Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Ajip Rosidi Kritik Penamaan Badak Jawa sebagai Bentuk Marginalisasi Identitas Sunda

KBB · Oleh · · Diperbarui 24 Agustus 2026

Ajip Rosidi mengkritik penyebutan Badak Jawa dan Harimau Jawa sebagai bentuk marginalisasi identitas Sunda. Buku esainya menegaskan pentingnya nama dalam menjaga memori kolektif bangsa.

Ajip Rosidi Kritik Penamaan Badak Jawa sebagai Bentuk Marginalisasi Identitas Sunda

Pendahuluan: Nama yang Menyimpan Lapisan Sejarah

Dalam lanskap kebudayaan Nusantara, sebuah nama bukanlah sekadar label konvensional. Bagi mendiang sastrawan dan budayawan Ajip Rosidi, penamaan menyimpan refleksi mendalam tentang sejarah, manifestasi identitas, serta cara suatu peradaban dikenali oleh dunia luar.

Gagasan itulah yang menjadi benang merah utama dalam buku berjudul Badak Sunda dan Harimau Sunda Kegagalan Pelajaran Bahasa, sebuah kumpulan esai kritis yang diterbitkan pada tahun 2011. Melalui pembahasannya yang tajam, Ajip Rosidi mengajak pembaca untuk menyadari bahwa bahasa tidak pernah bersifat netral.

Baca Juga: Mantan PMI asal Jawa Tengah Buka Kedai Indonesia di Taipei, now Pekeria Puluhan Orang

Akar Permasalahan: Bahasa dan Politik Representasi

Pertanyaan fundamental yangdiajukan Ajip Rosidi dalam bukunya tampak sederhana namun paradoks: mengapa masyarakat kontemporer lebih akrab dengan istilah "Badak Jawa" daripada "Badak Sunda"?

Sebagaimana dikemukakan dalam berbagai literatur sejarah kebudayaan Nusantara, penamaan sebuah entitas selalu berkelindan erat dengan beberapa aspek fundamental:

Baca Juga: Ledakan Tabung Gas di Lapak Ayam Goreng Padalarang Lukai Empat Orang

Seperti yang dituliskan Ajip Rosidi, perubahan tersebut bukanlah sekadar dinamika linguistik biasa, melainkan cerminan dari bagaimana posisi sebuah identitas kebudayaan sedang dinegosiasikan dalam ruang kebangsaan Indonesia.

Analogi Satwa Langka: Badak dan Harimau Sunda

Inti dari kritik kebudayaan ini berangkat dari penamaan taksonomi satwa langka. Dua spesies yang menjadi fokus utama dalam esainya adalah:

Badak bercula satu yang memiliki nama ilmiah Rhinoceros sondaicus, serta subspesies harimau yang dahulu mendiami wilayah barat Pulau Jawa dengan nama Panthera tigris sondaica.

Dalam sistem klasifikasi internasional yang merujuk pada wilayah biogeografi Paparan Sunda, unsur sondaicus dan sundaica secara eksplisit menegaskan identitas geografis serta historis tatar Sunda.

Kegelisahan Ajip Rosidi memuncak ketika melihat kenyataan bahwa dalam penerjemahan serta penggunaan bahasa Indonesia praktis, kedua satwa eksotis tersebut justru populer dengan sebutan Badak Jawa dan Harimau Jawa. Penulis melihat fenomena ini sebagai bentuk marginalisasi bahasa yang sistematis.

Marginalisasi Identitas dalam Komunikasi Publik

Menurut analisis yang dikembangkan dalam buku tersebut, penamaan populer yang menggeser unsur "Sunda" menuju "Jawa" memiliki konsekuensi lebih luas daripada sekadar pilihan kata. Beberapa implikasinya meliputi:

Dalam pandangannya, ketidaksesuaian antara nama ilmiah internasional dan nama populer domestik merupakan bentuk ketidakjujuran ilmiah yang perlu mendapat perhatian serius.

Metodologi Penulisan yang Reflektif

Ciri khas karya nonfiksi Ajip Rosidi terlihat jelas dalam buku ini. Beliau tidak berupaya menyajikan teori akademik yang rumit atau metodologi penelitian yang kaku. Sebaliknya, narasi disusun dalam bentuk esai reflektif yang lahir dari pengamatan empiris puluhan tahun terhadap dinamika kebahasaan dan pergeseran nilai kebudayaan Indonesia.

Gaya penulisannya sengaja dibuat lugas, argumentatif, serta sesekali diselipi nada satir yang tajam. Tujuannya jelas: mengusik kemapanan berpikir masyarakat yang selama ini menganggap sepele perkara penamaan.

Alih-alih memberikan konklusi mutlak yang dogmatis, Ajip Rosidi lebih memilih untuk mengajukan serangkaian pertanyaan retoris yang menggugah kesadaran.

Perspektif Kritis dan Proporsional

Kendati demikian, para pembaca dan peneliti kontemporer perlu bersikap proporsional dalam membedah pemikiran sang budayawan. Berbagai kajian sosiolinguistik menunjukkan bahwa perubahan atau penyederhanaan istilah dalam komunikasi massa sering kali dipengaruhi oleh faktor:

Karena itulah, esai ini sebaiknya dipandang sebagai pemantik diskusi kebudayaan yang dinamis, bukan sebagai dokumen hukum yang bersifat final. Kritik yang konstruktif membutuhkan ruang dialog terbuka tanpa penolakan absolut.

Relevansi Pemikiran bagi Masa Depan Keberagaman

Sebagai sebuah refleksi kebudayaan yang mendalam, karya ini menegaskan kembali komitmen seumur hidup Ajip Rosidi dalam mengawal kelestarian bahasa dan kebudayaan daerah.

Melalui analogi badak dan harimau tersebut, beliau memberikan peringatan penting:

Menjaga identitas suatu bangsa tidak boleh berhenti pada seremonial kesenian tradisional semata, melainkan harus diintegrasikan ke dalam penggunaan istilah-istilah yang membentuk memori kolektif bangsa.

Menghilangkan atau mempertahankan sebuah nama pada akhirnya akan menentukan apakah sejarah masa lalu suatu peradaban akan tetap hidup atau perlahan lenyap dari ingatan generasi penerus.

Penutup: Gugatan Ideologis dalam Perkara Bahasa

Melalui untaian kalimat yang tajam namun penuh perenungan, Ajip Rosidi berhasil membuktikan bahwa perkara kebahasaan yang tampak sederhana sesungguhnya menyimpan gugatan ideologis yang sangat mendasar bagi masa depan keberagaman budaya di Indonesia.

Buku ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap nama yang digunakan sehari-hari, tersimpan keputusan politik, budaya, dan historis yang memerlukan kesadaran kritis untuk dipahami dan dipertahankan.