komoditas buah naga di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, terus menunjukkan tren positif sebagai salah satu produk hortikultura menjanjikan bagi petani lokal.
Potensi Ekonomi Buah Naga di Kuningan
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan secara konsisten mendorong pengembangan buah naga sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi. Kepala Diskatan Kuningan, Wahyu Hidayah, menyatakan bahwa buah naga memiliki prospek pasar yang menjanjikan, menjadikannya salah satu fokus utamaprogram pengembangan pertanian daerah.
"Buah naga ini memiliki potensi untuk menjadi komoditas unggulan daerah, karena selain memiliki nilai ekonomi, juga mulai diminati masyarakat," terang Wahyu.
Lima Wilayah Penghasil Buah Naga
Berdasarkan catatan Diskatan Kuningan, produksi buah naga periode Januari hingga Juni 2026 tersebar di lima kecamatan sentra pengembangan. Kecamatan Mandirancan, khususnya Desa Cimara, mencatat produksi terbesar dengan volume sekitar 32,8 ton.
Berikut sebaran produksi buah naga di beberapa wilayah:
- Kecamatan Mandirancan (Desa Cimara): 32,8 ton
- Kecamatan Cigandamekar (Desa Sangkanhurip): 3,3 ton
- Kecamatan Nusaherang (Desa Windusari): 3,3 ton
- Kecamatan Jalaksana (Desa Sadamantra): 2,5 ton
Total produksi yang mencapai puluhan ton setiap semester ini menunjukkan potensi besar untuk terus dikembangkan.
Sangkanhurip, Destinasi Agrowisata Buah Naga
Desa Sangkanhurip, Kecamatan Cigandamekar, telah berhasil memanfaatkan kebun buah naga sebagai destinasi agrowisata edukasi. Pengunjung dapat melihat langsung proses budidaya buah naga kuning yang dikelola petani lokal.
Keberadaan agrowisata ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkenalkan potensi buah naga Kuningan kepada masyarakat luas.
Strategi Peningkatan Daya Saing
Guna memastikan buah naga Kuningan mampu bersaing di pasar yang lebih luas, pemerintah daerah menerapkan beberapa strategi pengembangan:
- Peningkatan kualitas produksi melalui pendampingan teknis kepada petani
- Inovasi budidaya untuk menghasilkan buah naga berkualitas prima
- Penguatan pemasaran agar jangkauan distribusi semakin luas
Peluang bagi Petani Muda
Sektor hortikultura, khususnya buah naga, membuka peluang nyata bagi regenerasi petani. Wahyu Hidayah menegaskan bahwa pertanian modern tidak hanya berorientasi pada produksi, melainkan juga penciptaan nilai tambah dan فرص usaha baru.
"Pertanian sekarang tidak hanya soal produksi, tetapi bagaimana menciptakan nilai tambah dan peluang usaha bagi masyarakat," jelas Wahyu.
Prospek ke Depan
Dengan dukungan pendampingan dan inovasi berkelanjutan, buah naga Kuningan berpelümênjadi primadona hortikultura Jawa Barat. Ke depan, koordinasi antara pemerintah, petani, dan pelaku usaha menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi komoditas ini.
Pengembangan buah naga diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga memperkuat posisi Kuningan sebagai sentra produktif dalam sektor hortikultura Indonesia.