Beton Berpori dan Semen Rendah Emisi Mulai Diserap Proyek Infrastruktur Bandung
Beton berpori dan semen rendah emisi mulai diadopsi proyek infrastruktur Bandung untuk menjawab genangan air dan mendukung target pengurangan karbon nasional.

Di tengah pembangunan infrastruktur yang tak pernah berhenti di Bandung, satu hal mulai mendapat perhatian lebih dari biasa. Material bangunan seperti beton dan semen kini diposisikan sebagai salah satu pengungkit utama pengurangan emisi karbon, bukan lagi sekadar penyusun gedung atau jalan.
Pergeseran ini terasa nyata dalam Indonesia Green Building Festival 2026 yang diselenggarakan di Institut Teknologi Bandung, kemarin. Forum tersebut mempertemukan pelaku industri, akademisi, regulator, dan praktisi konstruksi untuk membahas bagaimana kebutuhan pembangunan bisa dipenuhi tanpa mengorbankan target keberlanjutan.
Menurut Ignesjz Kemalawarta, Ketua Green Building Council Indonesia, kontribusi material konstruksi terhadap jejak karbon pembangunan sangat besar karena penggunaannya berskala masif.
Baca Juga: Persija Versus Persib Digelar, Fans Bandung Menanti Kepastian Stadion dari Penyelenggara
"Penggunaan material konstruksi seperti beton memiliki skala yang sangat besar dalam pembangunan. Karena itu, inovasi untuk menurunkan emisi karbon dari material bangunan akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam mempercepat terwujudnya pembangunan rendah karbon di Indonesia," kata Ignesjz.
Salah satu tantangan nyata bagi kota-kota besar seperti Bandung adalah genangan air saat hujan deras. Berkurangnya daya resap tanah akibat semakin sedikitnya ruang terbuka hijau mendorong industri konstruksi untuk menjawab masalah ini lewat material yang lebih adaptif.
PT Solusi Bangun Indonesia, salah satu produsen semen nasional, mengembangkan beton berpori yang memungkinkan air meresap kembali ke tanah. Produk ini sudah mulai diadopsi dalam proyek-proyek di kawasan perkotaan.
Baca Juga: Bobotoh Dilarang ke GBK, Umuh Muchtar Gagas Nobar di Setiap Markas Polisi se-Jabar
"Kami terus mendorong inovasi yang tidak hanya berorientasi pada kualitas dan performa sesuai kebutuhan konstruksi, tetapi juga memberikan nilai tambah pada fungsi bagi penggunanya," kata Rizki Kresno Edhie Hambali, Direktur Utama PT Solusi Bangun Indonesia.
Selain beton berpori, perusahaan juga menghadirkan beton cepat kering yang dirancang untuk mempercepat perbaikan jalan sehingga gangguan terhadap mobilitas masyarakat bisa diminimalkan.
Rizki menjelaskan bahwa kebutuhan pembangunan akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi. Pertanyaannya adalah apakah pembangunan tersebut bisa memberikan dampak lingkungan yang lebih kecil.
"Prinsip keberlanjutan perlu diterapkan secara menyeluruh mulai dari desain, pemilihan material, proses konstruksi hingga operasional bangunan," katanya.
Industri semen sendiri selama ini menyumbang bagian signifikan dari emisi karbon global karena proses produksinya yang membutuhkan panas tinggi. Langkah seperti pemanfaatan bahan bakar alternatif dan energi terbarukan dalam proses produksi mulai diterapkan untuk menurunkan angka ini.
Di tingkat nasional, Indonesia menargetkan pencapaian Net Zero Emission pada 2060. Agar target itu realistis, perubahan di sektor konstruksi menjadi salah satu langkah yang tidak bisa diabaikan lagi. Setiap proyek pembangunan, mulai dari gedung perkantoran hingga fasilitas publik, kini dituntut menggunakan material yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.