Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Menu MBG Dianggap Membosankan, legislator Bandung Usulkan Solusi Kreatif

Bandung · Oleh · · Diperbarui 8 Agustus 2026

Program MBG di Bandung dikeluhkan warga karena menu monoton bikin anak bosan. legislator Tedy usulkan pengelolaan kantin sekolah atau bantuan alternatif.

Menu MBG Dianggap Membosankan, legislator Bandung Usulkan Solusi Kreatif

Program Makan Bergizi Gratis Menuai Keluhan dari Masyarakat Bandung

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai salah satu program prioritas pemerintah pusat untuk meningkatkan gizi anak-anak Indonesia, kini tengah menghadapi sorotan publik yang cukup serius. Khususnya di wilayah Kota Bandung dan Kota Cimahi, program ini rupanya belum sepenuhnya berjalan sesuai harapan.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Dapil Jawa Barat I yang meliputi Kota Bandung dan Kota Cimahi, H Tedy Rusmawan, AT, MM, menyampaikan hal tersebut dalam kesempatan reses sidang III tahun anggaran 2025-2026. Selama dua pekan pelaksanaan reses, legislator yang duduk di Komisi IV tersebut menerima berbagai keluhan dari masyarakat, terutama para ibu yang memiliki anak peserta program MBG di sekolah.

Baca Juga: Electronic City Buka Gerai Ketiga di Kiara Artha Park Bandung, Tawarkan Cicilan 0 Persen dan Flash Sale


Keluhan Utama: Variasi Menu Terlalu Monoton

Berdasarkan aspirasi yang diterima Tedy, keluhan paling mendasar yang disampaikan masyarakat adalah terkait variasi menu program MBG yang dianggap sangat membosankan. Para ibu menyampaikan bahwa anak-anak mereka mulai kehilangan minat terhadap makanan yang disajikan setiap harinya.

Baca Juga: Nakes PPPK di Kabupaten Bandung Terancam Pemutusan Kontrak Usai Diduga Bunuh Waktu Pasien Sebelum Meninggal

"Selama reses, cukup banyak ibu-ibu yang menyampaikan keluhan terkait menu Makan Bergizi Gratis yang dianggap membosankan. Akibatnya, konsumsi makanan oleh anak-anak menjadi tidak optimal," jelas Tedy Rusmawan.

Kondisi ini kemudian berujung pada masalah lain yang tidak kalah serius, yakni meningkatnya volume sampah sisa makanan di lingkungan sekolah. Banyak makanan yang tidak menghabiskan oleh siswa dan akhirnya terbuang sia-sia, padahal program ini dirancang untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang memadai.


Dampak Lebih Luas dari Masalah Menu

Tedy menilai bahwa permasalahan menu MBG ini sebenarnya mencerminkan isu yang lebih fundamental. Beliau menekankan bahwa keberhasilan program MBG tidak cukup diukur hanya dari tersalurkannya makanan, melainkan juga dari tingkat konsumsi aktual dan kemampuan makanan tersebut dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.

Hal ini menjadi perhatian serius mengingat tujuan awal program adalah meningkatkan kualitas gizi dan mendukung tumbuh kembang generasi muda Indonesia. Jika makanan tidak dikonsumsi secara optimal, maka tujuan tersebut akan sulit tercapai.


Solusi Alternatif yang Diajukan Masyarakat

Dalam reses tersebut, masyarakat menyampaikan beberapa alternatif yang dinilai dapat meningkatkan efektivitas program MBG:

"Ibu-ibu mengharapkan ada alternatif, misalnya MBG dikelola oleh kantin sekolah sehingga menu yang disajikan bisa lebih bervariasi dan disesuaikan dengan karakteristik siswa di masing-masing sekolah," tutur Tedy.

"Ada juga aspirasi agar bantuan diserahkan kepada orang tua, terutama ibu, untuk dibuatkan makanan di rumah. Sebab, orang tua tentu lebih mengetahui menu kesukaan anaknya sekaligus dapat memastikan kebutuhan gizinya terpenuhi," tambah legislator senior ini.


Harapan ke Depan: Evaluasi Komprehensif Diperlukan

Meskipun berbagai alternatif telah diajukan, Tedy menegaskan bahwa seluruh masukan tersebut memerlukan kajian yang komprehensif dari pemerintah sebelum diterapkan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa perubahan yang dilakukan tidak mengabaikan tujuan utama program.

"Kami berharap berbagai aspirasi yang disampaikan masyarakat ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah agar program Makan Bergizi Gratis benar-benar efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat maksimal bagi anak-anak," tutup Tedy Rusmawan.

Program MBG sejatinya merupakan langkah positif dalam upaya mengatasi masalah gizi anak Indonesia. Namun, implementasi di lapangan menunjukkan bahwa masih diperlukan penyesuaian agar program ini benar-benar dapat memberikan manfaat optimal bagi generasi muda, khususnya di wilayah Kota Bandung dan sekitarnya.

Evaluasi berkala serta membuka ruang aspirasi dari masyarakat menjadi kunci penting dalam menyempurnakan program ini ke depan.