Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Program Budikdamber Berdayakan Warga Depok Hadapi Kenaikan Harga Pangan

Jabar · Oleh Tasya Oktaviani ·

Program Budikdamber terintegrasi hidroponik dan budidaya ikan dari Universitas Pertamina membantu warga Depok, terutama kelompok pensiunan, mengatasi kenaikan harga pangan dan meningkatkan ketahanan pangan keluarga.

Program Budikdamber Berdayakan Warga Depok Hadapi Kenaikan Harga Pangan

Pada tengah tahun 2025, pernyataan Presiden RI mengenai urgensi ketahanan energi dalam KTT BIMP-EAGA di Cebu, Filipina, menjadi sinyal serius bagi ketahanan ekonomi keluarga di wilayah penyangga perkotaan. Ketidakstabilan global yang mendorong kenaikan harga energi turut meningkatkan biaya distribusi pangan dan kebutuhan pokok, menekan daya beli masyarakat di kawasan padat penduduk seperti Depok. Khususnya di RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya, warga—terutama kelompok pensiunan yang kehilangan 30 hingga 50 persen pendapatan—menghadapi beban ganda akibat fluktuasi harga pangan.

Tantangan Kesejahteraan Warga Penyangga Jakarta

Keterbatasan lahan dan penurunan daya beli membuat keluarga di kawasan Depok ini sulit mengatasi tekanan ekonomi. Namun, Universitas Pertamina mengambil langkah preventif dengan memanfaatkan Posyandu sebagai pusat edukasi ketahanan pangan keluarga. Posyandu dipilih sebagai simpul sosial karena berada di garda terdepan dalam mendukung kesejahteraan keluarga.

"Posyandu adalah simpul sosial yang sangat kuat karena berada di garda terdepan keluarga. Melalui wadah ini, kita mentransformasikan pesan Presiden mengenai ketahanan pangan menjadi aksi nyata. Kami membina warga agar mampu memproduksi pangan sendiri, sehingga dapur mereka tetap aman meskipun terjadi guncangan harga di pasar global," ujar Evi Sofia, Ketua Tim PkM Universitas Pertamina.

Inovasi Budikdamber: Solusi Hemat dan Produktif

Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan adalah Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember terintegrasi Hidroponik). Model ini memungkinkan warga memanen protein ikan sekaligus sayuran secara bersamaan hanya dengan memanfaatkan teras rumah yang sempit. Sistem ini menerapkan resirkulasi nutrisi alami: limbah ikan diolah secara mandiri menjadi pupuk bagi tanaman, sehingga warga dapat meminimalisir penggunaan air serta biaya perawatan namun tetap memperoleh hasil panen yang maksimal. Dibandingkan metode budidaya pangan konvensional, sistem ini lebih efisien dan cocok untuk lahan sempit di perkotaan.

Reaksi Warga dan Manfaat Nyata

Peserta program ini didominasi oleh warga RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya yang antusias mengubah lahan sempit menjadi unit produksi pangan mandiri. Program yang telah dilaksanakan sejak akhir tahun 2025 ini menjadi bantalan ekonomi bagi masyarakat, terutama kelompok pensiunan yang rentan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. Evi menambahkan bahwa dengan modal yang sangat terjangkau, satu keluarga dapat menekan pengeluaran belanja pangan bulanan secara signifikan, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga meskipun harga energi melonjak. Manfaat nyata dari kemandirian pangan ini dirasakan langsung oleh warga di tingkat akar rumput. Ketua RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya, Endang Sungkono, menambahkan bahwa warga di wilayahnya kini memiliki aktivitas produktif yang memberikan dampak instan bagi konsumsi harian keluarga:

"Dengan hadirnya inovasi Budikdamber ini, warga kami, khususnya para pensiunan, menjadi lebih berdaya. Selain membantu ekonomi, kegiatan ini juga memberikan semangat baru bagi warga untuk tetap produktif meski di lahan terbatas," beber Endang.

Peran Akademisi dalam Membangun Ketahanan Nasional

Pjs Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, menegaskan pentingnya peran akademisi dalam mentransformasikan isu global menjadi solusi nyata. Inisiatif ini sekaligus menjadi langkah konkret universitas dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-2 (Tanpa Kelaparan) dan poin ke-8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).

"Universitas Pertamina berkomitmen menghadirkan inovasi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Masalah ketahanan energi dan pangan yang diserukan Presiden memerlukan respons akademis yang aplikatif. Melalui penguatan ekonomi keluarga berbasis komunitas seperti ini, kita sedang membangun fondasi ketahanan nasional yang lebih kokoh dari tingkat yang paling dasar," tutup Prof. Djoko.

Kesimpulan

Inisiatif Universitas Pertamina ini menunjukkan bahwa solusi sederhana dan terjangkau dapat menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global. Dengan memberdayakan warga di tingkat lokal, program ini tidak hanya membantu keluarga mengatasi kenaikan harga pangan, tetapi juga membangun dasar yang lebih kokoh untuk ketahanan nasional.