Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

119 Gempa Guncang Kabupaten Bandung Selama 38 Hari, Warga Pangalengan Terus Merasakan Getaran

Bandung · Oleh ·

119 Gempa Guncang Kabupaten Bandung Selama 38 Hari, Warga Pangalengan Terus Merasakan Getaran

119 Gempa Guncang Kabupaten Bandung Selama 38 Hari, Warga Pangalengan Terus Merasakan Getaran

Warga Pangalengan, Kabupaten Bandung, tidak lagi terkejut saat gempa datang. Dalam 38 hari terakhir, bumi di bawah kaki mereka bergetar berulang kali, mencapai 119 kali gempa dengan Magnitudo hingga 3,4.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisik (BMKG) mencatat rangkaian gempa ini terjadi pada 11 Agustus hingga 17 September 2026. Pada periode 16 hingga 17 September saja, terjadi 42 kejadian gempa. Gempa terbaru berkekuatan Magnitudo 2,7 pada Kamis pukul 06.21 WIB. Pusatnya berada di darat, 27 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung, pada kedalaman 4 kilometer.

Gempa tersebut dirasakan di Pangalengan, Talegong di Kabupaten Garut, dan Cisewu dengan Skala III Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada skala ini, getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam ruangan dan menyebabkan benda-benda ringan bergeser.

Baca Juga: Persib Bandung Kalahkan FC Seoul 1-0 di Seoul Lewat Gol Andrew Jung

Baca juga: 26 Kali Gempa Guncang Bandung Sepanjang 16 September, Tiga Terasa Warga Pangalengan

"Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa pusat gempa bumi membentuk pola kelurusan ke arah barat daya-timur laut dengan jarak sekitar 5-8 Km sebelah barat Sesar Garsela Segmen Kendang dan sebelah utara Sesar Garsela Segmen Kencana. Secara tektonik gempa bumi tersebut berkaitan dengan aktivitas sesar lokal," kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto.

Kondisi ini mengkhawatirkan karena menurut Wijayanto, sebaran gempa yang terjadi tidak berada pada zona sesar yang sudah terpetakan. Gempa berada di area yang belum teridentifikasi sebelumnya.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Asia-Pasifik Tidak Merata, Trader Muda Bandung Waspadai Pergeseran Sentimen

"Merujuk pada buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia keluaran Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen) tahun 2024, sebaran gempa bumi yang terjadi tidak berada pada zona sesar Garsela Segmen Kendang, Garsela Segmen Kencana, maupun Sesar Cicalengka," terang Wijayanto.

BMKG memiliki 35 sensor seismik yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Barat. Jaringan ini mendeteksi dan mencatat gempa-gempa mikro bermagnitudo kecil dengan presisi yang cukup baik. Menurut Wijayanto, aktivitas seismik berskala kecil umumnya bersumber dari pergerakan patahan aktif pada sesar-sesar darat yang membentang di wilayah Jawa Barat.

Warga yang bermukim di sepanjang patahan-patahan aktif di Jawa Barat kini menghadapi ancaman yang belum sepenuhnya tergambar dalam peta bahaya resmi. Perlu kajian mendalam untuk memetakan sumber gempa yang baru terungkap melalui rentetan kejadian ini.

BMKG memastikan akan terus memonitor aktivitas gempa dan menyampaikan informasi terkini kepada pemerintah daerah serta masyarakat. Hingga artikel ini ditulis, tidak ada laporan kerusakan maupun korban jiwa dari rangkaian gempa di Kabupaten Bandung.