Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

BMKG Catat Suhu Maksimum Bandung 32 Derajat Celsius Saat Kelembapan 55-80 Persen

Bandung · Oleh ·

BMKG mencatat suhu maksimum Bandung 32 derajat Celsius dengan kelembapan 55-80 persen. Pertumbuhan awan konvektif lokal jadi penyebab udara terasa panas dan lembap. Warga diminta waspadai dampak kemarau.

BMKG Catat Suhu Maksimum Bandung 32 Derajat Celsius Saat Kelembapan 55-80 Persen

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat temperatur maksimum Kota Bandung mencapai 32 derajat Celsius. Kelembapan udara berkisar 55 hingga 80 persen dalam dua hari terakhir. Kondisi ini membuat warga merasakan udara terasa panas dan lembap alias sumuk.

Pertumbuhan awan konvektif secara lokal menjadi penyebab utama udara panas yang menyelimuti Kota Bandung. Suhu udara minimum tercatat hangat di kisaran 21 hingga 22 derajat Celsius pada dua hari terakhir. Kombinasi inilah yang memicu cuaca tidak seperti biasanya.

"Terdapat pertumbuhan awan konvektif secara lokal, suhu udara minimum cukup hangat 2 hari terakhir pada kisaran 21-22 derajat Celsius, kelembapan udara cukup lembap 55-80 persen, sehingga kondisi udara terasa panas hingga lembap atau sumuk," kata Prakirawan BMKG Bandung Edy Wibowo, Minggu.

Baca Juga: Angkot Listrik Buatan Anak Bangsa Mulai Layani Rute Husein-Ledeng dengan Daya Tempuh 300 Kilometer

Bandung yang selama ini dikenal sebagai kota dengan udara sejuk kini menghadapi kenyataan berbeda. Warga merasakan panas bukan hanya siang hari, tapi juga pada pagi dan malam. Perubahan ini terasa cukup signifikan dibanding kondisi normal sebelumnya.

BMKG menyatakan kondisi ini dipengaruhi faktor lokal dan belum menandai peralihan musim. Dari pantauan yang dilakukan, Bandung belum masuk periode transisi menuju musim kemarau. Namun warga tetap diminta mempersiapkan diri menghadapi potensi dampak kemarau.

Instansi terkait diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penurunan ketersediaan air bersih dan kekeringan pada lahan pertanian. BMKG juga mengingatkan potensi peningkatan titik panas yang bisa memicu kebakaran hutan dan lahan.

"Masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menggunakan air bersih, menghindari aktivitas pembakaran sampah atau lahan secara sembarangan, serta menjaga kesehatan tubuh dari paparan debu dan suhu panas ekstrem,"imbaunya.