Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Jaga Alam Sunda: Kearifan Budaya atau Solusi Modern? (Jabar 2024)

Jabar · Oleh Nayla Putri · · Diperbarui 2 Maret 2026

Jaga alam Sunda: perpaduan kearifan lokal & solusi modern. Budayawan serukan pelestarian lingkungan lewat budaya di Ciamis. Pameran Sakakala tunjukkan jalannya!

Jaga Alam Sunda: Kearifan Budaya atau Solusi Modern? (Jabar 2024)

Menggali Kearifan Lokal Sunda: Melestarikan Alam Melalui Kebudayaan

CIAMIS – Budayawan dan sastrawan terkemuka menyerukan masyarakat Sunda di Jawa Barat untuk senantiasa melestarikan alam dan lingkungan hidup. Seruan ini menggarisbawahi pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai kebudayaan dalam upaya menjaga keberlangsungan alam semesta, memastikan kebaikan bagi seluruh makhluk hidup.

Ajakan ini disampaikan dalam Temu Wicara bertajuk "Menggali Kembali Kearifan Lokal Sunda Sebagai Solusi Krisis Lingkungan Global". Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Pameran Foto Sakakala yang diselenggarakan di Pendopo Situs Budaya Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis. Hadir sebagai pembicara utama antara lain Budayawan Budi Dalton, Sastrawan Bode Riswandi, dan Ketua Dewan Kebudayaan Ciamis Yat Rospita Brata.

Pentingnya Rutinitas Budaya dalam Pelestarian Alam

Budi Dalton menekankan bahwa nilai-nilai kebudayaan yang mengakar dalam masyarakat Sunda harus terus dilestarikan dan diwujudkan melalui kegiatan rutin. Menurutnya, hal ini krusial untuk menyelamatkan lingkungan. "Memang harus ada kegiatan rutin kebudayaan untuk menjaga suatu daerah itu," ujarnya.

Ia menambahkan, diperlukan kekuatan kolektif untuk menjaga pesan-pesan luhur dari nenek moyang. Tradisi dan ritual yang diselenggarakan secara berkala, baik tahunan maupun pada momen tertentu, merupakan bentuk rasa syukur sekaligus upaya nyata pelestarian alam. Ini mencakup pula pelestarian mitos-mitos lokal yang berfungsi sebagai pedoman hidup untuk menjaga lingkungan dari kerusakan. Mitos-mitos ini harus terus diceritakan agar generasi penerus memahami pentingnya menyelamatkan alam.

"Buatkanlah lagi hal-hal yang naratif, yang sifatnya ada ikatan kultural dengan masyarakat," tegas Budi Dalton, menyoroti kebutuhan untuk menciptakan narasi yang kuat dan mengikat secara budaya.

Alam dalam Naskah dan Kearifan Leluhur

Sastrawan Bode Riswandi memaparkan bahwa naskah-naskah kuno dan cerita rakyat selalu mengisahkan tentang alam yang harus dilindungi dan memberikan manfaat bagi manusia. Ia mengkritik golongan serakah – oligarki dan kapitalis – yang kerap mengabaikan prinsip ini. Bode juga menyoroti larangan atau pembatasan masuk hutan tanpa izin tetua adat, yang kerap disebut dalam berbagai cerita. Larangan ini bukan sekadar mitos kosong, melainkan kebijaksanaan leluhur yang dirancang untuk menjaga alam dan keselamatan manusia.

"Ketika masuk hutan larangan setapak saja, maka nafsu akan menguasai," ia mengingatkan, sebuah metafora tentang betapa mudahnya keserakahan merusak keseimbangan.

Bode menegaskan bahwa mitos merupakan bagian integral dari masyarakat Jawa Barat yang harus dijaga dan dilihat dari sudut pandang positif sebagai edukasi pelestarian alam. "Mitos itu dibuat, diciptakan supaya kita hidup seimbang dengan alam, maka dalam mitos itu ada peringatan," pungkasnya.

Menjaga Kelestarian Gunung dan Pencegahan Bencana

Senada dengan para pembicara lain, Ketua Dewan Kebudayaan Ciamis, Yat Rospita Brata, mengajak masyarakat, khususnya di Ciamis, untuk menjaga gunung agar tidak ditanami secara sembarangan, yang berpotensi memicu bencana alam. Ia membandingkan kondisi hutan di Ciamis yang relatif baik dengan daerah lain seperti Garut, di mana banyak lahan telah ditanami sayuran dan bahkan kopi, yang dinilai dapat berdampak buruk pada alam.

"Ditata dan dijaga gunung itu harus, kalau gunung sudah ditanami sayuran akan parah, sama kopi juga parah," ujarnya, memberikan peringatan keras tentang praktik pertanian yang tidak berkelanjutan.

Perwakilan penyelenggara, Riza Fahriza, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga alam melalui pendekatan kebudayaan dan kesenian. Ia menekankan bahwa isu lingkungan adalah tanggung jawab bersama semua elemen masyarakat, karena kerusakan alam dapat menimbulkan dampak fatal, seperti yang terjadi di Sumatera.

"Mudah-mudahan dari sini kita mengeluarkan virus bahwa di Sunda sudah mengajarkan dari orang tua kita, leluhur kita untuk menjaga lingkungan hingga menjadi menikmati bersama untuk masa depan generasi anak muda ke depan," harap Riza, menegaskan misi untuk menebar kesadaran pelestarian lingkungan.